Berawal dari Rasa Heran

Konon dunia “gelap gulita”, sebelum manusia “memainkan” perannya di atas “panggung” dunia. Mengapa “gelap gulita”? Karena sebelum manusia- yang dalam dirinya terdapat “Aku yang sadar”- semesta ibarat “orang buta”, tak bisa menyadari keberadaannya sendiri. Secara astronomis, matahari memang memancarkan cahaya akibat reaksi nuklir tiada henti pada intinya, menggapai benda-benda angkasa hingga bermilyar-milyar kilometer jauhnya, tetapi matahari tetaplah “buta”, karena dirinya tak bisa memperkarakan keberadaannya, alias bertanya “siapakah saya?”. Lalu manusia datang puluhan ribu tahun silam, selain makan-bertahan hidup-kawin dia juga sibuk mencari jawaban akan pertanyaan “siapakah saya?” manusia adalah “makhluk yang mencari dirinya sendiri”.

Berjuta upaya dilakukan untuk menjawab pertanyaan simpel tapi memusingkan tersebut, tak sedikit permenungan-permenungan dilakukan, dan jawaban-jawaban pun datang berturut-turut, silang-menyilang, ada yang saling melengkapi tapi tak sedikit pula yang saling menegasi. Hal ini dengan apik diwakilkan oleh patung yang dibuat oleh Auguste Rodin pada tahun 1880, yang diberi nama “Sang Pemikir”. Patung tersebut berpose sederhana, tapi sarat pesan alias bermakna. Terlihat seorang pria telanjang, yang walaupun bertubuh kekar, tapi tak berada dalam posisi “santai” ataupun “tegang”, dia berada dalam posisi “serius”. Satu-satunya objek di luar diri “sang pemikir” adalah batu yang didudukinya, tapi tangan kanan menopang dagu, seakan-akan “sang pemikir” beban terberat tubuhnya ada di “kepala”.

Karya Auguste Rodin seakan-akan ingin memberikan pesan kepada kita, bahwa manusia adalah makhluk yang disibuki oleh “kepalanya”, makhluk yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Saya teringat dengan Phytagoras yang membagi manusia ke dalam tiga tipe, mereka yang mencintai kesenangan, mereka yang mencintai kegiatan dan mereka yang mencintai kebijaksanaan. Tipe pertama dan kedua juga biasa disebut “mereka yang phylo (cinta)-soma (tubuh)”, dan tipe ketiga biasa disebut dengan istilah “mereka yang phylo (cinta)- sophia (kebijaksanaan)”. Dan oleh Lorens Bagus dalam Kamus Filsafat, menyebut Phytagoras sebagai orang yang pertama menggunakan kata Phylosophia yang jika diindonesiakan menjadi filsafat. Patung ”Sang Pemikir” bisa dikata repressentasi manusia tipe ketiga Phytagoras, “Sang Pemikir” bisa dikata sebagai representasi filsuf.

Apakah filsafat itu? yah paling banter kita akan mengasosiasikannya sebagai disiplin ilmu tertentu, disiplin ilmu yang mempunyai segudang gagasan aneh tapi masuk akal, atau paling-paling menganggapnya sebagai upaya spekulatif-rasional-sistematik-radikal dalam menelisik segala aspek realitas. Tapi apapun definisinya, filsafat adalah sebuah pencarian dan dalam pencarian senantiasa ada “ketidakselesaian”, dan inilah yang membedakan antara filsafat dan teologi. Teologi senantiasa berhasrat akan “ke-final-an” alias “ke-selesai-an”, sedangkan filsafat ibarat orang yang setiap harinya memberikan yang terbaik buat kekasihnya, walaupun senantiasa sadar bahwa apa yang dianggapnya “terbaik” tak pernah mencukupi. Filsafat adalah upaya “mendayagunakan” akal-budi hingga ke batas maksimnya (walaupun belum jelas tentang perkara batas maksim kerja akal-budi), atau bisa juga dikatakan “pengembaraan” manusia dalam memahami segala sesuatu dengan cara yang masuk akal.

Walaupun bagi Plato filsafat erat kaitannya dengan penemuan kenyataan “mutlak”, bagi Aristoteles filsafat erat kaitannya dengan aktifitas pikiran yang berurusan dengan penelitian sebab-sebab “akhir” dan prinsip-prinsip segala sesuatu, tapi sampai hari ini perjalanan filsafat jauh dari kata “mutlak” dan “akhir”. Selama ada problem dalam kehidupan manusia, maka akal-budi manusia takkan berhenti pula “pencarian” dan “pengembaraannya”, dan uniknya bagi manusia “problem” bukan sekedar batu sandungan tapi diterjemahkan sebagai tantangan, inilah yang menjadi bahan bakar rasa “heran” tiada habisnya pada diri manusia, ”Filsafat berawal dari rasa heran” kata Plato.

Manusia tak sekadar “ada”, tapi merasa heran dengan “ada”nya, begitu pula “ada” nya semesta maka lahirlah ontologi. Manusia tak hanya sekadar menatap bintang gemintang di malam hari sebagai penghibur hati, dan menjadikannya sebagai alat navigasi, tetapi juga merasa heran dengannya, dan bertanya “mengapa bintang gemintang, bulan, matahari dan benda-benda langit lainnya bisa nampak sedemikian adanya?”, “apakah penampakannya senantiasa seperti yang nampak pada saat ini?, bagaimana penampakannya di masa lalu bahkan di masa lalu yang jauh, dan bagaimana penampakannya di masa depan bahkan di masa depan jauh?”, “apakah semesta ini ada dengan sendirinya? ataukah adanya disebabkan oleh selain dirinya?”, maka lahirlah kosmologi. “apakah segala sesuatu ini ada seperti yang nampak pada indera saya?”, “jika indera seringkali menipu, lalu apa selain indera yang bisa digunakan untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih terpercaya?”, maka lahirlah epistemologi. Manusia senantiasa terdorong untuk melakukan “yang baik”, tapi kenyataannya setiap masyarakat punya parameter “yang baik” yang berbeda-beda, “apakah ada takaran universal untuk kebaikan, yang melampaui kebiasaan-kebiasaan yang berbeda-beda?”, “lalu apa itu kejahatan?”, maka lahirlah etika.

Tapi rasa heran hanyalah awal bagi filsafat, tapi bukan segala-galanya, dan Rene de Scartes menunjukkan ini. Takjub dan heran mesti diikuti dengan rasa ragu, bahkan mendesak keraguan sampai ke batasnya. Tapi “ragu” di sini tidak berarti “tanpa pendirian” atau “plin-plan”, fiilsuf bisa diibaratkan (walaupun ini tak cocok sepenuhnya) sepasang kekasih yang begitu saling mencintai, tapi tetap meragu dengan pertanyaan-pertanyaan, “apakah saya sudah begitu layak dicintai?”, “apakah cinta yang diberikan sudah mencukupi?”, “apakah dia mencintai saya sebagaimana yang saya pikirkan?”, tapi justru rasa ragu ini lah yang mendorong filsuf untuk terus mengantisipasi pengetahuan dan gagasan-gagasannya sendiri. Filsafat memang melelahkan tapi juga mengasyikkan, bahkan menurut Hegesis filsuf dari Kirene filsafat bisa mengajarkan kita untuk menghadapi derita.

Teguh berpegang pada rasio merupakan salah satu keutamaan filsafat, dan inilah yang membedakannya dari agama atau seni, misalnya” ucap Bryan Magee dalam The Story of Philosophy. Tapi itu tak berarti filsafat tak memperkarakan rasio, memperkarakan klaim yang sering “diam-diam” dibuat oleh rasio bahwa “dirinya dapat menjelaskan segala sesuatu”. Filsafat seakan-akan menghadapkan cermin di hadapan rasio, dan membuat rasio “menembakkan” pertanyaan-pertanyaanya ke bayangannya pada cermin lalu memantul kembali pada dirinya, filsafat membuat rasio menghadapi dan meragukan dirinya sendiri. Walaupun dalam sejarah filsafat, terkadang ditemukan ungkapan kepercayaan diri rasio, tapi yakin itu tidak selamanya bertahan.