Penyair yang Memenggal Kepala Istrinya

“Sayang… kamu tahu cerita tentang penyair yang memenggal kepala istrinya?” sang istri hanya mengguman tidak jelas seraya memeluk suaminya dengan erat.

“Aku mencintaimu” Ucap sang istri

“Aku juga mencintaimu sayang” Si lelaki membalas

“Kamu bohong kan? Kepalaku berkata kalau kamu berbohong sayang”

“Iya sayang, saya berbohong. Kepalamu selalu mengatakan kebenaran. Percaya saja padanya, saya juga percaya isi kepalamu kok” Keesokan harinya ditemukan kepala tergantung di alun-alun kampung.


Seperti malam-malam sebelumnya setiap mereka akan tidur sang suami akan terus bercerita. Kadang-kadang tentang hantu si tukang becak atau sepotong janji iblis yang akan meminang kekasihnya. Sesekali ia akan bercerita tentang Austin yang tak menikah-menikah atau beberapa orang pesakitan mengusaikan sakitnya dengan memilih bertemu Tuhan seperti cerita Veronica memutuskan mati misalnya. Malam itu penanggalan menunjukkan 23 Mei 2019, setelah bercerita sang suami terlihat gelisah sementara istrinya sudah terlelap. Tidak ada percintaan, sekalipun ranjang tetap berderit sebab sang suami terus membolak balik tubuhnya tidak tenang. Di luar hujan, sang suami beringsut turun dari ranjang. Ia kemudian berjalan ke ruang tengah. Mondar-mandir seperti memikirkan sesuatu, ia seperti orang kebingungan. Kadang-kadang ia berjalan, kadang-kadang duduk dengan pandangan kosong. Hal tersebut dilakukan berulang kali hingga dini hari. Ia pun kembali masuk kamar. Menatap istrinya dengan penuh cinta. Diusapnya rambut sang istri kemudian diciumi seluruh wajah, mata, hidung dan terakhir bibibrnya. Lalu dibopongnya tubuh sang istri keluar rumah, ia berjalan pelan. Sepasang matanya berjaga-jaga seperti maling yang takut ketahuan. Halaman rumah dilewatinya dengan langkah tergesa-gesa menyusuri belukar dan semak yang mulai meninggi di belekang rumah kecil mereka. Lalu menghilang bersama gema azan subuh.


Pagi, pukul 06.00 sang suami kembali ke rumah. Seperti biasa dimasaknya air di cerek lalu diseduhnya dua cangkir air panas, teh untuk istrinya dan kopi untuk dirinya sendiri.

“Sayang, tehnya sudah…..” suaranya terpotong ketika melihat ranjang mereka yang agak berbeda, di sana berbaring istrinya dengan kaku tanpa kepala, tehnya diletakkan di tengah ranjang kemudian ia duduk di meja, mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu.

Mei 2015.

Kami menikah, maksudnya aku dan Maemunah menikah. Setahun pernikahan kami biasa-biasa saja. Kami berbahagia layaknya pasangan suami istri yang lain. Maemunah perempuan pintar dan cerdas, salah satu alasan kenapa saya menyukainya. Ia memberi banyak kebahagian di tahun-tahun pernikahan kami.

Mei 2018

Maemunah mulai agak aneh. Ia lebih banyak diam ketika aku bertanya. Bahkan ritual pagi yang biasa kami lakukan, mencium kening dan mengucap salam ketika saya ingin berangkat kerja sengaja ia menutup telinganya. Pulang kerja kutemukan Maemunah meringkuk di pojok ruang baca, tertidur dan memeluk buku.

Mei 2019

“Mas kamu tidak mencintaiku bukan?”

“Siapa yang mengatakan demikian?”

“Kepalaku” jawabnya polos.

Maemunah pun berlalu dengan kesal tanpa memberikan kesempatan padaku untuk menjelaskan apa-apa. Keesokan harinya ia akan kembali ceria seperti biasa, memasang dasi dan mengancingkan kemeja, menyiapkan sarapan dan mencium tangan setiap pagi. Aku baru akan melangkah membuka pintu ketika tangannya tiba-tiba menggamit lenganku, menahanku.

“Mas kamu selingkuh kan? cerocolnya, bibirnya yang dulu manis ketika dicecap tiba-tiba menjadi tak menarik lagi, saat kumpulan kalimat-kalimat mengalir deras di bibirnya. Bukan hal yang baru ketika ia tiba-tiba mengatakan hal-hal yang aneh. Aku pun tersenyum. Senyum yang kemudian menjadi petaka untuk rumah tangga kami. Dalam kepalanya bagaimana bisa aku masih tetap tersenyum ketika ia merasa tersakiti. Yahh… tak ada yang lebih menyakiti selain isi kepala sendiri.

“Tuh kan kamu benar selingkuh” Ucapnya mulai terisak kecil, semakin lama semakin keras. Ia menolak sepasang lengang yang kutawarkan untuk memeluknya. Ia mengamuk dan mencakar apapun yang bisa digapainya di tubuhku. Sudut bibirku berdarah, ia berhasil menancapkan salah satu kukunya ketika aku berusaha menenangkannya. Pecahan beling piring berhamburan di lantai. Aku tak menemukan sisi kelembutan lagi pada Maemunah, yang kelihatan adalah sisinya yang lain. Emosinya memuncak. Setelah kelelahan ia jatuh duduk tersungkur di lantai yang penuh pecahan beling, hening beberapa saat. Ia tak menangis lagi.

“Hahahahaha….,” ia tiba-tiba tertawa

“Mas, kamu pikir bisa membohongiku? Ini buktinya. Disodorkan dan diancungkannya surat kabar yang sedari tadi diremas-remasnya dengan emosi. Surat kabarnya tak berbentuk lagi, aku tahu surat kabar itu memuat tulisanku.

“ Mae….”

“Ahh bacot kamu Mas, kalian bertemu di imajinasi bukan?? kalian bercumbu di belakangku, kamu bajingan. Iblisssss….. Katakan di mana perempuan-perempuan itu, aku akan membunuhnya” Ancamnya.

“Aku mencintaimu Mae, tapi aku tak akan berhenti menulis. Jika itu yang kau minta maka lebih dulu aku akan berhenti mencintaimu”.