Menemui Kematian

Kiranya kalimat apa yang cocok untuk kita saat bertemu kelak.

“Halo apa kabar?”
atau
“Senang bertemu denganmu?”

***

Saat itu aku tengah duduk di tepi trotoar sambil memikirkan hal-hal yang selalu ditolak oleh nalar—

Aku adalah pengangguran di kota ini, kota dengan gedung-gedung menjulang yang tidak pernah ramah kepada siapapun. Baru saja aku dari sana, salah satu gedung tinggi di ibu kota ini, tiap pagi aku keluar masuk dari gedung satu ke gedung lain menawarkan naskah cerita yang ku tulis sendiri dengan perasan dan inti sari otakku yang kupadatkan menjadi huruf lalu kususun menjadi beberapa paragraf yang kurasa layak disebut sebuah cerita.

Seperti hari-hari kemarin orang-orang di gedung angkuh itu selalu menolak cerita yang kutawarkan. Perempuan yang menjaga di pintu masuk pun hanya bisa tersenyum sembari menyodorkan kembali tulisanku, “maaf pak, tulisan bapak tidak cocok dengan harian kami.”

Pukul 19.20, aku baru saja keluar dari gedung terakhir. Aku berniat pulang, hingga pada suatu ketika tanpa sadar ku dapati diriku tengah duduk termanggu di pinggir trotoar sambil memikirkan hal-hal yang selalu ditolak oleh nalar. Jalanan dengan penerangan yang remang, suara deru mobil yang berpacu dengan waktu, derap langkah yang gelisah ingin cepat sampai rumah, juga aspal yang tergilas roda-roda yang saling berkejaran semakin menegaskan bahwa semua yang ada di dunia ini tengah berlomba dengan waktu. Untuk apa semua itu? Orang-orang sibuk memburu ambisi padahal mereka tahu bahwa kelak mereka akan mati, bukankah setiap yang hidup akan mati? Lalu untuk apa semua ambisi itu? Ah, aku juga sama seperti mereka, bukannya aku sampai di tempat ini karena suatu ambisi. Apakah orang-orang yang berlomba dengan waktu akan cepat bertemu dengan mautnya? Bukankah yang melangkah selangkah di depan akan lebih cepat mencapai tujuan? Bukankah mati adalah akhir dari hidup di dunia? Nyatanya teori-teori itu salah, tidak ada bedanya orang yang bergerak dan tidak bergerak, mereka akan sama-sama bertemu dengan kematiannya masing-masing. Aku berpikir tentang teori yang lain, yang bisa kujadikan rujukan paling mutakhir bahkan kalau perlu teoriku bisa menjelaskan kematian lebih dari kitab suci. Aku memikirkannya dengan serius, satu tanganku menopang dagu, dahiku sengaja ku kerutkan agar menambah kesan serius.

“Bruaaaaakkk…..!!”

Aku terkejut mendengar suara keras seperti sesuatu yang sedang terhantam. Aku menoleh secepat yang aku bisa, namun benda besar yang terpelanting melayang ke arahku lebih dulu menimpaku. Dengan tubuh yang setengahnya tertimpa benda besar itu, aku melihat sesosok tubuh yang berjalan menghampiriku, dengan penglihatan yang samar sosok itu nampak remang, gelap bahkan seperti bayangan.

“Sesungguhnya aku diperintahkan oleh Tuhanku untuk menjemputmu, di hari ini dan di tempat ini pula”, aku hanya bisa tersenyum tanpa sempat memikirkan kata apa yang cocok untuk kami.