Lisan dan Nisan

Inilah suratmu yang terakhir kubaca. Bukan tulisan, tapi raut wajahmu yg lisan berkata kau lelah dengan segala kesakitanmu di dunia, lelah dengan peluh airmata. Tapi tanpa suara kau meringis, menahan luka yang menahun, perih dengan hati yang menua waktu. Tak usah peduli dengan orang lain, toh tak ada yg tahu rasanya.

Bahagia itu ketika bersama dengan orang terkasih. Dirimu lebih menyayangi Tuhan dan kau memilihNya. Menyisakan airmata duka untukku. Ini begitu perih dan sesak, seolah jantung ingin nada detak yg lain.

Lukamu masih ada aku simpan bersma waktu. Kenangan yang tak pernah jadi tawa, masih aku simpan jua.

Inilah suratmu yang terakhir. Aku baca malam kepergianmu. Tanpa airmatamu, dengan bisumu, telah aku lihat mata yang terakhir, kosong dan hampa. Lalu apa lagi, Tuhan tak memberi kita banyak waktu, seolah berbisik “cepatlah katakan” malaikat maut telah berdiri di depan pintu rumahmu. Suara langkah kakinya terdengar memasuki waktu kita lalu dia membawamu selamanya, dan kau pun tak mengatakan satu kata pun untukku. Istirahatlah, inilah suratmu yg terakhir…