Lelaki Gerimis

Aku terbangun saat gerimis membasahi pagi ini. Matahari tak nampak. Semuanya tertutupi oleh gerombolan awan yang hitam pekat. Aku tahu hujan akan turun dengan derasnya. Kaca jendela kamarku terlihat buram oleh tetesan-tetesan dan percikan-percikan air hujan. Suasana di luar tidak terlalu nyata bagiku jika melihat dari jendela buram itu. Seperti pikiranku. Tak tentu. Mengenai kekasihku di luar sana. Semuanya tidak nyata bagiku.

Telah genap dua tahun perpisahanku dengannya. Namanya Parsum. Nama itu akan selalu terukir di dalam lembaran hatiku. Senyumnya mampu meneduhkan hatiku di hadapannya. Rambutnya hitam dan panjang selalu ia biarkan terurai. Jemari tangannya begitu mungil. Mengingatkanku pada jemari bayi. Sentuhannya begitu hangat. Katanya ia akan kembali menemuiku. Mengukir kembali janji yang telah lalu. Aku akan selalu menunggunya kembali kepadaku. Kembali bersama dengan janjinya.

Kemarin aku mendapatkan surat darinya. Saat merabanya begitu lembut. Selembut hatinya, pikirku. Dengan kerinduan yang membuncah, aku membuka surat itu. Perlahan membacanya. Semua goresan tangannya di surat itu seperti mulutnya yang berbicara kepadaku. Seolah aku mendengar suaranya. Sebenarnya ini bukan suratnya yang pertama. Telah banyak surat yang ia kirim kepadaku beberapa bulan yang lalu. Aku tahu ia masih setia dengan janjinya kepadaku hingga saat ini. Terakhir di dalam suratnya ia akan kembali menemuiku saat musim kemarau telah tiba. Di saat malam bergerimis. Dua bulan lagi.

***

Aku tahu ia akan datang menemuiku. Di sini. Di musim kemarau pada saat gerimis datang. Ia tahu aku menyukai gerimis. Sentuhan yang begitu lembut kepada raga bumi. Begitu menyerap ke dalam tanah dan langsung mengalirkan kehidupan. Seperti aku katanya. Begitu tersentuh dengan guyuran gerimis, aku seperti memberikan kehidupan kepadanya. Ah, itu hanya katanya saja.

Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh dengan gundukan tanah dan beberapa batuan yang besar. Sungguh tidak nyaman berjalan di jalanan ini. Namun semua itu kutepis. Aku berjalan dengan matahari yang setianya memancarkan cahayanya ke bumi ini. Peluh. Bulir-bulir keringat keluar dari pori-pori di tubuhku. Sepatu kulit yang sudah aku semir sejak di rumah kini bertaburan debu seperti roti yang diolesi selai cokelat. Ku seka keringat yang membumi di tubuhku. Namun senyuman masih terlihat di bibirku yang membuat ku semangat setiap melangkah. Tujuanku harus sampai di rumah sahabat lamaku. Junaedi.

Aku mengetuk pintu rumahnya. Bisu. Hening. Pekarangan rumah sepertinya tidak terurus. Ada banyak dedaunan kering yang tergeletak di teras rumahnya. Aku jadi ragu, apa benar rumah setiap seniman itu seperti ini. Setelah lama bersama kejenuhan menunggu, akhirnya pintu rumah terbuka. Ku lihat sahabatku begitu segar hari ini. Tidak seperti wajah pekarangan rumahnya. Sungguh berbeda. Begitu halnya dengan bagian dalam rumah. Sungguh di luar dugaanku. Setelah setahun tidak berkunjung ke rumah Junaedi, ada banyak perubahan yang aku lihat. Beberapa lukisan-lukisan baru tergantung di dinding-dinding rumahnya. Lukisan yang menarik bagiku adalah yang tergantung tepat di atas buffet dekat kursi tamu. Lukisan itu cukup besar ukurannya. Seorang petani yang memegang cangkul di bawah terik matahari. Tanpa mengenakan baju dengan lelehan keringat keluar di pori-pori tubuhnya. Di bagian bawah lukisan itu tertulis sebuah kata. Ayah.

Kami hanya bercengkerama begitu lama. Sejak setahun tidak pernah bertemu. Melepas beban kerinduan yang selama ini tersimpan. Aku baru tahu ia datang dari Bogor ketika anak tetangga memberitahuku perihal kedatangannya. Wajahnya semakin memudar. Namun sorot matanya begitu teduh dan memancarkan semangat untuk hidup selamanya. Aku jadi bertanya, apa semua mata seniman seperti itu. Namun suara tawanya masih itu-itu saja. Tidak berubah. Aku yajin jika anak kecil mendengar tawanya, ia akan berlari bersembunyi di tengah-tengah selangkangan ibunya. Pasti anak itu mengira kalau suara itu pasti bertubuh raksasa. Padahal tubuh sahabatku begitu kecil.

Hari semakin sore. Aku terlarut oleh perbincangan sahabatku itu. Aku maklumi saja karena begitu lama tidak bertemu sehingga ada banyak hal yang kami bicarakan. Tetapi ia tidak sedikitpun menyinggung Parsum. Kekasihku. Entah mengapa. Padahal hal itulah yang aku tunggu-tunggu.

Aku menjelaskan maksud kedatanganku. Wajah ceria yang tadi menguasai ruangan tiba-tiba berubah menjadi sangat serius. Tentu saja tatapannya yang begitu menegangkan. Seperti ia akan menyerangku saja. Aku pun mengutarakan niatku kepadanya. Maksud kedatanganku ke rumahnya selain mengunjunginya sebagai sahabat lama. Ia begitu serius mendengarkan penuturanku. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut hitamnya karena pengaruh rokok. Seperti dugaanku. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong celana bututnya. Mengisapnya dengan begitu nikmat. Dalam sekejap saja asap rokok mengepul dari mulut dan hidungnya. Aku tahu ia berpikiran serius menanggapi penuturanku. Tak lama aku meninggalkan ia dengan sekotak imajinasinya yang melayang-layang di udara. Hanya senyum yang aku tinggalkan untuk ia.

Bulan depan lukisan yang aku pesan kepada Junaedi harus jadi. Sesuai dengan kesepakatanku seminggu yang lalu. Yah, aku akan memberikan sebuah lukisan kepada kekasihku , Parsum. Lukisan tentang seorang perempuan yang sedang berdiri di bawah sebuah pohon ketapang di saat hujan gerimis mengguyur bumi di suatu malam. Perempuan itu adalah Parsum sedangkan gerimis itu adalah aku sendiri. Namun aku meminta Junaedi untuk membuat lukisan itu seolah-olah hidup. Bernyawa. Aku tahu hal itu begitu sulit namun aku yakin sahabatku pasti bisa melakukannya.

***

Sebulan yang lalu aku menyusuri jalan setapak ini yang begitu menjengkelkan. Tanpa aspal dan begitu banyak gundukan batu-batu besar. Tetapi aku masih semangat untuk tetap melangkah karena tidak sabar melihat hasil jeritan tangan sahabatku selama sebulan. Aku tidak sabar melihat gambar kekasihku berada di tengah-tengah gerimis malam hari. Saat aku menyeberang jalan yang menuju ke rumah sahabatku, tiba-tiba sebuah truk pengangkut pasir menyambarku. Aku terpental ke belakang dan menabrak sebuah gardu yang mulai rapuh karena waktu. Seluruh badanku terasa ngilu dan sakit. Gardu itu runtuh saat aku hendak berdiri dan sebuah balok kayu menimpa wajahku. Tepat mengenai kedua mataku. Aku merasakan sesuatu mengalir dari kedua mataku. Merembes ke pipiku. Ketika sampai di ujung bibirku, rasanya amis dan asin. Darah. Lalu tiba-tiba semuanya gelap.

Saat bangun, aku dapati diriku berbaring di rumah sakit. Seluruh ruangan berwarna hitam pekat. Aku pejamkan kedua mataku sekali lagi. Saat kubuka, sama saja. Gelap. Aku berteriak. Mengerang. Bukan karena sakit tetapi yang aku lihat hanyalah hitam, gelap. Aku hanya bisa meraba. Kedua mataku buta. Aku tidak bisa melihat lagi kekasihku. Bulan depan ia akan datang menemuiku. Bagaimana lagi aku melihat wajahnya.

Sebulan aku jalani hanya duduk di kursi roda. Setiap membuka mata yang aku lihat hanyalah kegelapan. Ah, sama saja dengan menutup kelopak mataku. Keinginan untuk bertemu dengan Parsum perlahan sirna seperti kedua mataku. Aku jadi ragu terhadap Parsum. Apa ia akan menerimaku dalam keadaan seperti ini. Tiada guna perawat mengantarku berjalan-jalan ke taman. Aku tidak bisa melihat kesempurnaan dunia lagi. Hanya semangat sesungging senyuman yang aku paksakan bertengger di bibirku setiap hari. Saat-saat orang menyapaku. Begitu pun sahabatku. Hari ke tujuh aku menjadi penghuni rumah sakit ini. Aku menyuruh perawat membawaku ke taman untuk menghirup udara yang segar pada pagi hari. Seperti biasanya, pikirku. Pagi ini aku kedatangan sahabatku, Junaedi. Dari raut suaranya aku tahu ia sangat sedih melihat nasibku. Walau aku tidak bisa melihat parasnya dan sorotan matanya yang begitu teduh dan penuh dengan kehidupan. Padahal aku ingin sekali melihat sorotan matanya itu agar aku dapat mengambil kehidupan darinya. Kehidupan untuk melihat Parsum, kekasihku. Semuanya sirna saat kedua bola mata ini terenggut sirnanya pula.

Sahabatku memberiku bingkisan yang begitu besar. Aku merabanya begitu perlahan, takut tidak meraba semua sisinya. Aku tahu itu lukisan yang aku pesan sebulan yang lalu. Air mataku menetes karena ketidakberdayaanku melihat lukisan itu. Hanya bisa merabanya. Begitu perlahan. Aku bisa mendengar desahan nafas kekasihku dalam lukisan itu.

***

Hari ini Parsum akan datang ke rumah. Menemuiku dengan sejuta rindunya. Membawakanku sekotak cintanya yang ia simpan di dalam hatinya. Aku merasa tidak siap bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini. Lukisan yang ada di genggamanku terasa tidak berharga sama sekali. Aku tidak pernah melihatnya, hanya bisa merabanya hingga ke hatiku. Aku ingin menangis namun air mataku tidak ada gunanya lagi. Aku hanya bisa menghitung detik-detik kedatangan Parsum ke rumahku. Hatiku sedikit terhibur dengan suara Guntur. Pertanda akan turun hujan. Aku tahu, Parsum akan datang disaat gerimis mengguyur bumi ini. Seperti di dalam lukisan yang akan aku persembahkan untuknya.

Gerimis telah mengguyur bumi malam ini. Aku tidak sabar menunggu reaksi Parsum melihat keadaanku sekarang. Lukisan masih berada di genggamanku. Aku sengaja membuat pintu rumah terbuka. Sejam telah berlalu namun tak ada suara langkah kaki masuk. Dua jam telah berlalu, tidak ada suara langkah kaki masuk. Empat jam telah berlalu, tak ada suara. Hanya suara gerimis yang aku dengar. Aku menunggu hingga pagi dan tak ada suara langkah kaki.

Keesokannya pun Parsum tidak datang. Hari-hari berikutnya pun ia tidak datang. Tetapi aku yakin ia pasti datang menemuiku. Ia akan datang di saat gerimis, janjinya masih aku simpan. Aku takut gerimis tidak ada lagi dan warna lukisannya menjadi pudar. Tetapi aku lebih takut cintaku kepadanya perlahan memudar juga. Menguap bersama udara.

Benteng Somba Opu, 21 Maret 2009
Saat malam tidak bergerimis