Tragedi Oktramuliana (8)

Konsep Semangat

Jika perjuanganmu belum berhasil, maka butuh perpanjangan. Begitulah kalimat yang berulangkali terucap di dalam lingkaran rumah peradaban demi meningkatkan semangat berlawan yang kami miliki. Semangat yang tak boleh diruntuhkan dari tirani manapun.

Berbagai cara dilakukan untuk menguatkan semangat agar tetap menjadi  api yang menyala-nyala, melahap apapun. Menguatkan dengan sharing gagasan setiap pekan, berdiskusi lalu beraksi dalam tempo yang sesingkat-singkat. Bacaan tak dibiarkan membasi di kepala, tapi harus segera membasis di kepala orang-orang baru. Tulisan-tulisan bukan hanya memuat kegelisahan, tetapi juga menyembuhkan keresahan. Bagi kami, semangat perlu sengatan.

Salah satu buah semangat yang kami miliki, yakni lahirnya sekolah inovasi makanan untuk anak-anak perempuan yang kami bina di rumah peradaban. Tentu saja, pencetus utama ide ini adalah Ana. Menurut Ana, makanan adalah sumber dari segala kekuatan. Gizi dan inovasinya harus segera diajarkan agar kedepannya, mereka-mereka ini dapat menyajikan makanan yang bergizi dan menarik untuk keluarganya. Jika keluarganya sehat maka peradaban akan sehat.

“Selain itu, anak-anak ini butuh ekonomi kreatif pendukung, jika mereka dapat memanfaatkan sekolah inovasi makanan ini, hal ini dapat menguatkan ekonomi-ekonomi berbasis rumah tangga kedepannya,” ujar Ana menguatkan pendapatnya, waktu itu.

Ana memang mengemas sekolah khusus ini, bukan hanya sekedar menyalurkan hobi para anak-anak perempuan binaan, tetapi juga mengajarinya berbisnis. Contohnya, setelah membuat kue, tak ada satupun diantara kita yang hadir di rumah peradaban mencicipi kue buatan mereka secara gratis. Semua wajib membeli hasil karya yang tersaji, tanpa nego.   

Soal ini, Ana berulang kali menegaskan, bahwa perempuan harus dihargai. Jika memang lelaki berharap perempuan fokus di dapur, maka perempuan bisa saja melakukan hal itu secara kreatif dan betul-betul melakoninya sebagai pekerjaan. Tapi ingat, kata Ana, jangan pernah menilai pekerjaan itu sebagai sesuatu yang miskin apresiasi. “Anda kaum lelaki, selalu mengatakan bekerja mencari uang dan selalu saja ingin diapresiasi, sementara kami mengolah tenaga dan pikiran agar kaum lelaki bisa menjadi kuat, tetapi tak perlu diapresiasi. Ini sama halnya memberi makan singa, setelah kuat mereka balik menerkam,” Ana berkisah.

Mendengar pemaparan Ana itu, aku kemudian berbisik kepada Imnyung, “Ana sementara memelihara singa, atau kamu sementara berteman dengan singa?” Imnyung hanya nyengar-nyegir. “Mudah-mudahan dia panda berbulu singa,” ucap Imnyung dengan mulut di dekatkan di telingaku.

“Imnyung, ada apa senyam-senyum,” Ana tiba-tiba mengertak.

“Imnyung mengaku sebagai singa ompong,” ucapku bercanda dan semua yang hadir tertawa melihat muka Imnyung tiba-tiba memerah.

Imnyung… Imnyung… saya membayangkan gizimu stabil, tapi akalmu ketar ketir.

Oh iya, di rumah peradaban. Imyung punya ide yang lebih gila. Dia menginisiasi gerakan berkebun bagi anak-anak lelakinya. Tiap sore, sepulang sekolah anak-anak akan menemui Imnyung bercerita tentang manfaat tumbuh-tumbuhan sambil membereskan kebun-kebun di belakang rumah peradaban. Berupa-rupa tanaman yang ada, lebat-lebat seperti rambut kribonya.

Setelah berkebun, dia meminta anak-anak lelaki itu duduk di bale-bale dan Imnyung pun membacakan cerita-cerita pendek kepadanya. Anak-anak suka dan setelah Imnyung membacanya, beberapa diantaranya mencoba memperagakan sekuel-sekuel kisah.

Soal hasil kebun, Imnyung punya cara pengelolaan sendiri. Selain dibagi-bagi untuk disantap di rumah masing-masing. Imnyung kerap meminta Ana untuk melakukan inovasi masakan bersama anak-anak perempuan.

Terlihat mereka kompak soal ini, tapi kami yang apes. Berapa lagi harga makanan inovasi itu, yang harus merogoh kantong-kantong kami? Tak apalah, yang penting keduanya berbahagia.

Nah, hari ini kami dikunjungi oleh Manisi Dg Te’ne. Perempuan manis yang semangat juangnya tak pernah kami ragukan. Kedatangannya sangat mengapresiasi langkah-langkah rumah peradaban dalam mengajarkan kemandirian generasi muda, utamanya anak-anak. Dia mengakui, bahwa anak perempuannya, Siti, yang kerap ke rumah peradaban telah tumbuh menjadi pribadi mandiri.

“Siti tak membiarkanku memasak lagi, apa yang kamu ajarkan, nanda? Tanyanya kepada Ana.

“Tak ada yang diajarkan, Ibunda. Kecuali semangat,” ucap Ana.

“Saya juga perlu belajar semangat dari Ananda,” kata Manisi.

“Justru semangat Ibunda, yang selalu menginspirasiku,” Ana menimpali.

“Begini Ananda, ibu-ibu yang aku bina juga butuh semangat. Bisakah Nanda Ana, meluangkan waktu?”

Ana mengiyakan itu tanpa ragu.

Sebelumnya I Selanjutnya