Rindu Ibu

Ibu adalah sosok wanita yang luar biasa. Hebat dalam segala hal, dan bisa berperan menjadi siapa saja dalam keluarga.

Sejak kecil kita sudah sering menyusahkan ibu. Di kala kecil, kita tidak bisa tidur, sering menangis, lapar, ngompol di tempat tidur, ibu dengan sabarnya, melayani dan menimang kita. Dengan hati yang ikhlas dan tanpa pamrih.

Tapi, di kala itu Ibu tetap merasa bahagia. Tanpa ada rasa beban dalam merawat kita, hingga kita dewasa seperti saat ini.

Meskipun kita telah dewasa, peran ibu dalam keluarga masih banyak, seperti ibu yang dapat mengerjakan 2 sampai 3 pekerjaan sekaligus. Misalnya, memasak sambil mencuci dan menyusui si adek.

Kini keluargaku menjadi berantakan, beban ibu semakin bertambah sebab hidup yang terpuruk semenjak ayah dalam kemelut masalah. Hingga ibu pun menjadi tulang punggung keluarga satu satunya saat ini.

5 bulan 21 hari ayah di penjara, ibu hanya bisa meneteskan air mata kehilangan dengan tetesan airmata bening yang kental di pipi. Namun kenangan indah tentangnya masih memiliki ruang dalam hati keluarga.

Kehebatan ibuku tak mampu dibandingkan dengan ibu yang lain. Hidup dalam suasana sepi dengan adik yang masih kecil bahkan untuk berkomunikasi dengan kami sangatlah susah.

Ibuku pahlawanku. Ibu tanpa tanda jasa. Walaupun aku persembahkan bumi dan langit serta isinya itupun belum mampu membayarkan jasanya.

9 bulan kita dalam kandungan, dilahirkan dengan bertaruh nyawa, bahkan mengasuh kita bercucuran air keringat dan air mata. Seiring berjalannya zaman Ibu selalu membimbingku untuk meraih cita, menuntunku mengukir dunia, dan meyakinkanku mengenal rasa. Dan diapun membuatku mengenal rindu.

Ia membesarkan buah hatinya dengan masa yang panjang kemudian mengirimnya ke kota besar untuk belajar dengan alasan masa depan. Sebuah keputusan yang sulit meski pahit untuk berpisah dalam suasana sepi keluarga.

Ibu terima kasih atas segalanya. Kau adalah bukti dari apa yang ku buktikan.