Kepergian Puisi

Saat puisi diciptakan
Sebuah amplop menunggu bersama selembar foto lampau bersiap dikemas rapi. Tapi puisi tak kunjung usai.

Di samping meja, keranjang sampah telah menampuk remukan kertas kosong hasil amukan seorang. Sudah hampir pagi tapi puisi lebih memilih ditidurkan.

*

Agena telah menunggu selembar puisi, ia gigil dan sekarat menanti. Segelas air tidak menghangatkan tangannya yang dingin getar. Di biarkan pintu tetap terbuka. Sebentar lagi puisi akan datang. Katanya.

*

Lelaki itu terbangun melihat puisi tidak didalam kertas, disingkapnya laci, bantal di semua tempat puisi dapat sembunyi. Dilihatnya, jendela terbuka lebar dan deruh angin mengisyaratkan sesuatu telah pergi. Baru saja ia ingin menuliskan mimpinya; bumi akan runtuh sebentar lagi.

*

Puisi lebih dulu pergi mencari alamat Agena, sebelum semua terlambat. Mencari dari rumah ke rumah, jiwa ke jiwa dan di jalan-jalan yang pernah di jejaki Agena. Setiap kali puisi ingin masuk, seketika ia mengetuk sekejap ia dikutuk. Diusir dan digulir pergi. Ke sana ke mari dan tidak menemukan tempat bahkan untuk bernaung.

Lalu, puisi memecah dirinya sendiri, menjadi kepingan-kipingan kata yang terurai dan orang-orang berebut memungutnya. Menjadikannya hiasan, hujatan, pujian juga keuntungan.

Mereka lupa, perpisahan adalah bencana. Ketika semua orang memiliki kata-kata, tidak ada lagi yang butuh siapa. Tapi puisi adalah penyembuh orang-orang yang saling merindukan.

*

Agena menunggu kecupan kekasih lewat puisi yang tak kunjung. Ia tahu seseorang telah berusaha mencipta puisi dari sana.

Tiba-tiba awan gelap, sebentar lagi dunia akan runtuh.