Lelaki dan Kematian

Rintihan hujan menerpa wajahku. Hangat. Perlahan mataku menatap langit. Kelam. Aku terbuai oleh tidur yang berkepanjangan, dibangunkan oleh rinainya hujan. Tubuh beranjak. Tanganku meraih karung lusuh yang menjadi alas tidur semalam. Lalu kakiku mulai melangkah. Menelusuri kehidupan. Memulung.

Memulung sampah plastik. Membawanya ke tempat pengepul. Ditimbang. Lalu menerima upah. Aku melakukan pekerjaan ini selama dua tahun terakhir. Saat usahaku bangkrut, istri meninggalkanku. Ia pun membawa serta anakku satu satunya. Selama dua tahun ini tidak ada kabar. Pekerjaan memulung ini pun aku lakukan karena tidak mau mengemis. Bagiku pekerjaan ini termasuk mulia. Membersihkan sampah plastik dari orang orang yang tidak bertanggung jawab. Tak jarang aku melihat, menemukan beberapa orang membuang sampahnya begitu saja. Entah itu bungkusan makanan atau minuman. Bahkan tempat sampah pun berdiri mematung, bisu. Aku justru membayangkan tempat sampah itu menangis.

Terlalu banyak pikiran yang menjarah otakku. Selama dua tahun ini, sejak menjadi pemulung. Isi otakku hanya ada sampah, sampah, dan sampah. Sama seperti saat usahaku belum bangkrut, isi otakku hanyalah sampah. Namun kali ini sampahnya berbeda.

Masih seperti hari-hari kemarin. Berjalan menelusuri jalan raya, jalan setapak, gang, bahkan tempat tempat yang banyak sampahnya. Saat berjalan di bawah terik matahari yang begitu dendamnya pada diriku, memanggang tubuhku yang mulai terkoyak, aku melihat sosok tubuh tergeletak di tumpukan sampah. Aku mendekat. Mengecek nafasnya. Masih ada. Sosok lelaki yang kira-kira berusia enam puluhan tahun. Lemah. Tak sadarkan diri. Aku mencoba mencari pertolongan daerah sekitar. Namun sepertinya semuanya sibuk dengan waktunya. Seolah lelaki tua ini hanyalah sampah. Siapa dia? Mengapa ia berada di sini. Ataukah ia seorang lelaki tua yang terbuang. Lelaki yang renta. Aku mengira ribuan kenangan telah ia rajut semasa hidupnya. Perlahan aku memandang wajahnya. Kerutan yang membisu. Kelopak mata yang mengekang. Jemari yang tak bergerak. Aku mencoba menggendong tubuh ringkih itu. Membawa ke gubuknya. Berat. Sepertinya kesedihannya yang memberatkan tubuhnya.

Tubuh yang kering ini kubaringkan di atas dipan. Ia pun tak jua sadar hingga malam hadir. Mataku pun mulai lelah. Rasa kantuk yang begitu menyiksa. Saat otakku mulai menepis perihal sampah, lelaki tua itu langsung berteriak. Aku kaget. Matanya melotot. Nafas tersengal. Aku hanya duduk menatapnya. Menunggu hingga ia berbicara, mengatakan sesuatu entah apa. Sejam berlalu. Hening. Aku masih menunggu. Dua jam berlalu. Tiga jam berlalu. Pagi pun mulai masuk melalui celah anyaman bambu. Tak ada suara. Kami hanya saling menatap. Aku sangat yakin, di dalam otak lelaki tua ini tidak ada sampah sama sekali. Melainkan kotoran.

Hari ini memulung tidak aku lakukan. Aku lebih tertarik pada lelaki tua yang isi otaknya hanyalah kotoran. Aku bahkan tidak menjamunya dengan makanan atau minuman. Karena ia tidak menjamuku dengan kata-kata.

Hari semakin berlalu. Lelaki tua itu tak jua mengatakan sesuatu. Aku mulai bosan. Jengkel. Ingin rasanya memasukkan sampah plastik ke dalam mulutnya yang terus menganga tak karuan. Lalu timbul keinginanku untuk mengembalikannya ke tempatnya semula. Mungkin esok. Subuh. Saat kebanyakan orang terlelap, pagi masih panjang. Tubuh keringnya akan aku masukkan ke dalam karung. Mengikatnya. Bukankah ia adalah kotoran.

Suara tangis membangunkan ku tengah malam. Aku mencari asal suara itu. Ternyata suara tangis lelaki tua itu. Ia menangis. Akhirnya ia bersuara walau hanya suara tangisan. Sungguh melelahkan mendengar tangisnya. Aku mulai duduk di hadapannya. Menatap tangisannya. Bulir-bulir air matanya tumpah ruah. Membasahi tubuhnya yang renta. Sesekali tangannya mengusap air matanya. Mengusap kesedihannya yang membuncah. Aku tertegun. Mengingat sosok Bapak. Sosok yang kedua tangannya membesarkanku. Mengais hidup di jalanan. Sosok yang menyuap mulutku dengan sampah plastik. Memaksaku memakannya.

“Siapa kamu?”

Suara itu membuyarkan lamunanku. Suara yang serak. Suara yang aku tunggu beberapa hari kemarin .

“Aku Sibah. Namaku Sibah. Aku yang menemukan Bapak di tumpukan sampah beberapa hari yang lalu”.

“Dimana anakku?”.

“Aku tidak tahu. Aku hanya menemukan Bapak seorang diri”.

“Aku ingat, anakku ingin membawaku piknik ke pantai. Lalu kami pun berangkat. Di dalam mobil kami berbincang banyak hal. Lalu aku meminum minuman kemasan yang diberikan anakku. Setelahnya aku tidak tahu lagi”.

Aku mengira, Bapak ini dibodohi oleh anaknya. Ia dibuang di tempat sampah. Karena menurut anaknya mungkin, Si Bapak ini adalah sampah. Seandainya si Bapak adalah emas, si anak pasti menjualnya. Bapak yang bodoh, tidak mengajarkan anaknya memakan sampah kemasan. Kalau ia memakannya waktu itu, pasti ia masih sadarkan diri. Tidak jadi dibuang. Seperti kata Bapakku, makanlah sampah kemasan itu, kau akan tetap dalam keadaan sadar sehingga tidak ada yang terlewatkan.

“Bapak tinggal dimana? Nanti diantar pulang”.

“Saya tinggal di sebuah rumah besar. Ada anak, menantu, cucu, pembantu. Saya masih ingat”.

“Baiklah. Kita akan ke rumah itu sore nanti”.

“Tidak usah, Nak”.

“Kenapa?”.

“Biarkan yang membuangku memunguti kembali. Biarkan ia menyadari, apakah yang ia buang itu telah berada di tempat yang semestinya”.

Aku terdiam. Perlahan kata-kata lelaki tua ini menusuk telingaku. Sama seperti istriku yang tega membuangku dua tahun yang lalu. Hingga hari ini ia tak kembali memunguti. Mungkin istriku berpikir kalau aku ini memang pantas dibuang.

Lima tahun berlalu sejak lelaki tua itu tinggal bersamaku. Ia juga memulung sama sepertiku. Berulang kali aku mengingatkan agar ia tinggal di gubuk saja. Namun tetap saja memulung. Tak banyak yang aku ketahui tentang hidupnya. Namun aku yakin begitu banyak yang ia ingin katakan. Ia masih saja menunggu anaknya. Tubuh rentanya tak bisa dipungkiri, menua. Semakin menua. Matanya tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Aku tahu itu. Aku berpikir jika usia lanjutnya itu kelak dihentikan oleh waktu secara tiba-tiba dan anaknya tak jua datang, ataukah aku yang akan menyusul bapakku.

Entah berapa tahun lagi lelaki tua itu harus menunggu. Air matanya pun tak lagi membasahi kedua matanya. Semuanya mengendap bersama kenangan. Tubuh rentanya tak kuat lagi menanggung penantian. Sesekali aku mengintipnya di balik lubang anyaman bambu dinding gubukku, bagaimana ia melipat semua kenangan hidupnya bersama sang istri yang telah pergi dari dunia ini. Kenangan yang membuatnya hidup namun dikalahkan oleh waktu. Tak terasa air mataku menetes menyaksikan semua itu. Tidak ada lagi sampah di dalam otakku. Tidak ada istri, yang ada hanyalah lelaki tua itu. Aku tidak sanggup lagi melihat ia menangis kesakitan bukan karena tubuhnya digerogoti penyakit tapi perihnya melupakan kenangan. Saat aku menikmati kesedihanku, perlahan. Lelaki tua itu membaringkan tubuhnya di atas dipan yang tak beralas. Tubuh rentanya pun tak memakai baju. Hanya sebuah sarung yang ia pakai, pemberianku sejak ia tinggal bersamaku. Air matanya tak lagi tumpah ruah. Aku melihat ia bercengkerama dengan bayangannya sendiri. Bahagia. Senyum. Lalu ia tertidur. Selamanya.

Aku berlari menembus malam. Berteriak menembus beberapa dimensi waktu. Aku melihat lelaki tua itu menjemput kematiannya. Lelaki tua yang menunggu anaknya datang memungutnya kembali dari tumpukan sampah. Aku nelangsa. Berbaring di atas tumpukan sampah tempat pertama kali aku melihat tubuh lelaki tua itu. Aku menatap langit. Berharap percikan kembang api warna warni mewarnai malam ini. Bersama sahutan terompet. Menurutku tidak mesti menunggu jutaan manusia membunyikannya pada malam tertentu. Aku sendiri menyaksikan terompet kematian malam ini.

“Dek, bangun”.

Aku membuka mata. Perlahan. Sosok perempuan berdiri di hadapanku. Sepertinya seusia denganku.

“Ada apa Bu?”.

Ia pun menyodorkan selembar foto kepadaku. Ia mencari sosok Bapak tua yang ada di foto itu. Melihat foto itu ada yang menusuk mataku. Perih. Dialah sosok lelaki tua yang menjemput kematiannya semalam. Aku yakin wanita ini adalah anak yang ditunggu bertahun lamanya.

Hatiku begitu gembira. Akhirnya anak yang ditunggu datang. Penantian lelaki tua itu terwujud walau kenyataan ia telah tiada.

Aku lalu mengajak wanita itu ke gubuk. Rasa bahagia bercampur sedih di benakku. Saat sampai di gubuk, begitu terperanjatnya aku melihat lelaki tua yang berbaring di atas dipan semalam telah berubah menjadi emas. Lalu wanita itu mendekatinya. Otak si Lelaki tua diambil dan dimasukkan ke dalam tas yang ia bawa.

“Mestinya saya tidak membuangmu di tempat sampah waktu itu melainkan di comberan”.

Aku mendengar wanita itu berkata demikian. Mataku memerah. Otakku penuh sampah. Lalu aku mengikat wanita itu lalu memaksanya memakan sampah plastik. Menunggu ribuan terompet berbunyi esok malam menjemput kematian.

Parangtambung, Desember 2019

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]