Karya Sastra yang Adaptif dan Tantangan Era Postmillenial

Karya Mewakili Zaman
Wacana selalu berubah bergantung orientasi dan perkembangannya. Seperti perubahan isu yang selalu dinamis. Misalnya dalam bidang sosial, sastra, politik, budaya dan adat istiadat. Hal ini pun memicu penciptaan berbagai macam pemikiran yang terus lahir ataupun sebuah kritik terhadap perubahan kehidupan yang terjadi. Terutama dalam bidang sastra. Pada awalnya bermunculan pengarang laki-laki yang mendominasi.

Persoalan munculnya pengarang perempuan atas dominasi pengarang laki-laki sebagai manusia yang termarjinalkan, tidak layak menempuh pendidikan yang tinggi. Misalnya pada novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli (1922). Dalam novel ini tokoh Samsul Bahri dilukiskan sebagai tokoh yang terpelajar, mempunyai pendidikan yang tinggi. Sedangkan dalam novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar (1927) kesadaran emansipasi perempuan dan laki-laki mulai ada.

Perkembangan kesusastraan serta periodesasinya berdasarkan konstelasi waktu pada masa itu selalu mengalami perubahan yang dinamis. Mulai dari angkatan Pujangga lama, Balai Pustaka, Pujangga Baru, 45, 50-60 an, dan 66. Pada tahun 2000-an banyak bermunculan pengarang wanita yang karya karyanya merupakan fenomena menarik bagi perkembangan dunia sastra Indonesia. Seperti novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu, novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Walau sebenarnya pengarang wanita muncul pertama kali pada dekade 1930-an. Saat Novel Kalau tak Untung karya Selasih1933 dan novel Kehilangan Mestika karya Hamidah (Fatimah H Delais) 1935.

Novel Saman karya Ayu Utami disebut sebagai tonggak pengarang perempuan pada dunia sastra.  Ayu Utami mengeksplorasi seks dari perspektif wanita. Gerakan feminisme dalam karya sastra muncul sebagai awal pemberontakan terhadap dominasi kaum laki-laki di bidang publik sedangkan wanita hanya bergelut di wilayah domestik saja. Hal inilah yang memicu perkembangan penulisan karya sastra sebagai media aspirasi bagi kaum perempuan dalam melihat fenomena ini. Pemberontakan yang dilakukan oleh para perempuan itu dijewantahkan ke dalam penulisan karya sastra. Sebagai wadah yang bisa digunakan untuk menginterpretasikan fenomena sosiokultural yang terjadi di masyarakat.

Tidak ada yang sama di dunia ini. Begitu halnya dengan perempuan memiliki ciri atau sifat yang khas dan berbeda. Pihak yang melihat perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki merupakan perbedaan ciri dan sikap antara keduanya. Sehingga menimbulkan terjadinya pandangan dan pengalaman yang berbeda pula. Perbedaan ini bila diterapkan di dalam karya sastra, maka tradisi sastra laki-laki dan perempuan juga berbeda. Kebanyakan karya-karya perempuan menunjukkan usaha untuk membebaskan diri atau untuk melepaskan diri dari keterbatasan sosial. Perlawanan yang dilakukan pun begitu merebak seiring isu yang berkembang di beberapa aspek kehidupan.

Karya sastra memang mewakili zaman. Mewakili apa yang terjadi pada masa itu. Menulis karya sastra yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Jadi tak heran jika pada karya sastra klasik banyak ditemukan unsur nasionalisme, ideologi, lokalitas yang tidak dipaparkan secara transparansi karena dipengaruhi suasana politik pada masa itu.

Post Millenial dan Studi Kritik Sastra
Kata Millenial tidak asing lagi di telinga kita. Sebagian besar orang beranggapan bahwa Millenial identik dengan “kekinian”, generasi melek teknologi. Karl Mannheim (1923) mengatakan Millenial karena satu-satunya generasi yang pernah melewati millenium kedua. Generasi Millenial atau Gen Y (1981-1994), setelah gen X (1965-1980), sedangkan gen Z (1995-2010), generasi alpha (2010).

Perkembangan teknologi sangat besar pengaruhnya terhadap konstelasi kesusastraan. Jikalau dulu masih dalam bentuk buku (fisik) sekarang dikenal dengan sebutan karya sastra digital yang memunculkan banyak penulis di berbagai kalangan. Proses penyebaran yang sangat cepat, responsif, bahkan pembacaan karya sastra melalui video sudah banyak ditemukan. Tiap hari ratusan karya lahir di media sosial. Ribuan komentar bahkan share terbanyak sebagai bentuk apresiasi pembaca. Bahkan tak sedikit yang menjadi viral dan trending topic. Banyak penerbit melirik karya-karya yang viral ini untuk dibukukan bahkan difilmkan.

Namun pertanyaannya adalah “Apakah karya yang lahir di media sosial ini bisa dikategorikan sebagai karya sastra yang bermutu atau berkualitas?”. Karya yang lahir secara otodidak di media sosial tidak melalui proses penyuntingan. Begitu banyak ditemukan karya yang lahir di grup-grup menulis di media sosial membahas polemik rumah tangga, keretakan hubungan, hingga perihal orang ketiga. Sebagian besar sebagai ajang curhat. Bahkan sebelum menulis, penulis terlebih dahulu mengatakan bahwa apa yang ditulisnya adalah kisah nyata. Eksistensi karya sastra sebagai karya fiksi diragukan. Fenomena ini justru memunculkan ribuan komentar yang sangat tidak ada kaitannya dengan kritik sastra. Malah men-judge penulis.

Persoalan kritik sastra memang sangat diperlukan untuk membangun karya tersebut. Entah dari segi diksi, estetika, hermeneutika, bahkan licentia Poetica.

Mestinya jejak digital mempercepat perkembangan karya sebanding lurus dengan proses kritik sastra yang pada dasarnya memang membutuhkan ilmu, wawasan yang luas untuk menghasilkan karya yang bermutu. Hal ini merupakan tantangan para sastrawan, penulis, kritikus sastra, bahkan sarjana sastra untuk berperan aktif menanggapi karya-karya yang lahir di media sosial. Sangat mengkhawatirkan jika generasi alpha ke depannya tidak lagi mengetahui hakikat karya sastra itu sendiri. Saya khawatir kelak beberapa tahun kemudian, menjejaki tahun 2020, karya seperti Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra, Ayu Utami, Dee Lestari, serta sastra klasik, tidak ditemukan lagi keberadaannya. Tenggelam atau sengaja ditenggelamkan. Seperti tanaman mawar yang jika tidak dirawat akan mati dengan sendirinya. Tanpa jejak.

Parangtambung, 8 Desember 2019