Kutulis Yang Tulus dan Kuhapus Yang Urung

Ada menungguku berhenti bicara
Mestinya ada pelangi malam ini
Di mata dan di balik kaca jendelamu
Daun dan genteng rumah saling menggapai jemari.
tapi kau selalu tidak tersentuh
itu yang membuatku selalu merasa tidak berumah dan tidak pernah pulang.

Aku ingin berhenti bicara
mendengar nyanyian rintik hujan juga rintihku sendiri
tapi sepotong roti dilumuri selai rasa strowberi
Mengangah di hadapan ku,
aku membayangkan bibirmu yang basah, menyeruput segelas kopi sore hari
seketika aku cemburu pada benda, gelas yang menyentuh mulutmu.

Aku belum juga terhenti
mungkin kau perlu datang menyumbatku.
Terkadang, aku tidak punya tempat di bumi untuk bahagia.
Juga, kafe tempatku duduk sekarang menyangga tulang punggungku
Entah bagian tubuh mana lagi yang tidak pernah kau sentuh?
bisa dikata, aku telah lumpuh tapi begitu kuat merindu.

Aku berutang puisi padamu.
Kutulis saja yang tulus dan kuhapus semua yang urung.
Puisi selalu tidak akan selesai
Seperti lidahku yang lunak
Tidak berhenti mengeja kata-kata pasti
Barangkali cinta tidak akan selesai diurai
Pun jiwaku, selalu sesak dan terdesak
Jika kau datang menagih rindu padaku.
Berkali-kali.