Manita (1)

Jejak air di tanah merah ini begitu merona. Tak ada rerumputan. Air begitu cepat bersembunyi di balik tanah merah. Hanya bekas remahannya yang tersisa, menandakan ia pernah ada disini. Aku perhatikan bekas kakiku di tanah ini. Menjadikan tanah tak merata. Ada beberapa separuh lubang oleh jemari kakiku barusan. Tidak hanya satu jejak, ada banyak yang berjejer di belakang. Menguntitku. Setiap aku berbalik, selalu bersembunyi. Tidak mau menampakkan wujudnya. Jangan-jangan mau membunuhku. Dengan membuat jejak kaki di belakangku. Ia mengikutiku kemana saja. Langkah semakin aku percepat. Bahkan aku berlari dengan peluh di sekujur tubuh. Kadang aku berbalik, jejak itu masih mengikuti. Aku semakin kencang berlari, sampai-sampai kakiku tidak menginjak tanah lagi. Aku berbalik lagi, jejak itu tidak ada.

Halte ini begitu sepi. Dingin masih merasuk pagi ini. Ada remahan air hujan semalam yang jatuh menetes di atap halte. Jatuh dan serpihan airnya berpencar begitu menyentuh tanah. Aku menengadahkan tanganku ke tetesan itu. Berharap menyentuh telapak tanganku juga. Ternyata sebuah telapak tangan lain tepat berada di samping telapak tanganku. Perlahan aku perhatikan telapak tangan itu, begitu besar dan kasar. Urat nadi begitu jelas terlihat. Ada bekas luka di tangan itu. bekas luka yang mengering. Saat aku perhatikan wajahnya, tidak seperti tangannya. Wajah yang begitu indah dengan sepasang mata yang bening. Begitu banyak kehidupan yang terlihat di sana. Bibir tipisnya yang memerah seperti kelopak mawar, tersenyum tipis. Ia membiarkan rambutya diurai oleh dinginnya pagi.

Aku dikagetkan oleh suara bus di depan halte. Ternyata begitu lama aku memperhatikan sosok yang ada di sampingku ini. Saat ia bergegas naik ke bus, aku juga melakukan hal yang sama. Mencari tempat duduk yang kosong. Bahkan perempuan yang tadi bersamaku di halte kini duduk di depan kursiku. Tetapi, aku tidak terlalu memperhatikannya lagi.

Bus berhenti di halte berikutnya. Beberapa penumpang naik. Saat pikiranku pada jejak kaki tadi pagi, aku dikagetkan dengan sentuhan di pundakku. Begitu membuat darahku berdesir hebat.

“Manita?”

Aku berbalik kearah suara itu. memperhatikan wajahnya yang tirus. Pasi. Seperti melihat pudarnya warna kemeja yang aku kenakan sekarang ini. Aku masih sulit mengenali perempuan yang berdiri di belakangku ini. Mencoba menggali kembali sisa-sisa masa silam.

“Manita, kan?”

Aku mencoba mengingat. Saat melihat goresan luka di dahinya, mengingatkanku pada seorang teman waktu sekolah dulu. Seorang teman yang memanjat pagar sekolah untuk membolos. Saat melompat dari pagar, tidak memperhatikan ranting kayu yang menghalau pagar. Sehingga mengenai dahinya. Meninggalkan bekas goresan.

“Riani? hei…”. Jawabku

Riani adalah teman sekolah waktu SMA dulu. Sekian lama baru kami dipertemukan. Sekarang ia berada di depanku.

“Boleh aku duduk di sampingmu?”

“Oh iya. Silakan.”

Aku menggeser tempat dudukku. Riani duduk di sampingku. Wajahnya begitu sumringah pagi ini. Walau aku tahu itu hanyalah kepura-puraannya saja. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan jiwa kehidupannya di dalam hatinya. Lagipula tak ada rona merah di bibirnya pagi ini. Rambutnya pun dibiarkan begitu saja. Menggantung membisu di kepalanya.

“Sudah lama kita tidak bertemu Manita.”

“Iya. Kamu kemana saja? Apa kamu sekarang sudah kerja?”

“Kamu tidak tahu yah?”

“Tahu apa?”

“Aku pernah dipenjara. Baru tiga bulan yang lalu aku bebas.”

“Apa? Dipenjara?”

“Iya!”

“Apa yang kamu sudah lakukan sehingga bisa dipenjara begitu?”

Perlahan Riani berbisik kepadaku.

“Aku memperkosa!”

(Bersambung)