Kamu Asisten Dosen?

Bukan, ini bukan tentang mengungkap kumpulan dosa para asisten kepada praktikannya. Karena asisten dosen itu tangan kanan dosen, alias perdana menteri, alias mahasiswa senior, alias mahasiswa setengah pintar, alias mahasiswa yang sedang butuh uang. Ah tidak, tidak ada honor. Sebut saja relawan. Relawan yang berkutat di laboratorium sampai jamuran. Kutukan lab. Betul-betul dikutuk untuk mengabdi.

Menghadapi praktikan sebenarnya tidak perlu pintar, tapi harus bisa memintarkan praktikan. Ya, dituntut harus bisa memintarkan dan tidak ada tawar-menawar mengenai hal itu. Meskipun sebenarnya asisten dosen itu tidak selamanya tahu dan punya banyak kekurangan yang kebetulan punya wewenang lebih. Mengenalkan praktikan terhadap dinamika dunia praktikum, mengenalkan format laporan, alat laboratorium dan masih banyak lagi. Hingga praktikan sendiri jadi kelabakan karena tugas laporan yang membabi-buta dari asisten dosen.

Di satu sisi, posisi asisten sangatlah ambigu. Berada di persimpangan yang membingungkan, karena juga pernah mengalami hal yang sedemikan menjenuhkan itu. Buat laporan, pantul, revisi, pantul lagi, begitu seterusnya. Ibarat berenang, praktiktikan baru saja loncat dan nyebur ke kolam, asisten dosen sudah kering. Sebenarnya asisten juga paham kondisi praktikan, sangat tidak mengenakkan berada di posisi itu. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah sebuah proses. Karena sebuah pendakian tidak akan terasa jika hanya tentang puncak yang dituju, ada sungai yang diseberangi, lembah yang dituruni dan tebing yang didaki sebelum puncak itu ditapaki. Asisten juga harus bersikap tegas menuntut praktikan untuk rajin dan mandiri, karena generasi milenial bukanlah generasi pemalas yang lebih suka sesuatu yang instan, tidak repot dan dikerjakan tanpa keringat. Asisten dosen harus memberi pisang tapi tidak mengupaskan. Sebagai contoh kecil ketika praktikan diberi tugas buat laporan beserta revisiannya yang menumpuk, itu tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menjejalkan sikap rajin dan mandiri.

Di sisi lain, asisten juga tidak bisa mencekoki praktikan dengan tugas yang sebegitu banyaknya. Bagaimana tidak? Perkuliahan mulai dari jam 07.30 dan berakhir pada pukul lima sore, belum lagi pulang harus revisi laporan, kadang praktikan sulit membagi waktu antara tugas yang menumpuk dan tawaran organisasi, ditambah lagi untuk waktu beristirahat. Memang ada nilai proses di sana, di mana praktikan diajar untuk pandai memanajemen waktu. Tapi beda antara seorang petani yang berproses untuk menanam padi dengan sarjana elektronika yang tak tahu menahu tentang bercocok tanam namun mendadak diharuskan untuk terjun ke sawah untuk berproses menanam padi. Sama-sama ada prosesnya namun yang satu ada hasil yang satu bisa jadi nihil. Kemampuan praktikan itu berbeda-beda, jangan dipukul rata.