Hijrah Syndrome

Sekarang mengenal Islam sudah ada cara yang lebih enjoy dan gaul. Dipandu oleh para penceramah ustads milenial dengan gaya yang kekinian. seperti Hanan Attaki, Bang Tato, Oki Setiana Dewi dan masih banyak lagi penceramah milenial yang siap menginspirasi, dan sesuai dengan sense anak muda zaman sekarang dalam membantu mereka merasakan manisnya ilmu agama (Islam). Tentunya masing-masing ustads memiliki karakter dakwah tersendiri, dalam menyampaikan dan menginterpretasi suatu pesan agama, untuk suatu praksis kehidupan.

Dengan adanya karakter dakwah yang dimiliki oleh masing-masing ustads. Seakan menjadi variabel tersendiri, mengapa kemudian event hijrah fest makin banyak diminati oleh jamaah khususnya bagi kaula muda. Pun belakangan ini massanya hampir sama dengan massa pada setiap event konser musik. Adanya keragaman karakter yang dimiliki oleh masing-masing ustads tidak lain adalah untuk mengakomodir kebutuhan emosional dan psikologis jamaah. Agar tidak jenuh menerima asupan interpretasi wahyu dan wahyu itu sendiri.

Mulai dari yang energik, santuy (santun kata anak zaman now), penuh joke, adem ayem, hingga yang pake “uratan” lantaran spirit dakwah yang membara dalam diri. Semuanya bersatu dalam momentum event hijrah fest, yang belakangan ini marak diselenggarakan di seluruh penjuru negeri. Uniknya, para jamaah event tersebut, berasal dari berbagai ragam background kehidupan dan usia. Tidak sama dengan pengajian yang secara konvensional dilaksanakan.

Terkadang hanya diisi oleh emak-emak pengajian dan bapak-bapak kumisan yang sarungan. Jamaah event hijrah sangat inklusif. Mulai dari latar belakang aktivis dakwah kampus. kelompok skaters dan beberapa komunitas gaul (boleh dikata dinamikanya jauh dari nilai-nilai agama), para profesional. Hingga jamaah yang berasal dari bidadari kompleks suatu perumahan, bahkan anak muda alaypun ada. Yang gak tau asal usulnya dimana, tiba-tiba muncul ke medan pengajian, sekalipun tak jarang sekadar mencari bahan instastory.

Terlepas dari itu semua. Kita patut bersyukur. Berkat kehadirannya, event-event hijrah seperti yang telah saya refleksikan, baik sifatnya tertutup (Eksklusif) ataupun terbuka (Inklusif). Setidaknya memberikan proteksi secara ideologis dan spiritual terhadap masyarakat muslim. khususnya terhadap para pemuda muslim, sebagai generasi penerus risalah kenabian. Diharapkan mampu menjaga kesucian ajaran agamanya (Islam) dimana dan kapanpun dia berada.

Mengingat dewasa ini, gempuran doktrin kehidupan yang sarat dengan nilai sekularisme dan proses westernisasi. Akan siap menggiring kehidupan umat muslim dari lembah maksiat hingga ke gerbang pemurtadan. Namun dibalik kesyukuran kita selaku umat muslim. Melihat perkembangan dakwah Islam, kian maju dan inovatif Serta mampu menyentuh seluruh kalangan masyarakat Islam dalam menyerap nilai-nilai keagamaan.

Tentunya akal sehat dan analisis kritis kita, terhadap setiap proses perkembangan dakwah harus senantiasa tetap menyala dan seimbang seiring masuknya pencerahan yang kita terima oleh para ustads. Mengapa demikian? Terutama sebagai salah satu wujud penghargaan kita Terhadap Allah SWT yang telah menganugrahkan akal pikiran. Sebagai alat penerjemah yang otoritatif, dalam mengurai belantara wahyu, kaitannya dengan proses praksis kehidupan agar Islam mampu terus teraktualisasikan sesuai konteks dinamika zaman.

Dan juga tanpa keterlibatan akal dan proses analisis kritis yang objektif terhadap praksis “hijrah” yang saat ini berwujud sebuah event yang terorganisir dan tak jarang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok pengajian tertentu. Bisa jadi akan kita dapati kejanggalan-kejanggalan halus, namun secara sistematis akan mereduksi substansi ajaran Islam itu sendiri sebagai agama yang penuh kedamaian. Menjelma menjadi Islam yang identik yang penuh sesak indoktrinasi yang sektarian.

Patologi Hijrah
Bersama kita bisa amati secara kasat mata. Eksistensi, juga bebet bobot event hijrah yang belakangan ini menjamur. Cukup membawa dampak signifikan terhadap transformasi kehidupan umat muslim di Indonesia di berbagai tempat. Terutama dalam hal busana, penampilan, hingga tingkah laku (cadar, cingkrang, berjanggut, siwakan, menghindari dialektika dan memilih untuk berdiam dalam perkara ukhrawi dsb). Sangat jelas penampakannya dengan dalih (bagi kelompok masyarakat muslim berdasarkan ciri-ciri tersebut) sebuah praktik kehidupan untuk menghidupkan sunnah rasul dan jika tidak serupa.

Menganggap masyakarat muslim lainnya, belum ada upaya sama sekali  untuk kecintaan terhadap Rasulullah SAW atau boleh dikata cintanya bukan murni 24 karat. Demi menganulir kekecewaan anggapan tersebut. Masyarakat muslim lainnya terkadang sampai iseng dengan membalasnya sebagai suatu lelucon. Katanya perubahan secara penampilan disertai dengan tingkah laku tertentu adalah salah satu masyarakat hasil produk “event hijrah” atau hijrah chalenge.

Jadi harap maklum saja terhadap kelompok tersebut atas cara pandang mereka. Adanya dinamika itu memberikan refleksi secara implisit. Bahwa tidak menutup kemungkinan, sekalipun yang saya gambarkan secara sederhana (namun realitasnya seperti itu) bisa menjadi cikal bakal solidaritas umat muslim pecah. Karena adanya perbedaan mendasar, namun mencolok di tubuh masyarakat umat muslim Indonesia yang bermotifkan suatu sikap saling banding membandingkan. Tak pelak lambat laun menjadi suatu prinsip eksklusifisme beragama.

Tak hanya dalam realitas kita menemukan fenomena kehidupan masyarakat hijrah. Lagi-lagi terlepas dari asal-usul yang mengadakan event hijrah tersebut (sejauh pengetahuan saya event hijrah, terkadang diinisisasi oleh beberapa organisasi Islam yang memiliki haluan fiqih dan ideologi yang sangat eksklusif dan fundamental). Dalam dunia maya (Media Sosial) acap kali kita menemukan seseorang yang mungkin saja baru kemarin pulang dari event hijrah. Gara-gara terilhami oleh satu paket hadits dan ayat dari penceramah yang mungkin saja, baginya memiliki kebenaran absolut dibanding penceramah lainnya bahkan manusia lainnya.

Dengan semangatnya memposting suatu hadits dan ayat yang berkonotasi “pelarangan” menyinggung salah satu aspek aktivitas kehidupan. Disertai dengan caption yang membuat pembaca yang “belum hijrah”, seketika merasa hina dina. Adakalanya hanya sebuah tulisan berupa ayat atau hadits. Tak ketinggalan gambar dengan tema neraka atau gambar yang sifatnya mendramatisir.

Seolah yang melihat dan membacanya tanpa diringi dengan proses berfikir yang kritis dan sangat awam memahami Islam. Merasa seakan seperti hamba yang tak pantas memasuki surga hanya dengan iman yang seadanya. Diperparah tanpa sedikitpun landasan argumentatif dan filosofis. Padahal Allah SWT, tidak menurunkan suatu wahyu kepada setiap utusannya, dan nabi/Rasul tidak mengeluarkan sebuah instruksi kepada ummatnya berupa sunnah.

Melainkan terdapat alasan tertentu dan ibrah yang memberikan stimulus bagi mekanisme kerja akal untuk berfikir dan bertindak secara bijak terhadap kehidupan yang ditetapkan oleh Allah SWT (dunia dan akhirat). Bukannya wahyu dan sunnah menjadi media untuk membunuh karakter keimanan seseorang. Apatah lagi menjadikan dalil naqli sebagai pembenaran atas model keyakinan mereka dalam memahami Islam. Dan menutup rapat-rapat ruang diskusi secara ilmiah, karena ditengarai akan menumbulkan perdebatan sebagai suatu perbuatan setan.

Hijrah Fest: wadah persatuan atau titik perbedaan
Sejarah telah membuktikan. Kejayaan Islam pada masa klasik begitu mudah diraih oleh beberapa tokoh pemimpin Islam pada zamannya, padahal perbedaan antar umat saat itu, sangat mencolok dan mewarnai proses kepemimpinan setiap person khalifah saat itu. Sejarah kejayaan Islam bukan hanya sekadar sejarah, sebagaimana sering kita dengar dari mulut ke mulut, dari kisah-kisah kejayaan yang dibawakan oleh ustads ke ustads, dari pengajian hijrah 1, 2, 3.

Tapi fakta sejarah kejayaan umat Islam, pada dasarnya turut terabadikan oleh literatur-literatur yang akuntable bahkan sudah terlegitimasi terhadap setiap akademisi, cendikiawan, para pakar sejarah. Bahwa Islam “pernah” menjadi salah satu agama yang tidak hanya menjadi agama yang dogmatis namun juga turut berdedikasi dan memiliki apresiasi atas kemajuan ilmu pengetahuan. Namun sejarah tinggallah sejarah, kejayaan umat Islam saat ini tidak lagi menuai hasil sebagaimana Islam di zaman para khalifah terdahulu dalam mengkonsolidasikan gerakan umat Islam.

Sekarang kisah kejayaan Islam hanya tinggal sekedar menjadi dongeng belaka, hanya pemanis dan pemantik semangat berdakwah yang terkadang hanya berujung anti klimaks bagi para jamaah. Alih-alih mengharapkan suatu persatuan umat, sebagaimana umat Islam yang terdahulu yang memiliki kedaulatan yang kokoh dalam membendung bermacam serangan dari musuh-musuh Islam. Namun di dalam tubuh Islam sendiri masih ada kelompok yang berjibaku.

Memproklamirkan kiri kanan, fanatisme fiqhi dan ideologinya masing-masing, untuk diinternalisasikan terhadap seluruh individu jamaah pengajian hijrah apapun bentuknya. Masih syukur jika kita mendapatkan para ustads atau mungkin kiyai (tergolong) muda, yang corak dan karakter berdakwahnya dalam mengisi event-event hijrah. Agak moderate (proporsional) namun bukan juga berarti permisif dalam praksis keagamaan. Karena masih memungkinkan untuk membentuk paradigma jamaah yang holistik dan komprehensif dalam memahami agama berdasarkan karakteristik bangsa Indonesia.

Kalau yang mengisi adalah para ustads yang memiliki kecenderungan beragam yang sangat fundamental. Tanpa ada toleransi sedikitpun dalam praksis kehidupan beragama; musik haram karena dianggap menggersangkan jiwa dan merusak hati, tanpa dibekali argumentasi yang rasional serta mengabaikan bukti-bukti yang juga bisa menjadi penyeimbang. Celana harus diatas mata kaki (Isbal) kalau tidak, akibatnya neraka. Itupun tanpa didasari analisis sejarah dan asbabul wurudnya. Dan yang ada hanya semacam dalil ancaman.

Demikian cadar (Niqab). Ada yang hukumnya wajib hingga sunnah bahkan mubah. Berikut penjabaran para pernyataan tokoh mazhab yang bagi sebagian kelompok berhaluan fundamental. Berupaya mentaktisi agar lebih cenderung menjabarkan mazhab yang lebih pro terhadap cadar (Niqab) dan bercelana cingkrang (Isbal). Sesuai dengan prinsip beragama mereka yang “hitam putih”. Agar mudah menarik jamaah yang secara dogmatis dan awam ingin memahami Islam, langsung bisa menjadi bagian daripada kelompoknya.

Saya bukannya bangga, melihat mereka berbusana syar’i selepas dari pengajian hijrah, dan juga tidak membenci mereka mengamalkan nilai-nilai sunnah (bagi kelompok tertentu: niqab dan Isbal adalah salah satu bagian daripada fenomena kehidupan sunnah nabi). Akan tetapi sangat disayangkan jika semua pengamalan nilai-nilai itu hanya ditelan mentah-mentah dan jika bertemu dan ditanyakan tentang landasan daripada apa yang ia kenakan. Merekapun mengelak dan memilih diam, kalau bisa menghindari untuk berdebat yang pada dasarnya (bagi mereka) sudah merupakan ketetapan final.

Kondisi keberagamaan kita, sebagaimana yang saya jabarkan di atas. Hanya sebagaian kecil dan kebanyakan muncul dipermukaan akhir-akhir ini adalah salah satunya tentang niqab dan isbal. Bukannya saya termakan oleh isu radikalisme yang di framing oleh pemerintah yang dimulai sejak beberapa bulan yang lalu. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya.

Hanya saja tulisan ini hanya bermaksud untuk mengkritik dan memberi saran membangun untuk bahan evaluasi (jikapun dirasa cukup untuk dijadikan saran, kalau tidak? Maka mari kita duduk dan ngopi bersama) bagi perkembangan kelompok-kelompok pengajian hijrah, yang lebih cenderung saya melihat pemahaman Islam, jamaah hasil hijrah fest. Perubahannya hanya signifikan pada tataran estetik dan fanatisme berlebihan. Yang juga seharusnya dalam event-event hijrah yang perlu ditekankan adalah substansi berislam yang sesuai spirit profetik yang sangat revolusioner.Sehingga jamaah mampu menangkap spirit keislaman yang begitu semangat dan membara dan merasa ia (jamaah) bagian daripada suatu perubahan tatanan peradaban. Bukan bagaimana membangun perbedaan secara simbolik, mana masyarakat Islam hasil pengajian hijrah mana yang hasil pengajian masjid-masjid kompleks perumahan. Hal tersebut adalah salah satu bentuk pendefinisian hijrah yang sangat sempit diartikan yang tentunya akan menimbulkan sebuah konflik yang memicu dampak sistemik antar sesama umat muslim. Dan menghambat perkembangan umat Islam menuju sebuah persatuan ummat.