Agora; Tragedi Pembungkaman Perempuan

Agora, menyimpan cerita tragis masa lampau pada pemerintahan Roma di Mesir (Alexandria), terutama menyangkut eksistensi perempuan. Agora, umumnya dikenal sebagai pasar atau pusat pertemuan terbuka bagi masyarakat dan pemerintah melangsungkan berbagai macam kegiatan misalnya musyawarah. Dalam kisah ini terdapat nama Hipatia, seorang perempuan yang lahir antara tahun 350 – 370 dan meninggal pada bulan Maret 415 Masehi. Sejarah menyaksikan kematian Hipatia martir ditengah sistem patriarkisme.

Pada 2009 lalu, sutradara Alejandro Amenabar mengangkat kisah ini ke layar lebar, film tersebut tampil dalam tema Agora yang secara umum mengurai patriarki yang membungkam berbagai bentuk kemerdekaan perempuan. Bagaimana agama dijadikan legitimasi untuk menundukkan perbedaan pandangan dan keyakinan, bagaimana seorang perempuan ditengah patriarkisme ingin melawan fundamentalisme beragama dan kekolotan berpikir secara filosofi, tetapi harus menemui kematiannya dengan sangat tragis.

Hipatia sebagaimana dirangkum Wikipedia; adalah seorang filsuf, astronom, dan juga matematikawan Helenistik yang tinggal di kota Aleksandria, Mesir pada zaman Kekaisaran Romawi. Ia merupakan tokoh neoplatonisme di Aleksandria, dan di kota tersebut ia mengajarkan ilmu filsafat dan astronomi. Ia adalah matematikawan wanita pertama dengan keterangan sejarah yang cukup mudah untuk ditemui. Hipatia dikenal pada masanya sebagai seorang guru besar dan penasihat yang bijak. Ia bahkan pernah menulis sebuah tafsir untuk Aritmetika karya Diofantos yang terdiri dari tiga belas jilid, dan tafsir ini telah disisipkan ke dalam naskah aslinya. Ia juga pernah membuat tafsir untuk risalah Apolonios dari Perga mengenai irisan kerucut, tetapi tafsir ini sudah hilang ditelan zaman. Banyak ahli modern yang meyakini bahwa Hipatia mungkin pernah menyunting naskah Almagest karya Ptolemaios berdasarkan judul tafsir buatan ayahnya, Theon, untuk Buku III Almagest.

Sebagai perempuan yang mampu eksis di tengah sistem patriarki, menunjukkan Hipatia adalah sosok yang sangat luar biasa. Keberhasilan dalam membangun independensi sejak dalam pikiran sampai tindakan di tengah tantangan hidup dari berbagai arah, menjadi bukti tradisi pengetahuan begitu fundamental dalam dirinya. Bahkan akhir hidupnya yang martir menjadi pilihan paling sadar tatkala diperhadapkan situasi kolot dan hipokrit yang dianut secara kolektif oleh masyarakat. Sisi lain yang ditampilkan Hipatia adalah kesadaran penuh akan pentingnya menjunjung tinggi belajar dan mengajar. Sehari-hari waktunya lebih banyak diisi aktivitas keilmuan sehingga bahkan menolak beberapa kali tawaran pernikahan yang datang menghampirinya. Bukan karena menolak substansi pernikahan, tetapi pertimbangan lain seperti keinginan mewujudkan kedudukan perempuan sebagai manusia seutuhnya dan kecintaan terhadap tradisi pengetahuan itu sendiri.

Berkat tradisi belajar mengajar yang dihidupkan Hipatia, melahirkan banyak murid yang dalam kisahnya mengambil peran-peran kedudukan dalam pemerintahan, meski harus berhadapan dengan dominasi keagamaan yang cenderung bertolak belakang secara pemikiran dan keyakinan. Sedikit berbeda yang ditampilkan dalam film Agora bahwa murid-murid Hipatia pada akhirnya hilang satu per satu, dalam perspektif lain tradisi pemikiran Hipatia justru terus berlanjut terutama peran perempuan dalam perkembangan filsafat. Sebagaimana diketahui, filsafat dalam sejarahnya hanya identik dengan laki-laki dan rasional, sebaliknya perempuan adalah non-rasional bahkan secara keberadaan adalah stengah manusia. Sebagian beranggapan bahwa ketidakhadiran perempuan dalam tradisi pemikiran bukan karena kebodohan perempuan tetapi ruang yang sengaja didominasi atau bahkan data tentang keberadaan pemikir perempuan sengaja dihilangkan dari catatan sejarah oleh pihak-pihak tertentu. 

Agora, tidak hanya membincang Hipatia, pada masa itu marak konflik antar kelompok beragama yang kemudian mempengaruhi berbagai urusan seperti sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Narasi-narasi keagamaan tidak sedikit digunakan sebagai legitimasi atas kepentingan politik tertentu, kepercayaan atau agama tertentu, misalnya pada akhir abad ke-4, dimana Kristen di Alexandria berhasil diterima masyarakat luas terutama kaum papa dan budak. Doktrin cinta kasih dan kesetaraan yang esensial dalam agama Kristen rupanya menarik hati masyarakat kelas bawah, dibanding Pagan dan Yahudi yang juga ada pada masa itu. Tetapi kemudian muncul paradoks dalam ajaran kasih yang ditampilkan, yaitu angkuh, kesewenang-wenangan, yang berujung anarkis tatkala keinginan tidak terpenuhi. Secara konsep adalah cinta kasih tetapi pada perwujudannya mementingkan hawa nafsu belaka. Barangkali inilah cikal bakal kecenderungan penganut agama hari ini yang juga sarat mempertontonkan intoleransi, bukan hanya dalam relasi beragama tetapi hampir dalam seluruh bentuk relasi.

Hipatia ketika tampil mengkritik dominasi yang melanggar hak-hak dan kemerdekaan manusia, mengusung solidaritas antar penganut beragama, mengecam berbagai tindak dominasi dan kekerasan, justru mendapat respon perlawanan, bahkan paksaan untuk segera meninggalkan keyakinan Pagan dan tunduk pada keyakinan gereka. Tentu saja Hipatia dengan identitas keilmuan yang dimiliki menolak perlakuan demikian dan teguh pada pendirian keyakinannya, meski gereja telah mengancam akan menghukum dan membunuhnya.

Sebagai seorang Pagan, Hipatia justru menampilkan sikap toleransi terhadap orang-orang Kristen, salah satunya dengan cara menerima banyak murid Kristen, termasuk Sinesios yang suatu saat menjadi Uskup Ptolemais. Tindakan demikian membuat Hipatia disenangi kalangan pagan maupun Kristen, hingga menorehkan tidak sedikit pengaruh di kalangan elit politik Aleksandria. Dengan pengaruh yang ada, rupanya menjadi ancaman tersendiri bagi para petinggi gereja dan menjadi alasan bagi mereka segera menghukum Hipatia. Untuk melancarkan tujuan mereka, identitas Hipatia sebagai seorang Pagan, neoplatonis, astronom yang Heliosentris, dan juga aktif mempertanyakan keimanan agama-agama formal, sengaja dimanipulasi dengan berbagai cara agar menyimpang dan wajar untuk dibunuh. Pada akhirnya Hipatia terbunuh dengan cara dirajam dan mutilasi melalui gerombolan Kristen yang dipimpin oleh seorang lektor bernama Petros.

Kematian Hipatia mengguncang kekaisaran dan mengubah identitasnya menjadi seorang martir bagi filsafat. Apa yang dilakukan Hipatia terutama dalam pemikiran dan independensi tindakannya mempengaruhi tokoh-tokoh neoplatonis sesudahnya, seperti Damaskios yang tampil mengkritik lebih ganas agama Kristen. Hipatia pada Abad Pertengahan menjadi simbol kebajikan Kristen, dimana ketika itu Kristen sudah mulai membuka diri dari kritikan-kritikan, atas doktrin jumud yang sekian lama baku. Para ahli juga meyakini bahwa Hipatia menjadi landasan legenda Santa Katarina dari Aleksandria. Sedangkan di Abad Pencerahan sebagaimana dirangkum Wikipedia, Hipatia menjadi simbol perlawanan terhadap agama Katolik, dan di abad ke-19, karya-karya sastra Eropa, khususnya novel Hypatia karya Charles Kingsley dari tahun 1853, meromantisasi Hipatia sebagai tokoh Helen terakhir. Dan terakhir di abad ke-20, Hipatia menjadi simbol dalam pergerakan hak-hak perempuan.