Gadis dan Senja

Seorang gadis merenungi sore dengan untaian kata di benaknya. Mencoba terangkai menjadi kenangan. Lalu menguburnya dan tidak akan menggalinya kembali. Walaupun ada hati yang datang menawarkan romantisme kisahnya untuk bersanding. Lalu, gerimis pun berhujan peluh di pekarangan rumahnya. Gadis itu bertatap wajah dengan senja. Lalu senja berkata, Kengapa kau termenung dan sedih?. Sang gadis pun menjawab, Aku sedih. Aku termenung. Aku diam.”

Orang-orang pun lalu lalang di depan pekarangan gadis itu. Semuanya berlalu dengan wajah penuh tanya. Lalu, perlahan air mata gadis tertahan di kedua kelopak matanya. Seperti ia tak sabar menunggu musim hujan berlalu, berganti musim semi.

Senja itu pun semakin redup. Sedih melihat kesedihan gadis itu. Lalu ia pun menghampirinya, duduk di sampingnya. Lalu berkata,

“Gadis, mengapa kau menangis?”

“Aku tidak menangis!” jawab sang gadis.

“Tapi, aku melihat kekelaman di dalam hatimu, dan kedua kelopak matamu menahan tetesan kesedihan.”

“Aku tidak menangis!!”

“Kau tidak bisa membohongiku. Aku bisa melihatnya!”

“Senja, apa kau pernah bersedih?”

“Iya.”

“Bagaimana kau melewatinya?”

“Dengan memasukinya. Bagaimana denganmu? Bagaimana kau melewati kesedihanmu?”

“Dengan air mata! Dengan cara itu aku menikmati kesedihanku. Karena setelahnya aku menemukan kebahagiaan.”

“Kalau begitu menangislah! Namun, sebelumnya aku ingin membacakan puisi untukmu. Dengarlah!”

Setitik rasa dalam hati tumbuh seperti pohon
Memberikan keteduhan jika berada di bawahnya
Jiwa pun ikut bernyanyi bersama hati yang berbunga mekar di musim semi
Seperti sepasang merpati bercumbu rayu saat bertengger di pohon rindu

Namun, badai hujan mampir di pekarangan pohon itu
Merontokkan daunnya yang ranum
Pohon itu pun tidak lagi teduh
Rantingnya semakin rapuh dan perlahan patah

Namun, akan ada musim yang dinanti
Saat pohon itu menjadi teduh kembali, seperti semula!
Yah, kaulah pohon itu; gadis!

Air mata sang gadis pun keluar begitu saja berbasuh peluh dengan kekelaman hatinya. Senja pun meminjamkan pundaknya kepada sang gadis, membiarkan ia menangis di pundaknya. Gerimis pun telah berlalu di pekarangan rumah sang gadis. Ia menangis di pundak senja sampai ia tertidur. Berharap ketika ia bangun, mendapatkan hati yang baru, tidak kelam lagi!

Makassar, 23 November 2009