Palsu

Ia rapuh
Iya, dia begitu rapuh.
Menjalani hari-harinya dengan senyum palsu, pun canda yang ia keluarkan adalah benih kepalsuan.
Mungkin juga, kau bahkan tak pernah melihatnya tersenyum.
Iya, senyumnya begitu susah ia ekspresikan.

Terlalu banyak kepalsuan di dunia ini.
Dia pun pernah begitu bahagia dengan kepalsuan itu.
Pun ia juga pernah meratap sedih dengan kepalsuan itu.
Hingga tiba masanya.. Di mana ia tak lagi peduli

Dia tak lagi tau berekspresi.
Hanya ada tatapan datar dan senyum sinis yang ia ketahui.
Iya itu adalah dia.
Dia yang memilih diam dan menonton panggung kepalsuan di balik tatapan datarnya.