Rupa Kematian

“I write only because there is a voice within me that will not be still” – Sylvia Plath –

Sudah waktunya mengumumkan apa yang tidak ingin aku tulis
Berlembar-lembar kertas lebih berarti setelah terpisah dari pohon dan pabrik.
Alasan kita membaca sering kali hanya untuk mencari pahala
Bersembunyi di balik jubah kebaikan yang kadang bisa dilepas begitu saja

Aku membaca cerita yang terdiri dari keping-keping kehancuran
Membayangkan kepala dalam oven panas tapi yang terbakar hanya rambut dan kulitnya
Derita atau gelisah tidak begitu berbeda, pecah kemana-mana.
Selalu ada suara dalam dirinya yang tidak tetap
Semua orang memiliki wajah ketakutan, senyum yang buat-buat.
juga rasa cinta sering kali menjijikan dari ketenaran

Pesta yang berbahaya dikunjungi akhir pekan
hingga lampion, lampu jalan atau klakson kendaraan saling mencurigai
Sebentar lagi natal, Desember belum punya warna
Orang merias wajah, di hadapan rahasia
Mereka tumbuh bertikai dari kutipan ayat-ayat Tuhan

Tahun-tahun berganti, kembang api menari-nari
Terbuat dari apa surga itu?
Anggur merah dan bibir merekah bersahut-sahutan ingin menjawab
Disanggah kemabukan yang begitu payah, sempoyongan melihat ombak di jalan-jalan.
Ruang sadar adalah obat penenang bagi mereka yang tegang menyimak berita kematian