Tragedi Oktramuliana (7)

Perempuan itu Tangguh

Pertemuan memang perlu untuk memupuk rasa sayang. Itulah yang coba diterapkan Imnyung dan Ana. Nyaris tiap pekan mereka bertemu, menikmati cangkir kopinya masing-masing, sambil berbicara soal pahit dan manisnya hubungan mereka, juga tentang hitam putihnya kehidupan.

“Aku tidak menyangka kamu adalah perempuan yang mau bekerja di dapur, sumur, dan kasur. Aku kira aktivis-aktivis perempuan menentang tiga tempat itu sebagai ruang kerja utama sesamanya,” Imnyung kembali menyentil orasi Ana, baru-baru ini saat mendampingi korban penggusuran.

“Oh, soal itu. Aku rasa tidak ada yang salah. Ibuku juga kerja di tempat itu, dan dia tidak bodoh-bodoh juga ” Ana Cuma tersenyum.

Mendengar jawaban Ana, Imnyung hanya meneguk kopinya sambil memandang sekitarnya. Pikirannya menjauh dari posisi duduknya, menembus dinding kaca, mengeja kenangan-kenangan mereka berdua. Dan, dia teringat dengan beberapa sekuel-sekuel kisah pendampingan yang mereka lakukan. Salah satunya sekuel perempuan tangguh yang berhasil mengorganisir sesamanya.

Mereka adalah orang-orang menolak hengkang, lantaran merasa berhak atas tanah yang telah didiaminya berpuluh-puluh tahun lamanya. Rumah-rumahnya terancam diratakan dengan tanah, dan mereka mendirikan posko darurat sebagai simbol perlawanan atas komprador-komprador yang memuluskan cukong menguasai lahan warga.

Ada sepuluh kepala keluarga yang dikoordinatori Manisi Dg Te’ne, seorang perempuan. Ibu rumah tangga yang selalu bersuara lantang menyambung lidah-lidah warga yang merasa dicurangi pembangunan. Bagi Imnyung, Manisi sangat menginspirasi, sekaligus berharap agar Ana dapat seperti itu. Menginspirasi tiap saat.

Seperti namanya, Manisi merupakan ibu muda yang manis. Keteguhan dan konsistensi dalam menyatakan pendapat, memancarkan kecantikannya, inner beauty. Retorikanya dalam berorasi, menegaskan bahwa dia bukan perempuan yang biasa-biasa saja. Banyak yang mengatakan, Menggellai Dg Ngero-suaminya, adalah lelaki yag beruntung telah mempersunting Manisi.

Saat didaulat sebagai penyambung lidah kaum tertindas, Manisi menolak. Alasannya, masih ada yang lebih mampu menjaring kekuatan warga ketimbang dirinya, Pak RT atau Pak RW, misalnya. Namun, warga sepakat bahwa dirinya yang layak. Akhirnya, dia menerima amanah itu dengan tangan terkepal sejenak, memejamkan mata, dan menarik nafas panjang. Dia lalu memeluk suaminya yang menggangguk-angguk memandanginya sedari tadi, memberinya keyakinan.

Manisi mulai menyusun langkah-langkah untuk kembali merebut tanah yang didiami orang tuanya, beserta tanah-tanah warga yang lainnya. Dikumpulkannnya dokumen-dokumen resmi yang mereka miliki mengumumkannya di media, Manisi yang manis menegaskan bahwa mereka bukan benalu pembangunan yang tumbuh menghisap dan mengambil keuntungan atas lahan-lahan kota. Mereka orang-orang bermartabat, hidup dengan hak kepemilikan, yang tiba-tiba diembat.

Ditegaskannya, jika komprador tak mengalah, proletar-sepertinya takkan menyerah. Didaftarkannya gugatan ke pengadilan untuk merebut kembali segala yang telah dirampas darinya. Selain itu, Manisi juga menggalang elemen dari luar warga lingkungannya untuk bersama-sama menyatakan penolakan. Banyak yang bersimpati dengan gerakan yang dilakukan oleh Manisi.

“Hey, kenapa menghayal?” Ana membuyarkan Imajinasi Imnyung.

 “Hmmm… Masih ingat dengan Manisi?” Imnyung senyam-senyum memandangi Ana.

“Ingat!!! Ibu muda nan cantik itu. Kenapa? Mau tunggu jandanya?” Ana ketus.

“Lah… kok malah cemberut,” Imnyung heran.

“Aku di matamu. Perempuan lain yang di kepalamu,”

“Lah, aku kan Cuma nanya. Kalau ingat, aku ingin bilang. Semangatmu sama seperti dia” Imnyung mencoba menjelaskan maksudnya.

“Tidak! Aku tidak mau disamakan dengan siapapun. Apalagi dipadukan dengan seseorang,” mata Ana melotot. Sesaat Ana tersenyum memandangi Imnyung. “Begitu saja sudah tegang, kribomu berdiri semua, selalu saja tegang,” kata Ana sambi tertawa.  

“Kamu…”

“Sudah, jangan ganggu. Aku mau menulis” Ana memotong.

“Masih bisa menulis dengan kondisi begini?”

“Orang yang tak mampu menulis adalah orang yang tak pernah merasakan kekecewaan,” kata Ana sambil mengangkat telunjuknya mendekati bibir lalu mendesis.      

Sebelumnya I Selanjutnya