Mengambil Jarak Dari Sekumpulan Mitos

Di kawasan Asia Kecil pada masa Yunani Klasik, sekitar abad 6 SM, tepatnya di daerah yang bernama Miletus, sering terjadi semacam huru-hara politik. Konon di sana pada mulanya rakyat menang dan membunuh para istri dan anak-anak kaum bangsawan; kemudian kaum bangsawan unggul dan membakar lawan mereka hidup-hidup. Tapi di tengah-tengah huru-hara politik tersebut, tak berarti bahwa semua orang menjadi barbar dan tidak menggunakan pikirannya. Justru pada masa itu tercatat oleh sejarah, para filsuf awal yang biasa disebut dengan Mazhab Milesian.

Sebagian sejarawan filsafat, mengatakan bahwa para jenius filsafat awal ini walaupun terkadang menyampaikan semacam teori yang kedengaran konyol saat ini, tapi setidaknya mereka melakukan empat hal yang berharga. Pertama, mereka berusaha untuk menjelaskan alam semesta atau kosmos dengan menggunakan rasio. Kedua, karena penekanannya pada rasio, maka yang menjadi parameter benar tidaknya penjelasan mengenai bentuk maupun asal mula alam semesta adalah ke-masuk-akal-an. Ketiga, karena parameternya adalah ke-masuk-akal-an, sehingga membuka ruang untuk mengambil jarak dari sekumpulan mitos dalam menjelaskan kosmos. Keempat, secara tidak langsung mereka memperlihatkan teladan bahwa dalam merengkuh pengetahuan, maka bisa dilakukan melalui penggunaan rasio secara mandiri terlepas dari otoritas.

Yang terpenting adalah air” kata Thales, salah seorang dari Tujuh Orang Bijak Yunani yang juga merupakan filsuf Milesian. Menurut Aristoteles, Thales berpendapat bahwa air merupakan substansi dasar yang membentuk segala hal lainnya. Walaupun pendapat Thales dan filsuf Milesian lainnya nampak konyol bagi kita yang sedari bangku SMP sudah mengenal fisika modern, tapi pendapat Thales tersebut bagi saya menunjukkan dua hal. Pertama, gagasan tersebut menunjukkan, kecenderungan pikiran kita untuk menyederhanakan segala sesuatu, apakah dalam rupa asal-mula tertentu, dewa-dewi tertentu, sebab tertentu ataupun substansi tertentu.

Apakah itu berarti, memikirkan sesuatu ekuivalen dengan menyederhanakan sesuatu? Yang paling kentara dari proses penyederhanaan ini adalah saat kita mencari solusi atas persamaan matematika tertentu, mencari solusi matematis hampir sama dengan menyederhanakan persamaan matematis. Begitu pula dengan bidang-bidang studi lain, biologi misalnya, berusaha menyederhanakan kerumitan proses kompleks pengubahan energi cahaya matahari, air dan karbon dioksida dalam kloroplas dengan istilah “fotosintesis”. Jangankan dalam studi-studi rasional, dalam mitologi pun ada upaya imajinasi untuk menyederhanakan kompleksitas reaslitas dengan melakukan personifikasi dalam rupa tokoh-tokoh mitologi.

Menyederhanakan realitas bukanlah sebuah kejahatan, karena mungkin tanpanya pikiran akan kesulitan dalam menelaah objeknya, pikiran akan kewalahan dalam menarik makna dari sebuah peristiwa, rasio akan cepat mengalami kelelahan dalam mencari hubungan atau relasi di antara beragam benda ataupun kejadian. Melalui penyederhanaan, pikiran kita mampu secara efektif mengelola dan mengolah limpahan informasi yang lalu-lalang di hadapannya. Ini agak mirip dengan mekanisme trauma, dimana orang yang mengalami trauma akan berusaha “melupakan” peristiwa traumatik, menekannya hingga ke alam bawah sadar, agar pikiran mampu bekerja secara optimal dalam kehidupan sehari-hari.

Walaupun begitu, kita mesti selalu berada dalam situasi “ke-insyaf-an” bahwa pikiran kita senantiasa menyederhanakan kompleksitas, bahwa “memikirkan sesuatu” senantiasa beriringan dengan “berusaha melupakan sesuatu yang lain”. Dan belum tentu yang “kita lupakan” adalah sesuatu yang kurang baik ketimbang yang “kita pikirkan”, belum tentu “yang kita pikirkan” lebih benar dibanding yang “kita lupakan”. Dengan kata lain, senantiasa ada “yang luput” dari tindak “memikirkan” dan “mengetahui”. Insyaf akan selalu adanya “yang luput” dalam tindak mengetahui-memikirkan di satu sisi membuat kita sadar akan kelemahan diri sebagai manusia, tetapi di sisi lain justru bisa menjadi semacam “ruang bermain yang luas” bagi pikiran manusia untuk melakukan pengembaraan-pengembaraan.

Kedua, gagasan Thales tentang “air sebagai asal muasal segala sesuatu” juga menunjukkan ikhtiarnya menjadikan sesuatu yang “nampak” -dan kemudian hari bisa diverifikasi benar-tidaknya melalui pengamatan- sebagai bahan dasar kosmos. Betrand Russel berpendapat bahwa gagasan Thales ini mesti dipandang sebagai hipotesis, atau dugaan sementara yang sifatnya spekulatif-rasional dalam menjelaskan kosmos. Mengambil air sebagai hipotesis bahan dasar alam semesta, mungkin juga berangkat dari pengamatan keseharian Thales terhadap sifat ataupun karakteristik air. Air adalah entitas yang bentuknya senantiasa mengikuti bentuk wadahnya, selain itu air dalam keseharian adalah entitas yang bisa berada dalam tiga fasa berbeda (gas-cair-padat) bergantung pada temperatur sekitar.

Harus kita pahami bahwa fisika dan kimia belum begitu berkembang di masa Yunani antik, sehingga tidak mengherankan jika para pemikir atau jenius saat itu seringkali menarik hipotesis yang terlihat kurang cermat. Tetapi usaha menjadikan entitas non-mitologis sebagai penjelas kosmos adalah sebuah keberanian-intelektual. Misalnya, hipotesis Thales yang lain, bahwa “bumi mengapung di atas air”, walaupun kedengaran aneh bagi kita yang telah terpapar dengan wawasan astronomi modern, tapi hipotesis tersebut kemungkinan lahir dari pengamatan Thales tentang bumi yang berada dalam situasi “stabil tapi tetap dinamis”, sehingga mesti dia punya landasan yang membuatnya stabil, tapi memungkinkan dia bergerak-berputar, dan air memungkinkan itu. Thales bagi saya menunjukkan bagi kita akan keberanian intelektual dalam berjarak terhadap mitos ataupun kepercayaan keagamaan yang melingkupi kita.

Tapi itu tak berarti Thales adalah spekulan-intelektual an-sich, menurut catatan sejarah, Thales lah satu-satunya orang di Miletus saat itu yang mampu meramalkan terjadinya gerhana matahari yang terjadi tahun 585 M. Thales adalah seseorang yang cukup lihai dalam hal geometri, mampu melakukan penentuan terhadap jarak kapal terhadap garis pantai berdasarkan observasi dua tempat berbeda di daaratan, hingga mampu memperkirakan tinggi piramid dari bayangannya.

Dan untuk mengakhiri esai ini, saya mencoba mengutip cerita tentang Thales yang diceritakan Aristoteles dalam Politics. “Ia dicaci maki karena miskin, yang dianggap menunjukkan bahwa filsafat tak berguna. Namun menurut kisah itu, berkat pengetahuannya akan perbintangan, meski saat itu masih musim dingin ia mengetahui bahwa akan ada panen zaitun yang melimpah tahun depan; lalu dengan uangnya yang tak banyak, ia membayar uang muka untuk menyewa semua alat pengolah zaitun di Chios dan Miletus, yang ia bayar dengan harga rendah karena tak seorang pun yang menolak tawarannya. Ketika musim panen tiba, dan banyak orang yang membutuhkan alat-alat itu segera, ia menyewakannya kembali dengan harga sesuka hati dan menghasilkan uang yang banyak. Ia membuktikan pada dunia bahwa para filsuf bisa kaya dengan gampang jika mereka mau. Hanya saja ambisi mereka menuju ke hal lain”.