Hijrah Syndrome 2: Revolusi Hijrah

Fenomena kaum hijrah yang telah menjamur belakangan ini membawa angin segar tersendiri dalam kancah dakwah Islam. Seperti yang telah saya singgung sebelumnya dalam tulisan Hijrah Syndrome. Menyoal aktivitas dan perubahan yang cukup signifikan namun hanya memunculkan fanatisme belaka, terhadap anak muda muslim atas event hijrah yang seringkali diadakan ditengah-tengah masyarakat. Poin terbesar tulisan sebelumnya (Hijrah Syndrome) bersifat otokritik. Bahwa wadah-wadah dakwah nan modern seperti event hijrah fest atau event hijrah yang formal, yang coba mengakulturasi tren anak muda sebagai magnetnya.

Nampaknya event-event hijrah tersebut, lebih nampak sebagai suatu wadah dakwah yang bertujuan untuk menerapkan dogma-dogma yang sektarian dan fanatik, akan kecintaan atas akhirat dan menafikan peran kehidupan dunia yang sejatinya secara signifikan, kesuksesan dunia juga turut mempengaruhi kebahagiaan di akhirat. Namun kenyataan yang terlihat adalah, dari sekian banyak “jamaah hijrah” hasil dari event-event hijrah, terkadang di antara jamaahnya ada yang begitu sangat “menjengkelkan” ketika kita berjumpa. Baik di dunia nyata maupun maya.

Namun sebenarnya, bukan menjengkelkan kalau mereka hijrah (kembali kepada hal kebaikan), sebab upaya hijrah bagi sesama umat muslim tidak patut untuk kita benci. Malah seharusnya kita sambut dan apresiasi, upaya saudara kita itu, untuk lebih mendekatkan diri kepada Rabbnya. kejengkelan yang saya maksud di sini adalah, ketika upaya hijrah tersebut mengubah seseorang menjadi fanatik buta terhadap wahyu Allah SWT dan otoriter menyikapi hadits nabi Muhammad SAW. Sehingga membuat jamaah muslim yang “non hijrah” merasa termarjinalkan dan jamaah muslim yang setia dengan fanatisme hijrahnya senantiasa berada pada eksklusifisme-religius.

Revolusi hijrah
Memahami teks atau wahyu Allah Swt., apalagi mencoba menginterpretasikan hadits nabi Muhammad saw. akan sangat rancu bahkan tanpa sadar mereduksi spirit tertentu di dalam ayat maupun hadits jika kita memahaminya pada wilayah dogmatik an sich. Dalam buku yang berjudul “Islam dan Teologi Pembebasan” Dikarang oleh Asghar Ali Engineer, memberikan petunjuk dan interpretasi yang sangat revolusioner dalam memahami spirit wahyu (Al-Quran) dan hadits. Bahwasanya kedua pusaka (Al-Qur’an dan Hadits) adalah suatu instrumen yang secara implisit memiliki ruh “perlawanan” yang kemudian berpotensi mengonstruk sistem dan masyarakat Islam yang anti diskriminatif, humanis, dan umat Islam yang memiliki power menuju perubahan.

Melihat realitas para tokoh agama saat ini dalam menganjurkan pesan-pesan agama, sangat normatif dan cenderung menciptakan nalar keislaman umat muslim berkembang statis. Sehingga rasanya sangat sulit untuk mentransformasi secara total, pemahaman masyarakat muslim ke arah yang lebih revolusioner untuk mengonstruk sistem dan masyarakat yang anti diskriminatif, humanis dan memiliki power. Sebab wahyu Tuhan (Allah Swt.) hanya sebatas ditafsirkan secara skriptualis dan final dalam bungkusan ritualitas. Tanpa memakai pendekatan-pendekatan kontekstual dan adakalanya menghindari dialektika, yang sesungguhnya berfungsi sebagai metode dan berperan dalam memperkaya makna suatu ayat dan hadits.

Sebagai contoh pengertian terhadap tauhid. Mungkin bagi umat muslim pada umumnya dan bagi pemuka agama yang cenderung apologetik. Hanya memahami sebagai salah satu prinsip paten dalam memeluk agama Islam bahwa tauhid adalah suatu sikap akan keyakinan yang independen bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Tuhan dan tak ada sekutu baginya. Setelah terminologi tersebut secara sederhana dipahami, maka manifestasinya adalah tertib melakukan sholat 5 waktu, tertib melakukan ibadah sunnah, dzikir diperbanyak hingga ribuan kali, meninggalkan sesuatu yang mengalihkan konsentrasi keyakinan: menyembah benda atau sesuatu yang dikeramatkan, tidak mempercayai tahayul, dan faktor-faktor lainnya.

Secara mendasar dari terminologi tauhid yang telah saya spesifikan tadi. Sebenarnya tidak ada yang salah sama sekali. Hal tersebut memang rincian langkah dasar untuk mengokohkan keyakinan kita sebagai umat muslim secara transendental. Hanya saja konsep tauhid sangat kerdil, ketika hanya dikemas dalam pengertian seperti itu. Yang hanya menggugah batin, namun sebenarnya juga punya terminologi sosial dan interpretasi yang lebih luas. Jadi tidak heran ketika umat muslim pada umumnya lebih banyak memahami Islam dalam bingkai ritualitas saja. Sekalipun itu tidaklah dilarang.

Interpretasi tentang tauhid, bukanlah semata ke-Esa-an Tuhan. Namun konsep tauhid juga menekankan asas kesatuan manusia (unity of mankind). Bahwa tidak akan utuh ketauhidan sesesorang selama masih tercipta masyarakat yang berkelas (kaya dan miskin). Juga belum lengkap ketauhidan seseorang jika di dalam dirinya masih terdapat suatu apatisme melihat penindasan yang dilakukan oleh penguasa terhadap manusia lainnya (masyarakat). Sedang yang kita ketahui bersama bahwa sejatinya penguasa adalah Allah Swt, selain itu hanyalah representasi.

Begitupun konsep kesabaran. Kita harus memaknainya lebih revolusioner lagi, bahwa sabar bukan dalam mempertahankan status quo keimanan. Tapi bersabar dalam berjuang bersama masyarakat muslim lainnya yang maju melawan secara nyata ketidakadilan para tiran dan oligarki yang menciptakan sebuah tatanan kondisi manusia yang timpang dan mengerikan.

Berangkat dari kedua pola penafsiran tersebut. Maka umat muslim dalam memahami teks-teks suci akan senantiasa berimbas yang tidak hanya dari segi ketentraman hati namun juga membuat umat Islam kuat dan tidak cengeng dalam menghadapi tantangan-tantangan berat yang menanti umat Islam. Karena pada kenyataannya, umat Islam saat ini khususnya di Indonesia, umat Islam di kalangan remaja yang secara substansi adalah generasi penerus Islam, kian hari kian tak berdaya.

Sudah tahu eksistensi Islam dicerca kiri kanan. Ditambah penduduk Islam yang begitu mayoritas tertindas. Malah asyik buat pengajian, saling menguatkan menghadapi penderitaan yang dialami, tak lupa dicekoki dengan ayat-ayat tentang kesabaran hingga akhirnya final pada doktrin cinta pada kematian dengan satu penafsiran yang melemahkan.

Hal inilah yang membuat umat Islam kian hari makin tak mempunyai taring dalam berperan merombak sistem kehidupan yang culas. Bagaimana mungkin kita berharap membawa umat Islam menjadi umat yang disegani dan dihormati, sedangkan dalam tubuh Islam sendiri masih ada kelompok yang mencoba “meninabobokan” mental umat Islam dan mereduksi daya kritis dalam membaca situasi. Maka dari itu, kegiatan hijrah atau kegiatan-kegiatan yang mungkin sifatnya mampu menuntun umat Islam berubah lebih baik.

Hendaknya jangan berubah atau hijrahnya hanya sekadar seremonial saja, terlebih lagi hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri. Alangkah indahnya, hijrah yang baik, ketika seseorang mampu tergerak bukan saja atas dasar simbolik dan kenyamanan batin terhadap diri sendiri. Namun juga mampu menggerakkan umat muslim lainnya untuk bersama-sama mengentaskan tugas kemanusian yang belum tuntas. Hijrah tersebut adalah hijrah yang revolusioner. Hijrah yang tidak hanya merubah dunia kita akan tetapi turut merubah dunia orang lain atas nama ketuhanan dan kemanusiaan.