Gerakan Mahasiswa dan Tantangannya

“Gerakan kita jangan berhenti sampai di sini! Kembali perkuat kaderisasi, Massifkan Wacana dan Kokohkan Epistemologi Gerakan!!!”
                                  @DINASTYSME

     Suatu perkembangan yang amat positif, dimulai sekitar tanggal 24 September dan mogah terus berlanjut sampai sekarang. Perkembangan positif yang dimaksudkan tersebut ialah menggeliatnya ‘api’ aktivisme di setiap kampus, di sepenjuru negeri.

     Hal ini awalnya dipicu oleh serangkaian produksi dan reproduksi kebijakan oleh pemerintah yang diindikasikan sangat timpang dan amat merugikan rakyat (tidak pro rakyat). Oleh karena itu serangkaian demonstrasi mulai berlangsung di beberapa titik di tanah air yang kebanyakan dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Gejolak ini tentu merupakan reaksi atas sikap pemerintah, terutama dalam hal ini para Pemangku Jabatan Legislatif (DPR) yang dinilai tidak pro terhadap rakyat.

     Walau belum memberikan hasil (goals) capaian yang sesuai dengan harapan, namun kiranya gejolak aktivisme kampus mulai kembali bangkit. Ibarat singa yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya, Reproduksi Undang-Undang (Termasuk Revisi) yang tidak pro terhadap rakyat seperti pada RUU KPK, RUU PERTANAHAN, RUU KETENAGAKERJAAN, RUU KUHP dan lain-lain menjadi pemantik kesadaran di kalangan mahasiswa, akan keberadaan entitas yang disebut sebagai “Negara”, yang justru pada akhir-akhir ini makin menunjukkan wajah kebobrokannya.

“Mungkinkah Negara Masih dapat dikatakan sebagai Manifestasi dari Kekuasaan Rakyat? Atau sebaliknya, Negara justru menjadi Manifestasi Kekuasaan Oligarki-Kapitalis, dengan Selogan Kerakyatan yang dijualnya!!!”

     Tumpah ruahnya mahasiswa di seluruh penjuru ruas jalan, menjadi momok menakutkan bagi kaum oligark kekuasaan yang bersemayam di Gedung Perwakilan Rakyat! Sampai-sampai pada kasus di kota Makassar, terutama aksi-demontrasi yang dilakukan oleh sebagian besar mahasiswa UNM. Long March dilakukan mulai dari depan gedung Phinisi sampai Fly Over dan terus menuju kantor DPRD SULSEL. Kiranya telah menggetarkan setiap jiwa yang turut menyaksikan parade salah satu kekuasaan rakyat sejati tersebut. Baik itu para pengendara di jalan, masyarakat atau publik,  termasuk telah membuat bulu kuduk para kaum oligark kekuasaan seketika berdiri. Aksi seperti ini tidak hanya terjadi di kota Makassar,  namun juga di seluruh penjuru tanah air.

“Gelombang Tsunami akan datang, dan akan meluluh lantahkan angkuh tembok yang selama ini diklaim sebagai Rumah Rakyat! Namun ternyata hanya diisi oleh Para Pendusta”

     Walau pada akhirnya aksi massa dari mahasiswa yang meneriakkan keadilan (Justice) dan ‘suara jeritan rakyat’, harus dipukul mundur oleh represifitas aparat yang pada saat itu menampilkan wajah bringasnya, bak Iblis dari Neraka! Namun tidak sekali-kali semangat juang dan api aktivisme yang telah berkobar padam seketika.

“Justru Jawaban yang ada ialah Lawan, lawan, lawan dan teruslah Me-Lawan”

LIRIKAN DARI PIHAK OPOSISI & PETAHANA
     Dengan massifnya gerakan mahasiswa, nampaknya juga telah menjadi aroma yang sedap bagi mereka yang haus akan kekuasaan. Belakangan ini muncul kecenderungan untuk menggiring kalangan mahasiswa aliran aktivisme kampus ke arah Fundamentalisme Ke-Agamaan. Hal ini tentu dapat dilihat dari upaya pelemparan wacana dan opini oleh beberapa kelompok tertentu (Kelompok X).

     Serangkaian wacana-wacana yang berupaya dipropagandakan oleh mereka, nampaknya tak lebih dari sekadar jargon lama pra-pilpres. Namun indahnya sebab dibalut dengan retorika yang manis “Mari Bela Ulama”, “Ulama kita sedang di zalimi” atau “Mahasiswa dan Ulama bersatu melawan Rezim anti Islam”.

     Yang menjadi pertanyaan kami para mahasiswa, Ulama siapa yang dimaksudkan? Bukankah Ulama di negeri ini ada begitu banyak?

     Dan tanpa bermaksud menganggap rendah peranan Ulama, namun apakah wacana bela Ulama jauh lebih penting dibanding bela rakyat? Rakyat yang selama ini mengalami penindasan dan eksploitasi paling nyata dan paling sadis yang dilakukan oleh pihak negara!!! Bukankah hal ini menjadi indikasi yang nyata bagi kami kalangan mahasiswa, kalau wacana ini hanya sekadar politisasi Ulama,  dengan daya tarik narasi dan retorika ke-agamaannya?

     Apakah Kontradiksi ‘Cebong vs Kampret’ yang sudah usang, semenjak pasca pilpres sampai kini belum juga berakhir? Justru kini malah bertransformasi dalam bentuk barunya, yakni ‘Kadal Gurun vs Garuda’. Yang masing-masing di antaranya mempropagandakan ‘Bela Agama dan NKRI harga mati’.

Ya tentu kami para mahasiswa sudah muak dengan narasi-narasi parlente tersebut! Dengan dilaksanakannya berbagai Aksi Bela Ulama, yang tak lain mungkin diniatkan untuk menarik Simpati dari kalangan mahasiswa. Membuat kita sebagai aktivis kampus, mesti waspada atas indikasi politik ini. Kita tentunya tak ingin terjebak pada narasi politis-keagamaan yang membelenggu kesadaran dan hati nurani. Belum cukupkah Reuni 212 yang dilakukan secara berjilid-jilid, menjadi contoh yang paling nyata bagi kita semua, yang di mana ummat beragama (Saudara Sesama Muslim) menjadi korban-korban politik dari segelintir elite yang haus akan kekuasaan dan menjual agama.

     Di samping lemparan wacana dari oposisi elite, yang masih memakai narasi keagamaan. Ancaman selanjutnya muncul dari kubuh petahana dengan beberapa Underbownya (Underbow X). Wacana untuk membentuk sikap ‘Fundamentalisme Negara’, sebut saja wacana ‘NKRI harga mati’, yang kini sedang mengalami Transformasi dalam bentuk barunya yakni “Waspada Ancaman Radikalisme Agama” dan “Waspada Kelompok Taliban di KPK”. Sama halnya mengulang kenangan pra-pilpres kemarin.

     Sedemikian nyatanya niat buruk ini dimainkan oleh mereka guna membentuk Framing Publik dan rasa takut berlebih dari ancaman dari luar (musuh bersama). Sehingga dari niat ini, muncul suatu pilihan untuk memihak pada negara guna memerangi kelompok yang dicap sebagai garis keras, sedang masalah rakyat kecil, kejahatan oleh sistem kapitalisme terabaikan!

     Kami ingin bertanya kepada Bapak dan Ibu sekalian, para pemangku jabatan pemerintahan. Apakah bapak dan Ibu menganggap kami sedemikian bodoh dan tololnya, sehingga harus termakan dengan wacana yang Bapak dan Ibu sekalian propagabdakan?

     Propaganda wacana ini hanya akan membelenggu mahasiswa pada keadaan Status Quo, pada kekuasaan yang ada. Sedang spirit perjuangan kita yang sebenarnya ialah ‘Lawan, lawan dan Terus Melawan. Hancurkan para Oligarki Kekuasaan,  Tumbangkan Rezim yang tidak Pro Rakyat,  Suarakan Kebenaran dan Raihlah Kemenanan!

HIDUP MAHASISWA!!!

ALTERNATIF WACANA BARU
     Sebagai upaya untuk meng-counter dua narasi besar yang sedang dimainkan oleh petahana (Negara) dan oposisi, yang kedua-duanya sama-sama berwatak elitisme, Maka diperlukan alternatif wacana baru. Wacana yang kiranya dapat menjadi landasan fundamen bagi gerakan kampus. Wacana yang dapat memberi arah orientasi kita sebagai mahasiswa. Wacana yang dapat memberi/memperjelas posisi kita sedang berada di mana. Wacana yang dapat menghimpun segenap elemen, kekuatan dan tenaga yang ada. Guna bersatu dan berjuang dalam membela hak rakyat yang tertindas.

     Maka perlu dipertegas kembali, bahwa kami mahasiswa adalah pihak oposisi, namun bukan oposisi elite namun sebaliknya kita adalah oposisi murni, yang berangkat dari penderitaan rakyat.  Bukan oposisi elite yang memainkan narasi-narasi keagamaan. Kami mahasiswa juga cinta akan tanah air, namun juga bukan cinta secara buta, yang hanya akan melahirkan sikap fanatisme buta terhadap negara. Namun cinta yang berlandaskan atas rasa keadilan.

     Selanjutnya basis kaderisasi di kampus jangan berhenti sampai di sini! Kaderisasi yang dilakukan mesti menghasilkan kualitas epistemologi  yang kuat. Mampu memberi seperangkat alat/ pisau analisis yang mampu untuk membedah realitas yang timpang dan eksploitatif, sekaligus mampu mendorong semangat dalam mengubah realitas yang timpang tersebut, menjadi realitas baru yang lebih adil dan Harmonis.

     Maka dari itu semua, gerakan mahasiswa jangan berhenti sampai. Ia akan selalu menjadi hantu-hantu yang bergentayangan dan meneror kekuasaan yang ada,  tentunya bersama buruh tani, rakyat miskin kota, aktivis lingkungan, para santri, budayawan, cendikiawan, dan semua elemen masyarakat yang termarginalkan oleh sistem kapitalisme negara. Mari bersatu, kita berjuang bersama!

HIDUP MAHASISWA!!!!
HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!!