AYAH (Dalam tanda kurung yang besar)

Sengaja kutulis ini di saat jingga mengantar hari menuju malam. Yah Senja selalu menghadirkan warna oranye yang indah dengan lukisan alam yang selalu berbeda. Hari ini adalah HARI AYAH. Jujur saya tak sempat mencari referensi tentang asal muasal hari ayah itu meski sudah berulang setiap tahunnya ditanggal 12 Nopember. Hari ini pun seperti itu. Lagi-lagi tak terlintas keinginan untuk mencari tahu kesejarahannya. Mungkin hari ini adalah hari yang sangat sibuk bagiku. Mengurusi pekerjaan dengan seabrek masalah yang tak jelas kapan selesainya.

Bagiku hari ayah atau bukan, saya tetaplah seorang ayah. Dulu sy selalu bertanya dalam hati. Mengapa ayah selalu menjadi orang yang paling pertama keluar rumah? Dan selalu menjadi orang yang terakhir tiba kembali di rumah.

Momen-momen yang selalu kuingat hingga kini adalah momen setiap pagi ketika ayahku hendak bergegas pergi. Kukenakan kaos kaki dan sepatunya yg terlebih dahulu kusikat bersih, sesekali kusemir. Ayah selalu nampak duduk fokus, sepertinya berdo’a. Yang entah apa yang selalu dia panjatkan. Setelahnya kucium tangannya sambil ikut berlari keluar memandanginya berjalan kaki menuju tempat perhentian angkot yang kutahu jaraknya lumayan menguras tenaganya.

Begitupun saat waktu pulang kerjanya. Kami anak- anaknya dididik oleh mama untuk selalu menunggu ketibaannya. Sama seperti saat pagi. Tugasku sebagai anak sulung. Menjemputnya lalu membukakan sepatu dan kaos kakinya lalu menyimpannya di tempat yang itu-itu juga. Tentu Lelahnya terlihat, namun selalu berusaha dia tutupi.

Ada hal yang selalu kami nantikan saat pulangnya ayah dari tempat kerjanya. Yaitu bungkusan kue atau makanan lain yang bagi kami yang hidup dengan ekonomi pas-pasan tentu adalah hal istimewa. Istimewa, sebab dari sepuluh hari, belum tentu ada bungkusan yang ada dia bawa pulang. Hehehe.. mungkin aneh bagi orang lain. Tapi bagi kami, itu adalah harapan. Menurut mama, itu adalah do’a supaya Allah melimpahkan rezeki buat kami.

Kami bersyukur dididik dalam kondisi yang terbiasa dengan segala kekurangan. Terbiasa hidup dan menghabiskan masa kecil secara berpindah dari rumah kontrakan yang satu kerumah kontrakan yang lainnya. Saat menyebut rumah, jangan pernah berpikir itu rumah sebegaimana rumah yang layak. Namun kami menikmatinya.

Musim hujan seperti saat ini adalah hari-hari panjang yang kami khawatirkan. Saat rumah kami tergenang air. Tapi bukan airnya yang kami khawatirkan. Kontrakan kami berada di samping rawa-rawa yang sepertinya diisi oleh binatang-binatang rawa termasuk ular. Jika begitu dunia kami semakin terasa sempit. Awalnya kami bisa bermain di lantai dengan luas tak lebih dari 6 x 4 meter. Kini hanya sebatas kasur. Di saat terang sesekali kami melihat anak ular berenang senang. Saat surut sesekali kami dapati anak ular mati dikerubuti semut.

Yah begitulah, Mungkin terlalu jauh cerita ini berputar dari fokusnya pada HARI AYAH. Setidaknya kini sudah kutemukan dan rasakan jawaban dari pertanyaan dalam hatiku, mengapa ayah selalu jarang di rumah? Sebab itu yang sedang kulakoni saat ini. Selalu ada rindu untuk tiba di rumah dengan selamat, tiba dengan sehat, dan harapan untuk selalu bisa pulang lebih cepat bercengkrama dengan si kecil yang bisa jadi banyak hal yang tak kusaksikan langsung dalam masa pertumbuhannya.

Selamat hari ayah ayahku. Semoga Allah memberimu kesehatan di usiamu yang sudah lanjut itu. Aku adalah saksi kerasnya kehidupan yang pernah kita lalui. Yah.. Aku! Anak sulungmu yang juga kini telah menjadi ayah dari dua buah hati yang kini sedang lucu-lucu tumbuh dan berkembang. Tetaplah sehat, sebab tugas kita sebagai Ayah mesti berlanjut. Hingga kita tiba di ujung usia. Hingga tugas telah kita paripurnakan. Semoga saya mampu mengantar anak-anakku, sama seperti engkau mengantar kami anak-anakmu hingga bisa seperti saat ini. Selamat hari ayah, AYAHKU.

Dari aku. Anakmu.
(UTE NURUL AKBAR)
Ujung Utara Makassar, 12 Nopember 2019

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]