Mahasiswa Minoritas di Kalangan Mayoritas

Menjadi mahasiswa merupakan fase pendidikan tertinggi dari puncak pendidikan yang ada. Sebuah fase transisi dari seorang siswa ke mahasiswa yang dulunya hanya tau disuap tanpa tau memfilter dan mencari sendiri apa yang sejatinya dia butuhkan. Dari fase mengambil keputusan atas dasar praduga dan sekarang dituntut harus mengambil keputusan atas dasar analisa konkret yang ada.

Selamat datang di dunia mahasiswa, dunia yang tak seindah film ftv yang kalian tonton, juga tidak semenakutkan demo anarkis yang ramai diperbincangkan. Mahasiswa adalah fase di mana seharusnya ketika kalian sendiri harus banyak membaca, berdua perbanyak diskusi, bertiga lakukan konsolidasi dan berempat atau berapapun harusnya aksi. Masa yang mana jika di awalnya sibuk mencari jati diri sekarang sudah saatnya menemukan jati diri dan tunjukkan dengan totalitas bahwa jati diri ini harus produktifitas.

Mahasiswa dengan fungsinya agen of change, power of balance, social controller, dan the future leader tentunya harus bisa membuktikan julukan tersebut. Bukan hanya taunya kuliah pulang, kos, kantin tau-taunya sudah semester akhir. Masa kuliah adalah masa di mana harusnya disibukkan dengan berbagai aktifitas bukan hanya persoalan akademik melainkan juga persoalan organisasi sebagai bekal untuk pembentukan personal branding. Mendapati kaum organisatoris sekaligus akademisi atau familiar disebut aktivis yang lalu lalang di dunia kampus sepertinya sangat minoritas di kalangan mayoritas mahasiswa yang ada. Berbagai argumenpun bermunculan untuk memperkuat alasan mengapa memilih jadi kaum akademik saja? kaum organisatoris? atau bahkan bergelut dalam dua bidang tersebut (aktivis)?

Kenapa memilih jadi kaum akademik? alasan utamanya karena takut kegiatan organisasinya menghambat penyelesaian studinya yang menjadi tujuan utamanya menginjakkan kaki di dunia kampus. Kenapa memilih menjadi kaum organisatoris? alasannya melihat mereka yang bergelut di dunia organisasi punya banyak teman atau dalam arti lain relasinya luas dan pasti jago bicara di depan umum. Yahhhh mungkin itulah kesan yang melekat kepada mereka dengan passion-nya masing-masing. Satu tipe mahasiswa lagi yaitu aktivis, aktivis itu sendiri identik dengan mereka yang mencoba menyeimbangkan antara kesibukan akademik dengan kesibukan organisasi yang dipilihnya. Tentunya ketika memilih untuk berada di keduanya maka otomatis waktu, tenaga dan materi sekalipun lebih banyak yang terkuras. Akan tetapi timbal balik (feedback) yang didapatkan pun jauh lebih banyak ketimbang hanya menggeluti salah satu di antaranya.

Berada di posisi aktivis itulah yang disebutkan oleh penulis menjadi kaum minoritas dikarenakan hanya segelintir mahasiswa saja yang memilih untuk berada di barisan tersebut. Memperjuangkan apa yang sejatinya berhak untuk diperjuangkan bukan hanya mereka yang taunya datang, duduk, dengar, diam atau mereka yang taunya cuma kampus, kantin, kos dan kampung. Dunia mahasiswa sejatinya sangat singkat untuk berbuat dan berkarya. Maka pilihan untuk menjadi mahasiswa yang diketahui hanya sebatas nama di ijazah atau menjadi mahasiswa yang dikenal karena kontribusi dan inspirasi yang ditorehkan semasa menjadi mahasiswa itu ada di tangan masing-masing individu mahasiswa itu sendiri. Maka tentukan sikap hari ini karena sikap dan keputusanmu hari ini adalah penentu dirimu di hari esok!!!