Kepada July (Esensi Cantik)

Aku bahkan tidak ingat bagaiamana aku menghabiskan Julymu. Aku memiliki banyak orang di sampingku. Teman yang terlalu banyak rupanya, orang tua yang padanya semua aku lakukan, dan kekasih-kekasih yang katanya menyukaiku. Agh… ngomong-ngomong tentang kekasih, apa kabar para lelaki itu? Aku belajar untuk tidak percaya apa-apa, menaruh kepercayaan itu sulit. Kamu tidak akan tahu kapan manusia-manusia itu akan menikammu dengan kejam.

July, tahun depan tunggu aku, melewatkanmu adalah hal yang melelahkan, Semoga di masa itu aku bukan lagi gembel yang lupa mengurus dirinya dan bahkan tubuhnya. Seorang gembel yang kekasihnya pun enggan untuk mengakuinya. Mereka mengatakan tubuhku bau sampah, sampai kekasihku memilih perempuan yang bermandikan parfum, jarak 5 meter baunya masih menyengat. Pasti mahal dan bermerek.

July, wajahku kasar sekasar parut karena jerawat, ya tentu saja karena tidak pernah dibersihkan dengan pembersih wajah yang banyak berjejeran di etalase toko dan mall-mall besar, dan lagi kekasihku memilih perempuan yang mirip boneka Barbie, halus, licin dan montok.

July, rambutku lebih mirip sapu ijuk dan sarang burung seperti kekasihku memberinya nama, tak pernah disentuhnya karena katanya terlalu kasar menyentuh tangannya. Dan benar saja lagi-lagi dia memilih perempuan yang rambutnya terjuntai turun, lurus dan lembut.

July, 3 bulan yang lalu usiaku cukup 25 tahun itu yang sebenarnya tapi seperti perempuan-perempuan 30 tahunan kata kawan kekasihku. Terlalu banyak berpikir dan melakukan banyak hal tanpa menyadari raut wajah yang mengerut lebih cepat dari masanya, tidak ada alasan lain untuk kekasihku tidak memilih perempuan muda, ABG, dan masih segar. Sepertinya, ahh bukan lagi sepertinya, semua yang indah di pandangan orang tidak ada pada diriku. Kadang aku ingin seperti mereka. Perempuan-perempuan seperti mereka, sibuk bersolek, berdandan, mempercantik diri, ahhh.. tak usah aku melakukan itu, aku sudah memiliki esensi cantik-cantik itu. Lagipula aku tidak tertarik menjadi perempuan cantik, apa menyenangkannya? Terlahir jelek tidak ada ruginya juga. Aku tidak harus menahan gerimis, akibat kepalsuan. Anehnya aku tidak tahu apa yang ada di pikiran para lelaki itu ketika menyatakan suka padaku. Vero, Daniel, Parta, Bejo, semuanya mengatakan hal yang sama “Aku Menyukaimu” Tentu saja bukan yang sebenarnya, hari ini mereka mengatakan suka besoknya aku tidak tahu pada ketiak perempuan mana lagi mereka akan meringkuk manja.

July, selain bertemu dengan banyak laki-laki. Akupun cukup banyak bertemu dengan perempuan. Bukankah kau cukup tahu aku dengan baik? Angela, Siti, Fatimah, Tuti, Bella mereka semua adalah teman yang baik. Kadang-kadang mereka menemuiku dengan raut muka yang berbeda. Marah, tertawa dan menangis.

Ada yang berselop tinggi, sampai kepada yang tidak beralas kaki sekalipun. Dalam banyak tempat. Ada yang kutemui menangis sesugukan di pojok, sampai yang banyak berjejer di pinggir jalan. Entah menunggu siapa? Ada yang tanpa lelah menunggu, memiliki harapan besar meskipun pada akhirnya dia tak tahu kemungkinan apa yang akan menyapanya. Ada juga yang tak mempercayai apa-apa dan tidak melakukan apa-apa, dan ada lagi yang menciptakan dunia baru untuk dirinya memberi warna sesuka hati dan mengabaikan segala hal yang menurutnya tak cukup penting.

***

Suatu hari si Angela datang menemuiku dengan senyum sumringah.

“Hey jelek, apa kabarmu? Kamu masih menulis?? Sapanya.

Kata Paulo ada beberapa situasi dalam hidup yang benar-benar sendiri dan hidup yang penuh kebisingan dengan hirup pikuk orang di sekeliling kita. Kedua situasi ini dalam rentang waktu 24 tahun selalu menemani, layaknya pembokap yang 24 jam setia pada majikannya. Namun yang paling mengerikan adalah situasi di mana betul-betul orang merasa sendiri. Mungkin itulah yang dirasakan Angela, dia selalu datang dengan cerita yang berbeda.

“Aku sudah meninggalkan Aldo” tuturnya.

“terus??” mataku masih setia menatap monitor.

“terus ya terusss kamu pasti tahulah apa yang terjadi”.

“Memangnya apa yang terjadi?” Sedikitpun aku tak menoleh untuk melihat raut wajahnya, tanganku masih lincah menari di atas tuts keyboard, lagipula aku sudah hafal betul raut mukanya tak perlu memastikannya lagi.

“Kau membuatku seperti orang bodoh saja Jelek, si Aldo sudah good bye. Sekarang aku lagi bersama Dony” Ujarnya sambil berlalu. Aku memijit kepalaku yang tidak sakit, melakukan hal yang sama, seperti apa yang biasanya Aldo lakukan padamu adalah ide yang cukup buruk Angela, membuktikan bahwa kau tidak ada bedanya dengan mereka, sama jahatnya, sama piciknya. Jangan bilang karena isu gender, aghhh.. benar-benar saya akan menjadi gila. Jika si Aldo tidur dengan banyak perempuan maka kaupun akan tidur dengan banyak laki-laki? Membiarkan ribuan sperma menghujani tubuhmu, tanpa kau tahu sperma siapa yang akan tumbuh menjadi daging di dalam tubuhmu. Ibumu akan menangis sejadi-jadinya. Tentu saja ini tidak kukatakan padanya, hanya kudialogkan dengan diriku saja.

***

Hari berikutnya, Aku sedang menikmati segelas kopi hitam ketika Siti datang menghampiriku, matanya sembab.

“Kalau tahu seperti ini aku lebih memilih terlahir buruk, Jelek. Mereka datang menawar untuk menjadikanku istri, dan bodohnya ibuku malah menawarkan harga paling tinggi. Aku merasa di lelang, ketimbang dicarikan seorang pendamping hidup”.

Aku belum sempat bertanya, ketika dia menuntaskan kalimatnya dengan tergesa-gesa, ludahnya muncrat sana-sini. Aku jadi tidak bergairah menyesap tegukan terakhir pada kopiku.

“Bagaimana bisa perempuan sepertimu yang dibesarkan dengan tata krama dan adab sangat jorok, lap dulu ludahmu”.

“Maafkan aku”.

“Memangnya apa yang ingin kau lakukan? Tanpa memilih pun hal itu tetap akan menjadi pilihan. Apakah kau berani menentang Ibumu? Dia Menggeleng pasrah, aku… aku hanya tidak bisa membayangkan seranjang dengan orang asing.

“Pulanglah terima takdirmu”

31 Juli, 2019
July, besok adalah Agustus, bulan kemerdekaan dalam sejarah. Semoga saja perempuan-perempuan yang kutemui mampu memerdekakan hatinya dari rumitnya isi kepala mereka. Mari memilih akhir yang baik. Selamat tinggal July. Aku bahagia dengan begini, kau melihatnya bukan?

Palopo, 30 Juli 2019