Izinkan Aku Membenci Ayahku

“Izinkan aku membenci ayahku”
Dia adalah bintang dalam kehidupan
Cahaya dalam kegelapan
Yang kasihnya mengayomi
The first love bagi anak gadisnya

Namun ayahku berbeda, ia sangat berbeda dengan sosok ayah kebanyakan. Yang harusnya mendidik anaknya dengan kasih sayang hingga anaknya bisa bermanja-manja padanya, namun ibarat menanti matahari di malam hari semuanya hanya sekadar imajinasi ku.

Ayahku kerap memaki dengan perkataan kasarnya. Karena kesalahan kecil ia kadang melayangkan pukulannya padaku, hingga lebam memenuhi tubuhku.

Apakah aku seburuk itu di matanya? Hingga ia lupa bahwa aku anak gadis satu-satunya dalam hidupnya. Mungkin saja ayahku teramat menyayangiku (itu pikirku) hingga aku menganggap ini wajar-wajar saja. Hingga lebam di tubuhku sembuh aku tetap merasa ayah menyayangiku.

Hingga satu waktu ayahku melontarkan kata yang sangat menyayat hatiku “Berhenti saja mengajar! Mana ada orang gila mengajar”. Sontak aku tersentak di antara sadar dan tak sadarku (aku masih dalam keadaan tidur). Namun telingaku merekam setiap detak getaran suaranya yang menggema di teras rumah.

Sejak saat itu aku benci dengan ayahku, aku benci dengan pikiranku yang menghantam dewa dalam kehidupan ku. Tuhan maafkan aku karena membenci ayahku, namun aku teramat terluka karenanya.