Ranum Di Ujung Oktober

Saat itu bulan tampak malu
Kita berdua berteduh di bawah
Sinarnya yang samar-samar
Sedikit meragu lidah mulai membeku

Kita terdiam dalam perbincangan
Yang tak kunjung berpacu
Tatapan demi tatapan bersautan
mencairkan kebekuan
ungkapan menggalir dari bibir
Yang nampak terbata-terbata seperti mawar
yang mekar dengan sangat hati-hati,

kitapun melangkah di lembaran yang baru,
Kulukis senyum dengan mata yang berbinar,
setiap kalimat mulai menari

Dengan atau tanpa ketukan, setiap rasa
mulai bertaruh pada waktu, pikirku indah
walau tak cukup dengan kata,
mata kita telah membincangkannya lebih banyak dari kata-kata

Ucapku tak lebih dari janji yang biasa engkau dengar,
seperti pertanyaan
sudahkah engkau makan siang hari ini atau
semanis ucapan selamat pagi dari yang terkasih,
namun lebih sejuk dari embun
yang jarang kamu sentuh saat pagi menjaga tidurmu.

Ranum di ujung Oktober
Tetaplah harum meski berkubang duka,
Tak usah risau tentang sudut matamu yang selalu basah
atau tentang foto kita berdua di galeri hp kesayanganmu
yang tidak pernah bertambah

Percayalah bahagia tak selalu tertawa
aku tahu kita akan selalu bahagia,
Sekalipun dengan air mata

Takdir tak pernah jauh dari kita
Biarlah harapan membingkai cerita manis
yang sempat kita ciptakan.
Kamu dan aku takkan berjarak.