Tragedi Oktramuliana (6)

Orasi

Di rumah peradaban kami merumuskan langkah-langkah memanusiakan manusia. Pola pemberdayaan anak-anak korban pembangunan, gerakan pendampingan bagi ibu-ibunya, serta wacana-wacana heroik untuk suami-suami mereka.

Anton yang berbadan besar, senantiasa menjaga kami. Ikbal yang menyokong kami dalam bergerak, mengizinkan rumahnya sebagai tempat berkumpul serta kerap membantu secara finansial. Syamsul yang penuh teoritis, dan Zakaria yang puitis. Tentunya ada Imnyung yang tegas, sementara aku yang didaulat untuk memimpinnya. Adapula Sinta, dan Mawar, perempuan tangguh yang tak kenal malam. Bagi mereka tugas kemanusiaan senantiasa mencari manusia, jika merasa sebagai manusia maka tuntaskan tugas itu.

Oh iya, hampir lupa, kami semua berjumlah sembilan orang, nama yang tersisa adalah Oktramuliana-Ana. Si tomboy yang energik itu, juga merupakan orator perempuan kami di rumah peradaban. Suara yang menggelegar di balik TOA, serta runutan ide dan cara penyampaiannya, membuat pendengarnya semakin bersemangat dan bergairah.

Pernah suatu waktu, Ana berorasi di depan korban penggusuran yang kami dampingi. Awalnya, para ibu-ibu hanya berdiam diri dan mengacukan kami yang orasi terlebih dahulu, namun tiba giliran Ana, ibu-ibu itu bergeming dan merapat dalam barisan massa.

“Saudara-saudaraku sekalian, seperjuangan dan sependeritaan. Berdiri kita sama tinggi, duduk kita sama rendah, tapi tidak ada yang akan meninggi dan tidak ada yang akan merendah, selama kita masih bisa menahan diri melihat beban kehidupan ditanggung sendiri-sendiri,” ungkap Ana memulai orasinya.

Selama komprador itu masih merampas hak-hak kita, selama itu pula kita punya kewajiban berkumpul, merapatkan barisan. Karena rapatnya barisan adalah kesempurnaan perjuangan. Perjuangan mengambil kembali separuh jiwa kita yang hilang. Perjuangan agar kita kembali dapat merawat air mata, agar air mata hanya tumpah untuk keluarga kita, anak-anak kita dan masa depan kita. Air mata tak boleh dihabiskan hanya untuk menangisi kekesalan dan kekecewaan.

Saudara-saudaraku, kaum ibu-ibu, kaum perempuan yang belum menemukan jodohnya, para anak-anak gadis. Mari kita melawan!!! Aku Oktramuliana, bersama rekan-rekan saya, siap menjadi apapun yang kalian inginkan, berada di samping kalian dan bergerak bersama, jika kita yakin tak ada yang saling meninggalkan dan tak ada pengkhianatan di antara kita semua.

Meski hari ini, rumah-rumah kita dirampas. Harga diri kita diinjak-injak dan disebut sebagai benalu kota. Kita dituding menghisap kekayaan lahanlahan kota yang selama ini kita diami berpuluh-puluh tahun lamanya. Kita dituding penghambat pembangunan yang hanya menguntungkan yang berduit, sementara kita dibuntungkan karena hanya mampu belanja di pasar butung.

Meski tanpa rumah, marilah kita kembali perbaiki dapur kita semua, sumur kita semua dan kasur kita semua. Hanya itu yang tersisa buat kita semua, para kaum ibu, para perempuan, dan adek-adek gadisku. Kerja kita, memang harus fokus di dapur, sumur, dan kasur itu.

Di dapur, kita tak hanya menuntaskan persoalan masak-memasak. Tapi di dapur kita mesti belajar, seberapa besar perjuangan kaum lelaki membuat asap semakin mengepul. Jika asap tak mengepul, maka kita berhak berjuang bersama mengepulkan asap-asap dapur, bukan terpaku pada nasib dan tinggal merenungi nasib di dapur. Di dapur, kita memastikan gizi generasi kita agar tak menjadi korban-korban penggusuran selanjutnya, mereka harus ditopang makanan bergizi agar perkembangan nalarnya, akalnya, otaknya, menjadikan mereka kreatf dan inovatif menjaga asap dapur.

Kita harus tetap berada di sumur, bukan untuk sekedar menimba air, memandikan anak, mencuci piring dan pakaian. Kita harus tetap berada di sumur untuk memastikan pakaian-pakaian terbaik kita, bukankah pakaian terbaik adalah cerminan karakter kita. Di sumur kita belajar kejernihan dapat membersihkan apapun yang kotar. Di sumur kita belajar, yang terdalam biasa diangkat ke permukaan. Si Sumur kita belajar, bahwa semua yang buruk harus kita hanyutkan. Kaum ibu, belajar di sumur adalah pelajaran kearifan.

Kita harus tetap lihai di kasur, bukan berarti kita budak. Di kasur kita harus bercerita, di kasur kita harus bernarasi, soal masa depan, soal generasi. Diskusi terbaik membangun itu semua, senantiasa dalam keadaan yang rileks tanpa tekanan. Gagaslah kehidupan kalian dimulai dari kasur, ketika saudara-saudaraku semua terbangun di pagi hari, segerakan gagasan itu. Gulunglah kasur kita, rapikan kasur kita semua. Keluarlah ke selasar, bangunlah asa.    

Wahai para kaum ibu, kaum perempuan, anak gadisku. Jangan latah apa kata mereka tentang kalian. Jangan kalian mau diajarkan pemahaman-pemahaman sesat mereka, lalu kamian dengan mudah meninggalkkan apa yang nenek moyang kita pesankan. Kembali-kembalilah!!!

Tak kan mundur walau selangkah, meski tubuh rebah dihantam peluru. Hidup mahasiswa, hidup warga, hidup ibu!!!

Semua takjub atas orasi Ana itu, dan bergiliran memeluknya. Kami hanya termangu-mangu, ada rasa haru yang menyeruak tiba-tiba. Mungkinkah gerakan kami telah mengambil hati warga dan siap bersatu padu mengikuti gestur gerakan.

Ana, engkau memang lihai mengambil hati banyak orang. Hati Imnyung, juga hatiku.  

Sebelumnya I Selanjutnya