Hoaks, Kritik, dan Literasi

Fenomena hoaks, kritik pembaca dan gerakan literasi

Hoaks adalah berita palsu. Berita bohong. Informasi yang sesungguhnya tidak benar. Fenomena hoaks ini sangatlah merajai kemajuan teknologi saat ini. Informasi yang tidak benar namun didesain sedemikian rupa seolah olah benar (fakta) adanya. Alhasil begitu banyak yang menjadi korban hoaks.

Fenomena hoaks sangatlah mempengaruhi kehidupan siapa saja. Dalam hal ini wacana kritik sangatlah rentan terjadi. Isi-isu yang beredar tidak lepas dari kritik para pembacanya. Peredaran informasi yang begitu cepat bisa saja membius paradigma berpikir tiap individu. Tak jarang individu atau kelompok tertentu beradu argumentasi tentang isu yang beredar. Padahal isu itu belum tentu benar adanya.

UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Minat baca sangatlah rendah. Sentral Connecticut State University, Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara soal minat baca. Padahal hampir tiap individu memiliki gadget, medsos. Namun miris, minat baca sangatlah kurang. Wajar saja jika hoaks begitu mudah merambah kehidupan masyarakat.

Menanggapi hal ini perlu adanya gerakan literasi di tengah tengah kehidupan masyarakat. Peranannya sangatlah penting dalam merujuk berbagai informasi atau isu yang beredar. Bagaimana individu mengolah dan memahami informasi ketika melakukan kegiatan membaca dan menulis. Menurut Alberta, arti literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Jadi fenomena hoaks, kritik pembaca dan gerakan literasi sangatlah erat kaitannya.

Apapun yang sedang hangat diperbincangkan kita dituntut menjadi pembaca yang kritis, berpikir kritis dalam menanggapinya. Banyak individu yang begitu mudahnya terpancing atas isu-isu yang beredar tanpa mengolah dan menelaah terlebih dahulu. Jika hal ini terus terjadi akan memunculkan berbagai argumen yang bisa saja merujuk pada wilayah hukum.

Jadilah pembaca yang kritis, tanggap terhadap segala sesuatu yang sifatnya masih diragukan kebenarannya. Jangan seperti layangan, jika tidak mempunyai ikatan yang kuat, akan lepas, dan orang orang yang melihatnya akan berlomba-lomba mengejarnya.

Makassar, 20 Nov 2019