Tolak Bala

“Bukan saya tidak mau menikah Indo’ saya belum siap”

“Menunggu kamu siap kapan?” gerutunya. Kurang baik apa itu Gunturu, ataukah La Beddu yang datang baik-baik kamu selalu tolak.

Percakapan itu terjadi 5 tahun yang lalu saat umur saya masih 25 tahun. Saya baru menyelesaikan kuliah strata dua kala itu. Kesibukan kuliah dan pekerjaan cukup banyak menyita waktu saya untuk bertemu laki-laki. Beberapa kasus perceraian yang saya tangani menjadikan saya tidak pernah berpikir untuk menikah. Kebisingan kota kadang-kadang membuat saya lupa banyak hal termasuk menikah mungkin. Barangkali saya sengaja melupa.

Indo’ masih terkungkung dalam pikiran tradisionalismenya dan kemudian saya tahu bahwa saya harus patuh sebagai anak sekalipun pikiran modern lebih banyak mengisi isi kepalaku, saya tetap patuh dengan keyakinan surga di telapak kaki indo’ dan memang saya dibentuk untuk patuh. Saya masih ingat di dunia kanak-kanak saya harus mengelilingi pacciring pola banyak kali dengan batu di junjung di kepala setiap hari jumat saat khotbah berlangsung di mesjid, dengan alasan supaya saya tidak terlalu tinggi. Maklum anak-anak seusia saya kala itu pendek-pendek semua hanya saya yang memiliki postur tumbuh tinggi sementara saya masih kelas 1 SD, cepat sekali kelihatan dewasa katanya. Padahal isi kepala saya tetaplah kanak-kanak. Belasan tahun kemudian orang-orang berlomba minum susu peninggi badan. Ataukah yang lebih lucu ketika saya harus memukul payudara saya dengan saji agar tidak besar, lagi-lagi setiap hari jumat. Lah sekarang orang berlomba-lomba menyuntikkan sesuatu, membayar mahal untuk sebuah payudara yang montok.

Sekarang saya sudah 30 tahun. Menjadi pengacara adalah pilihan hidup. Dering telepon kecemasan dari indo’ setiap hari berdering. Dan saya tiba-tiba menjelma menjadi pemberontak dalam kediaman. Dering telepon kecemasan saya abaikan dengan begitu saja sampai suatu ketika saya tidak memiliki alasan apapun untuk berdalih, indo’ sakit. Demikian isi pesan singkat yang saya terima. Nyatanya sekalipun indo’ memasrahkan hidupnya di desa, pengalaman menonton dramanya di siaran-siaran televisi lokal di zamannya berhasil membuatnya menjadi aktor yang baik untuk menipu saya demi sebuah kepulangan.

Pekerjaan kemudian saya tinggalkan meskipun tidak mudah untuk saya, pulang memenuhi panggilan indo‘. Angka 30 tahun untuk seorang perempuan lajang adalah angka keramat untuk menikah katanya. Untuk membunuh angka keramat saya harus menjalani ritual mandi pada saat-saat tertentu, prosesi mandi ini bukan sekadar mandi biasa tetapi dipandu oleh seorang Aji lengkap dengan baca-bacanya dan ini hanya dilakukan setiap malam jumat. Lagi-lagi segala hal dilakukan pada setiap hari jumat. Dan jadilah malam itu saya menjalani proses ritual itu.

Ritual ini saya lakukan bukan karena percaya tetapi lebih kepada prinsip kepatuhan pada indo’. Mandi di setiap malam jumat akan membuka parukkuseng atau pintu jodoh. Pun setelah beberapa bulan, betul ada beberapa orang yang datang ke rumah. Laki-laki pertama adalah seorang polisi, ia datang dengan seragam kebangaannya dan sepucuk revolver di pinggannya. Tanggal pernikahan sudah ditentukan ketika ia tiba-tiba meninggal sebab menangani kerusuhan yang terjadi antara mahasiswa dan polisi dalam sebuah demo, sebuah belati telah menikam tepat di jantungnya. Semua pihak keluarga berduka, bersedih, kecuali saya yang tanpa emosi apapun. Lanjut pada laki-laki kedua yang datang setelah pak polisi yang meninggal dengan naas. Laki-laki ini adalah seorang penulis. Pun tanggal pernikahan sudah ditentukan ketika tiba-tiba ia harus dipidanakan 10 tahun penjara gara-gara imajinasinya, ia menulis tentang telepon yang berdering dan selalu diabaikan. Lelaki ketiga seorang pengusaha sukses, dengan istri dimana-mana. Hal serupa kembali terjadi, dua hari setelah prosesi madduta. Si lelaki pengusaha ditemukan tak bernyawa di kamarnya. Usut punya usut menurut cerita yang beredar ia di-doti-doti oleh salah satu mantan istrinya.

Kejadian demi kejadian terjadi begitu saja, ini bukan sebuah kebetulan tetapi abala’ menurut kepercayaan leluhur dan harus dilakukan upacara tolak bala yakni sebuah upacara yang dilakukan untuk menolak segala bentuk hal-hal buruk terjadi. Orang bugis percaya akan hal itu, segala sesuatu memiliki kumpulan sebab-sebab. Yawa bola (kolom rumah panggung) tiba-tiba menjadi ramai akan perbincangan, apalagi kalau bukan membahas anaknya Indo‘ Etung yang tiga kali gagal menikah. Tentu saja yang dimaksud adalah saya. Saya anti sosial dan sudah sejak lama saya menulikan diri atas segala kebisingan yang terjadi dari bibir-bibir yang setiap saat sibuk memuntahkan kata-kata. Berbulan-bulan indo’ tidak turun bertetangga sebab siri’. Ambo’ lebih banyak diam tidak peduli. Laki-laki ini hanya akan mengepulkan asap rokoknya ketika indo’ merecokinya tentang omongan-omongan tetangga.

Indo‘ mu telah kehilangan akal sehatnya, ia telah lupa Tuhan sebagai penentu detail takdir” kalimat terpanjang Ambo‘ yang pernah saya dengar. Temukan bahagiamu. Lupakan hal gila yang telah dilakukan indo‘ mu. Benar indo‘ telah kehilangan kepercayaan pada doa-doa, kepalanya hanya dipenuhi mitos kegagalan demi kegagalan anaknya menikah.

“Saya takut durhaka….” Saya terisak. Ambo‘ kemudian memeluk saya dengan hangat.

“Jangan menangis anak makkuraiku, kamu sudah 30 tahun. Bukan kanak-kanak lagi. Pergilah! Kembali pada pekerjaanmu, jangan pikirkan apa-apa! Cukup jaga sirikku sebab kau itu adalah perempuan.”


“Kamu harus pulang kamis depan”. Tinggalkan pekerjaanmu segera. Sekarang arapo-rapongmu.

Demikian isi pesan singkat indo‘. Segera setelah pesan itu saya baca saya kemasi barang-barang dengan segera. Dua hari lagi acara pernikahan saya akan dilangsungkan. Yah pada akhirnya saya akan menikah setelah beberapa kegagalan di masa lalu, saya akan menikah dengan seorang laki-laki pilihan saya. Laki-laki yang sudah berikrar akan membunuh “mitos” dengan memberanikan dirinya datang menemui indo’ untuk melamar saya. Kami saling mencintai bukankah itu sudah lebih dari cukup? Tepat di hari kamis seperti yang indo‘ minta saya berangkat menuju kampung halaman dengan bus kepulangan setelah 5 tahun. Ini kepulangan kedua setelah acara lamaran dua bulan yang lalu. Saya mengambil posisi duduk paling pinggir menghadap jendela, saya baru akan terlelap ketika tiba-tiba saya teringat, lupa memberi kabar kepada Sarwono perihal kepulangan saya. Segera saya mengetik pesan singkat, belum selesai ketika nama Sarwono tertera di layar panggilan, saya menekan tombol jawab.

“Halo…”

Hening, tak ada suara. Yang ada hanya deru nafas seolah-olah berkejar-kejaran

“Sayang, saya sudah di jalan menuju pulang. Sampai bertemu dua hari lagi. Aku mencintaimu” ucapku dengan semangat. Tetap masih tidak ada jawaban

“Haloo….kamu dengar aku kan sayang?”

“Jangan menunggu, saya tidak akan pernah datang. Ibu membatalkan pernikahan kita. Ia mengancam akan menenggak racun jika saya tetap berkeras melanjutkan. Tanggal kelahiran kita tidak cocok, menurut ramalan orang Jawa pernikahan kita akan berantakan jika tetap dilanjutkan, maaf dan terima kasih”

“Kamu tidak bercanda kan..? Halooo….”

“Tut…tuttttt” tak ada suara, panggilan terputus.

SELESAI

Palopo, 13 Juni 2019