Perempuan yang Tetiba Lupa

Kisah ini dimulai pada saat saya masih mengingat segala sesuatunya dengan jelas. Nama jalan, kelokan bercabang, lorong-lorong kecil yang biasa menjadi jalur alternatif pada kondisi tertentu.

Albert kekasih saya yang tinggal di Amerika baru-baru ini datang ke Indonesia untuk mengunjungi saya, tentu saja saya merasa senang dan bahagia. Perempuan mana yang tidak merasa bahagia saat pangerannya datang untuk menemuinya, aku sudah lama terkurung di atas menara yang tingginya mungkin mengalahkan monas yang ada di Jakarta. Kota dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi, setiap hari menjadi tambah angkuh dan tidak ramah pada pendatang baru. Saya baru ke kota ini seminggu yang lalu untuk menyelesaikan tugas rahasia, ada gembong narkoba yang bersembunyi di ramainya kota Jakarta. Dengan daya ingatku yang tinggi aku ditugaskan untuk mencari segala informasi tentang gembong narkoba yang sedang menjadi incaran dapertemen intelejen negara. Malam itu, tepat ketika Albert mengabariku tentang keinginannya untuk datang ke negeraku. Saya sedang berada di sebuah hiburan malam yang terkenal di Jakarta— saya duduk dan memesan segelas bir. Aku memasang telinga dan memperhatikan setiap orang yang datang dan pergi, aku mendengar setiap percakapan yang terjadi di sana. Perempuan yang sedang menggoda, laki-laki hidung belang yang mulai tergoda mulai membahas bahasan sensual yang menggelikan telingaku. Karena jijik, aku memilih untuk tidak melanjutkan mendengar pembahasan mereka lagi.

Geletak!, sebuah gelas ditaruh tepat depanku.

“Birnya Nona”, aku segera meneguk gelas berisi air yang mirip kecing dengan busa diatasnya itu. Rasanya tenggorokanku seperti terbakar, jujur saja ini bukan kali pertama aku menenggak bir. Hanya saja aku memang tidak suka dengan jenis minuman yang satu ini. Aku melanjutkan pekerjaanku, mendengar dengan khusyuk setiap percakapan yang ada di sana— di ruangan yang entah di mana, aku mendengar sesuatu yang begitu samar. Telingaku tak cukup untuk menjangkaunya, aku butuh otakku untuk berkonsentrasi lebih. Ku pejamkan mataku, mematikan indera yang lain kecuali pendengaranku—suara itu semakin jelas, seperti rintihan disertai desahan yang begitu sensual—ah sial! Ternyata suara itu berasal dari sepasang kekasih yang sedang berahi. Tetiba suasana hatiku berubah karenanya, aku merasa jijik dan kesal. Di tempat seperti ini, di mana lagi orang-orang bisa menyalurkan berahi mereka kalau bukan di kamar mandi? Aku tidak akan serendah itu mau melayani seorang laki-laki yang hanya mengutamakan kepuasannya sendiri. Aku juga tidak mau bersenggama dengan aroma pesing di mana-mana—

“Hai…” seseorang menyapaku entah dari mana, aku memutar kepala. Ku temukan seseorang sedang duduk di sampingku dengan tatapan yang bisa saja menenggelamkan siapa saja ke dalam perasaan yang tidak karuan.

“Fred”, ia mengulurkan tangannya.

“Leona”

“Leo? Seperti singa?”, aku tahu dia sedang berusaha mencairkan suasana dengan candaannya.

“Iya, berhati-hatilah. Aku bisa menerkammu kapan saja”, kami tergelak bersama, entah apa yang lucu. Mungkin karena berusaha agar tidak canggung.

“Biar ku traktir satu gelas lagi”, aku mengangguk mengiyakan tawarannya. Ia memesan dua gelas vodka.

Kami bercakap dan hanyut dalam hentakan musik yang semakin memekakkan telinga, sekali lagi segelas minuman berhenti tepat di hadapanku. Cheers! Kami bersulang, gelas kami kosong dalam sekali tegak. Aku tertawa lepas, ku lihat wajahnya yang tersenyum kemudian pergi—punggungnya semakin kabur dari pandanganku. Kepalaku terasa berat dan pusing, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.

Aku terbangun di kamarku, laki-laki asing sedang duduk di depanku.

“Siapa kamu?”, ia tak menjawab pertanyaanku. Ia kemudian beranjak ke sudut kamar dan menelpon sesorang. Entah apa yang ia bicarakan, kepalaku masih terasa sakit untuk sekadar mendengarkan percakapan mereka.

Sejam kemudian seorang dokter dan beberapa orang yang belakangan ku ketahui sebagai rekan kerja ku datang, dokter itu kemudian memeriksaku. Ia mengatakan sebagian memoriku hilang atau mungkin sengaja untuk dihilangkan. Laki-laki dengan kacamata yang berdiri di sampingku memintaku untuk menceritakan hal-hal yang masih ku ingat. Belum juga aku membuka mulut, laki-laki di sampingnya menyela kami.

“Untuk apa kita mendengarkan keterangan dari orang yang sudah tidak ingat apapun?”

“Tapi Fred”, pria dengan kacamata itu nampak tidak setuju.

“Sudahlah, kita masih memliki pekerjaan yang belum diselesaikan. Ayo pergi”, pria itu kemudian keluar dari kamarku disusul dengan laki-laki berkacamata dan si dokter.

Seminggu setelahnya aku dipecat dari pekerjaanku, penyakit lupaku semakin hari semakin jadi. Aku jadi lupa nama kekasihku, dan lupa beberapa hal kecil—misalnya, di mana terakhir kali aku menaruh kunci rumahku, halaman buku yang sudah ku baca, sudah makan atau belum, nama jalan, orang-orang yang ku temui, atau mungkin suatu hari nanti aku lupa tentang siapa aku.