Membudidayakan Pikiran

Beranjak dewasa, telah banyak yang coba kita hiraukan, mungkin berupa peristiwa traumatik yang coba kita tekan di “alam bawah sadar” yang sewaktu-waktu bisa muncul kembali dalam bentuk simtom maupun mimpi, atau berupa pertanyaan-pertanyaan yang sering kita ajukan sewaktu masih kanak-kanak tapi kini dianggap konyol alias tidak ekonomis. Masih ingatkah kita saat dunia masih begitu mempesonanya bagi kita, rasa takjub tak habis-habisnya kita pertunjukkan, lalu mengalirlah pertanyaan-pertanyaan dari mulut kita, yang kira-kira dari sekian banyak redaksi pertanyaan polanya bisa disederhanakan menjadi “apa itu?”, “mengapa bisa demikian?” dan “apa arti semua ini?”.

Dari beberapa informasi yang disediakan oleh studi palentologi dan biologi evolusi, bahwa kapasitas spesies Homo Sapiens (manusia) untuk bertanya, penasaran, menginvestigasi, merasa heran pada dunianya bisa ditelusuri pada sejarah evolusinya. Spesies-spesies Hominid sebelum Homo Sapiens, berinteraksi intens sekaligus intim dengan dunianya dalam format yang dibilang sederhana secara kognitif (walaupun tetap kompleks), maksudnya intensitas dengan dunia dipicu oleh hal dasar yakni “hasrat untuk mempertahankan diri”. Spesies Hominid pra-sapiens, menjelajahi lingkungan sekitar saat mencari makanan ataupun karena ingin mengintai sekaligus meghindari predator. Dari beberapa temuan paleontologis dan arkeologis, hampir bisa dipastikan bahwa Hominid pra-Sapiens, adalah makhluk yang sibuk, sibuk meramu, sibuk berpindah, sibuk memburu dsb, tapi belum menjadi makhluk yang signifikan di tengah-tengah samudera makhluk hidup saat itu.

Lalu pendek cerita, tetiba saja Hominid pra-sapiens bertransformasi menjadi spesies kita. Karena torehan alam atau apapun itu, tetiba saja muncul spesies yang sering menggerutu dengan pertanyaan-pertanyaan, spesies yang senantiasa terheran-heran. Manusia menjadi spesies yang tak hanya memanjakan inderanya, tak hanya melakukan pengembaraan inderawi, menatap segala sesuatu dengan seteliti dan seheran mungkin, mendengar suara-suara seseksama mungkin, meraba tekstur permukaan benda dengan sedetail mungkin, dan mengecap rasa makanan ataupun minuman dengan sekhidmat mungkin. Tapi seakan-akan ada semacam rasa curiga yang membonceng di belakang rasa heran kita pada dunia, rasa curiga yang mungkin bisa diredaksikan menjadi “apakah betul yang nampak ini adalah yang sebenarnya?”, alias “mengapa bisa demikian ?”.

Maka drama pengembaraan manusia pun menjadi jauh lebih kompleks. Pengembaraan manusia tak hanya berada di panggung biologis, tapi kini pengembaraan baru telah dimulai, walaupun tetap peralel dengan jenis pengembaraan sebelumnya. Manusia kini mengembara di dalam dirinya, di dalam pikirannya, di dalam imajinasinya, di dalam fantasinya dan di dalam rasanya. Apakah pada spesies pra-sapiens belum ada pengembaraan di dalam dirinya?, kita hanya bisa berspekulasi tentang ini, karena sulit mengukur secara saintifik dunia batin binatang, tapi menurut saya spesies pra-sapiens tetap memiliki “dunia dalam dirinya” tapi belum bisa dikatakan sebagai “pengembaraan”. Karena bagi saya “pengembaraan” menuntut kemampuan untuk mengambil distingsi atau jarak antara “pengembara” dengan “ruang di mana dia melakukan pengembaraan”.

Pada spesies Hominid pra-sapiens, mungkin saja dengan cukup baik bisa membedakan dirinya alias mengambil “jarak” dalam konteks pengembaraan fisik-biologis, tapi belum bisa berjarak dengan “dunia batinnya” atau “dunia dirinya” sendiri. Dalam diri Homo Sapiens, “dunia batin” sama menyibukkannya dengan “dunia fisik”, sehingga di era kontemporer saat ini, keberlimpahan referensi yang berkaitan dengan “dunia pengembaraan dalam diri manusia” (psikologi, sastra, filsafat, sosiologi, antropologi dll.) sama banyaknya bahkan bisa jadi lebih banyak ketimbang referensi yang berkaitan dengan “dunia pengembaraan fisik-biologis” (kedokteran, teknik, fisika, biologi, kimia dll.)

Sehingga menjadilah manusia yang senantiasa terheran-heran dalam pengembaraannya, pengembaraan di atas dua panggung sekaligus (“panggung fisik-biologis” dan “panggung diri”). Di satu sisi manusia bertanya, “dimanakah tepian semesta?” di sisi lain kita bergumam “akankah siksaan rasa rinduku padamu punya tepi?”, di satu sisi kita bertanya “dari manakah asal-usul semesta ini?” tapi di sisi lain kita bertanya “dari manakah asal-usul kebencian dan dendam ini?”, bahkan bisa dikatakan ada semacam resonansi antara panggung pengembaraan “fisik-biologis” dan “diri”, setiap perkembangan pada “pengembaraan fisik-biologis” sedikit banyaknya memperkaya khazanah pada “pengembaraan diri” dan begitu pula sebaliknya. Setiap kita mendapatkan wawasan baru akan alam semesta, maka akan terbuka peluang untuk melihat “diri” dengan perspektif yang baru.

Pengembaraan oleh manusia lalu mendapatkan semacam penguatan dan amplifikasi signifikansi, sejak ditemukannya aksara. Pengalaman akan pengembaraan fisik-biologis dan diri, tidak hanya menjadi milik orang per-orang, tidak sekedar diketahui oleh pasangan ataupun sahabat, tetapi juga bisa diakses/diketahui oleh orang banyak dalam satu komunitas, bukan hanya yang segenerasi bahkan lintas generasi. Bagaimana misalnya mitologi kuno semisal Illiad, Mahabarata, Ilagaligo, Theogini dan mitologi lainnya, yang dinarasikan sejak beratus hingga beribu tahun silam, tetap kita bisa baca, nikmati dan pelajari. Sejak ada aksara, manusia tidak hanya mengembara untuk menjelajah-menantisipasi ruang, tapi juga untuk menjelajah-menantisipasi waktu. Kita tidak hanya bisa mengetahui bagaimana kondisi Yunani klasik 2500 tahun silam, tapi kita juga mengetahui sedikit tentang pengalaman pengembaraan pikiran para filsuf Yunani kala itu yang mencoba-coba menjelaskan semesta secara rasional tanpa harus berangkat dari mitos.

Dan akhirnya, manusia tidak hanya membudidayakan tanaman pangan tetapi juga membudidayakan pikiran, manusia tidak hanya beternak hewan sebagai sumber protein tetapi juga beternak pengetahuan sebagai sumber kebijaksanaan. Menyeruaklah mitologi, bermunculanlah para nabi yang menawarkan kebijaksanaan atas nama firman Tuhan, bertebaranlah sastra baik yang dibaca maupun dilantunkan, puisi-puisi dan sajak menemani malam dan perasaan bahagia sekaligus kelam manusia, semesta dan manusia diinvestigasi oleh filsafat, dunia diubah oleh deru sains dan teknologi. Tapi kita mengetahui dengan persis, bahwa kita adalah makhluk yang paradoks, kita sangat paham bahwa kita merindukan kebijaksanaan tapi kita seringkali bahkan membiarkan diri melakukan kebodohan, kita sangat menginginkan kebaikan tapi begitu rentannya kita melakukan kejahatan, prestasi manusia dalam membangun peradaban beriringan dengan prestasinya menumpahkan darah. Paradoks memang, tapi itulah yang membuat pengembaraan manusia menjadi pengembaraan yang menantang, siapkah anda?.