Cogito dan Kota

Ada semacam perasaan yang aneh setiap kali saya melakukan penerbangan ke luar kota, setiap kali landing di bandara tujuan maka seringkali saya merasa kembali pulang ke bandara asal. Setiap kali saya melakukan penerbangan dari Makassar ke Surabaya misalnya, saat landing di Surabaya maka rasa-rasanya saya balik ke Makassar, begitu pula sebaliknya. Ini bukan hanya tentang sesuatu yang sifatnya ke-jiwa-an, tetapi yang saya ingin katakan kota-kota kita mengalami perubahan bentang alam yang sama, serta ke-serupa-an dalam hal tumbuh kembangnya. Surabaya, Bandung, Makassar bahkan Balikpapan adalah Jakarta yang lain.

Banyak definisi tentang kota, tetapi paling sederhana jika kita persepsikan kota sebagai “ruang” (space). Saya tetiba saja teringat dengan pembagian dua substansi yang pernah diajukan oleh mendiang Rene Descartes, melalui adigium yang terkenalnya, “cogito ergo sum”, Descartes membedakan antara res cogito (substansi yang berkesadaran) dan res extensa (substansi yang ber-ke-luas-an). Res extensa adalah segala hal yang ber-volume, segala hal yang di mana sisi-sisi terluarnya memiliki jarak tertentu dengan kata lain segala hal yang bisa dideskripsikan dengan geometri, alias segala sesuatu yang di dalam dirinya ada “ruang”.

Lalu menurut Descartes, ada dua studi yang bisa digunakan untuk memerikan res extensa, untuk memerikan bentuknya maka kita bisa menggunakan geometri, mengukur jarak dari satu titik ke titik lainnya dan menarik garis padanya, menghitung besaran sudut di antara tiga titik yang ditentukan, lalu menemukan pola di antara titik-titik yang diketahui. Sedangkan untuk mengetahui segala bentuk perubahan pada res extensa maka kita bisa memerikannya melalui mekanika. Nanti dalam perkembangannya, mekanika klasik akan terbagi menjadi dua yakni mekanika statis yang memerikan segala bentuk geometris yang bekerja sejumlah “gaya” dengan sum zero alias seimbang padanya (semisal jembatan, gedung, menara dll,), kedua yaitu mekanika dinamis yang memerikan segala hal geometris yang sedang bergerak.

Lalu bagaimana dengan res Cogito? (kesadaran). Kesadaran kita adalah sesuatu yang otonom dari res extensa. Kesadaran punya kemampuan satu arah dan otonom dalam menentukan, mengukur, membentuk dan memerikan “ruang” (space). Terdengar heroik memang, dan heroisme Descartes mewakili sebagian besar optimisme kita dalam membangun kota-kota, seakan-akan kota adalah penubuhan kemampuan kesadaran manusia dengan segala kelebihan-kelebihannya dan segala ke-jago-an-nya. Maka tak heran bagi anak-anak muda yang lahir dan hidup di kampung, kota tetap memiliki daya tariknya sendiri. Walaupun mereka telah mendengar beberapa hal buruk yang ada di kota melalui media sosial, tapi mereka tetap ingin ke kota, untuk berkuliah, untuk bekerja, untuk sekadar jalan-jalan ataupun sekadar menghabiskan uang hasil penjualan sepetak sawah di kampung. Ada semacam anggapan bahwa peluang menjadi “hero” itu ada di kota, walalupun nanti mengalami kekecewaan-kekecewaan di kota, mereka anggap itu sebagai alat tukar yang perlu dikorbankan agar bisa menjadi “hero”.

Tapi bagi Edmund Husserl, sang bapak fenomenologi, pengarang buku Logische Untersuchungen, optimisme Descartes adalah sebentuk penggelembungan subjektivitas yang dikemas dengan konsep-konsep seperti “rasio” ataupun “subjek”. Dalam pandangan Husserl, seluruh gerak pemikiran modern sejak Descartes sampai dengan Hegel tak lain adalah gerak psikologisasi (subjektivisasi), di mana yang sadar itu sebagai awal dari segala sesuatu, dan kemudian seluruh realitas pada akhirnya akan kembali kepada kesadaran manusia sendiri. Sehingga dalam berhadapan dengan dunia, ruang atau bentang alam, kita berperilaku bak seorang cowboy (koboi). Kita bertepuk tangan atas kemampuan koboi dalam menjinakkan kuda liar, membangun kota dalam situasi alam yang sulit serta keberanian dalam melakukan pengembaraan ke daerah-daerah yang tak di kenal. Tapi berapa banyak liter darah indian yang mesti tumpah ke tanah, hanya karena mereka tak masuk dalam skema optimisme koboi? Berapa luas hektar tanah para suku Indian yang telah dirampas, hanya karena atas nama kemajuan dan peradaban?

Kota-kota kita mengalami hal yang sama, bentuk-bentuk geometris sedang tumbuh di mana-mana, seakan-akan berlomba-lomba untuk mencolok di mata pengguna jalan. Kita salut dengan perkembangan kemampuan teknis dalam mengerjakan proyek-proyek infrastruktur, mulai dari kemampuan manajemen keuangan, alat, SDM hingga resiko, tapi saya seringkali bertanya dalam hati saat berkendara dan melewati jalan-jalan protokol, apakah kita memang butuh akan ini semua? Kini setiap jengkal tanah di kota rentan dicaplok oleh modal, “tata ruang” kita juga dalam waktu yang sama adalah “tata uang”. Ruang terbuka hijau kita begitu masih sangat minim, bahkan di beberapa kota, taman kota dikelilingi pagar besi kokoh yang walaupun bisa kita bisa lompati, tapi seakan-akan ingin menghindar dari kita sebagai pengguna jalan, seakan-akan “taman kota” hadir sebagai “alam lain” di tengah kota yang enggan dinikmati oleh warga kota, seakan-akan “taman kota” mereproduksi paranoia warga kota yang juga ramai-ramai memagari rumahnya.

Kota sebagai “ruang”, bukan lagi sebagai sarana untuk menstimulasi dan mengkatalisasi aktualisasi segala potensi kemanusiaan warga kotanya. Ruang kota cenderung menjadi sekedar instrumen untuk mengelola modal ekonomi. Dan akhirnya sang cogito Descartes mengalami kekusutan di dalam kotanya sendiri, karena setiap titik geometris di dalam kota telah berubah menjadi titik untuk mengeluarkan sejumlah uang. Bahkan saya ragu apakah kota kita dibangun berdasarkan wawasan geometris yang mumpuni, buktinya tak ada pola geometris yang estetis alias tak ada semiotika dalam pembangunan kota kita. Rencana tata ruang kita, sekedar rencana, yang toh kita carikan celah untuk kita langgar di masa mendatang. Yah itu mungkin karena “rencana tata uang” (itupun kalau punya rencana) menjadi variabel bebas yang menentukan “rencana tata ruang” sebagai variabel bergantung.

Bayangkan suatu ketika yang tak terlalu jauh; Anda terbangun di satu pagi dalam sebuah kamar hotel, membuka tirai, melihat keluar, dan tak tahu persis di mana anda berada. Kotak-kotak pencakar langit yang sama, beradu tinggi. Billboard raksasa yang sama, beradu besar. Neon Sign yang sama, beradu terang. Dan di bawah sana, lalu lintas padat dan mampat. Anda merasa gamang…” ungkap Avianti Armand dalam Arsitektur Yang Lain (2017). Dan yang dikatakan oleh Avianti ada benarnya karena saya juga sering merasakan hal yang sama, jangan sampai segala upaya kita dalam mewujudkan impian kita atas kota, hanya berujung pada apa yang Husserl sebut dengan “situasi ketidakbermaknaan” (Sinnlossigkeit).