Penulis dan Tulisannya

Tulisan sampah ini saya awali dengan sebuah pertanyaan “apakah seorang penulis menjadi penganut yang taat terhadap gagasannya sendiri yang ia tuliskan dalam teks?”

Baiklah. Saya teringat dengan Jane Austin “pride and prejudice” ataupun “emma” ia menulis begitu rapi sebuah kisah cinta padahal ia sendiri tidak pernah benar-benar jatuh cinta, mengapa saya katakan demikian? Beberapa kali ia gagal dalam berhubungan dengan laki-laki dan memutuskan untuk tidak menikah.

Saya curiga jangan-jangan hanya pemenuhan dari realitas. Kecurigaan saya terbantahkan dengan gagasan-gagasan dari orang-orang sosiologi sastra. Katakanlah tokoh yang diciptakan hanya bayangan dari realitas pengalaman orang lain yang sempat dituliskan oleh Jane Austin, dengan kata lain fakta sosial yang dituliskan Jane Austin adalah pengalamannya sebagai subjek kolektif, ini hanya gagasan awal yang penuh keragu-raguan.

Sebab dalam beberapa teks saya kadangkala menemui sebuah “keintiman” yang lebih dekat antara teks yang dilahirkan dan penulisnya sebut saja orang-orang bloongminton yang ditulis oleh Budi Darma. Bloongminton hadir sebab Budi Darma pernah lama di Indiana sana, begitupun dengan Olenka. Apalagi Pram yang memang genrenya adalah realisme sosial. Ataukah Murakami dalam beberap teksnya membahasa tentang “betapa tidak takutnya orang Jepang bertemu kematian” Konsep mirror yang ditawarkan dalam sosiologi sastra banyak terjadi dalam teks.

Secara sarkasme, konsep sastra yang menurut seno lebih kepada curhat saya lebih suka menyebutnya keintiman yang lebih dekat antara penulis dan teksnya yah karena memang tidak bisa dipungkiri sebagian besar adalah “curhat” sekalipun mungkin ada yang curhat secara elegant atau hanya sekadar baper-baperan.

Nah yang menjadi pertanyaan kemudian “apakah seorang penulis menjadi penganut yang taat terhadap gagasannya sendiri yang ia tulis dalam teks?” Jangan-jangan hanya pemenuhan dari realitas yang tak pernah berani digugat dengan terus terang, justru menggugatnya lewat teks.

Eka menulis tentang coret-coret di toilet yang katanya lebih jujur daripada omongan si “Anu”. Seno menulis “dunia sukab” yang mengkritisi banyak hal, ataukah “dilarang menyanyi di kamar mandi” sebab kebenaran milik mayoritas atau “kring” adalah panggilan tak terjawab para kelas bawah yang selalu didiamkan oleh kelas atas.

Bagaimana pula misalnya ketika Ayu Utami membincang soal pembunuhan secara liar, idealisme yang tinggi ataukah pembebasan diri, pada kasus yang lain seorang Djenar dengan pilihannya menjadikan tokohnya seradikal mungkin, dengan pilihan menjadilesbianmisalnya.

Ah entahlah. . . Bagi saya menulis dan membaca adalah “kenikmatan” sekalipun hanya menuliskan sampah-sampah hahaha.

Penutup kepada si “A” terima kasih atas kalimat motivasinya “teruslah nakal dengan melompat”, setidaknya bisa membunuh sejumlah asumsi bahwa betapa “liarnya” isi kepala saya, di pangkuan Tuhan sana, bapak saya bisa jadi akan mengutuk anak perempuannya dan ibu saya akan menangis sejadi-jadinya. Dan kepada si “L” saya tidak akan berhenti membaca seperti yang disarankan sebab terlalu banyak menyimpan kekhawatiran akan banyaknya jiwa-jiwa abstrak yang saya masuki. dan juga si “F” atas perbincangan-perbincangan yang kerapkali tidak masuk akal untuk orang-orang waras, saya suka isi kepala dan ke-Diam-anmu.