UNESCO. Jangan Horor Dong!!!

Wabah inverior dalam angka 0,001%

Seringkali saya mengamati dari berbagai ruang-ruang ilmiah literasi. Baik bentuknya suatu diskusi, seminar, workshop, simposium dan lain sebagainya. Juga rata-rata dimantik oleh narasumber berkapasitas dengan berbagai track record yang dialaminya. Mulai dari seorang penulis buku, pemateri kondang yang khusus membahas literasi, aktivis literasi dari berbagai aliran, bahkan tak jarang dari salah satu tokoh penggerak kelompok literasi. Nampaknya narasumber hampir tidak pernah alpa, menggambarkan kondisi literasi Indonesia. Dengan bantuan hasil data penelitian United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terkait kualitas dan minat literasi Indonesia, yang terkenal dengan 0,001% nya. Saya pun mencurigai angka persentase tersebut jangan-jangan hanyalah semacam “kutukan” mental, yang membuat para loyalis literasi Indonesia terserang wabah inferior hanya saja tak terlihat dipermukaan. Semisal ada person yang menjadikannya sugesti untuk tidak bertindak inovatif lagi dalam mengembangkan kemampuan menulisnya. Karena menganggap sebagus apapun tulisan dan gagasannya. Serasa sia-sia jadinya, sebab tak akan merubah angka persentase tersebut menjadi bertambah.

Adapun arti dari angka 0,001% tersebut adalah dari 1000 orang Indonesia yang ada, di antaranya hanya satu orang yang memiliki minat baca. Entah bagaimana asal usul data ini muncul dan bagaimana metode penelitian yang dilakukan oleh UNESCO. Sehingga muncul suatu kesimpulan gegabah dan lebay, menominasikan Indonesia sebagai negara yang begitu amburadul minat literasinya. Tanpa mempertimbangkan makna literasi secara holistik. Kita kembali merefleksi person narasumber literasi di manapun berada, yang senantiasa menginterpretasikan angka tersebut dengan penekanan fatalistik dan hanya menyelesaikannya dipenghujung diskusi dengan sebuah motivasi yang reflektif, pula normatif (sekalipun itu salah satu unsur metode yang perlu, untuk dimassifkan. Agar orang-orang yang awalnya tak mempunyai ghirah untuk menulis menjadi ingin untuk menulis). Tanpa didukung narasi antitesis untuk mengubah paradigma persentase UNESCO, terhadap kondisi literasi Indonesia dengan sebuah sudut pandang yang lebih percaya diri dan tentu dengan sebuah pendekatan yang ilmiah. Rasanya sangat berat untuk kita reinterpretasi makna angka 0,001% secara praksis, menjadi 1,000% untuk kualitas literasi Indonesia. Karena terlebih dahulu termakan kutukan data UNESCO yang membunuh semangat literasi masyarakat Indonesia.

Kekeliruan data Literasi UNESCO

Sebelum kita jauh mengubah paradigma kita terhadap persentase UNESCO, terhadap intensistas literasi Indonesia. Terutama kita harus mengetahui kedudukan dan wujud literasi itu, yang sebenarnya sangat luas dan filosofis. Bahkan kalau kita ingin mengulas pandangan UNESCO sendiri dalam mendefinisikan literasi, terlihat ketidak-konsistenan dalam hasil penelitiannya menyematkan angka 0,001% untuk merefleksi kondisi literasi Indonesia. menurut UNESCO literasi adalah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis, yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dari siapa serta cara memperolehnya. Pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman. Selanjutnya kita tarik dalam konteks kognitif Indonesia dalam hal membaca dan menulis.

Dalam dunia modern ini, Seiring perkembangan teknologi dalam aspek media komunikasi dan informasi. Siapa yang tidak mengenal smartphone android? Tentu saja suatu barang komunikasi yang hanya berdiameter kecil ini, kepemilikannya pun beragam, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga kalangan orang tua sudah sebagian besar memakainya. Tak terelakkan bahkan bisa dipastikan manusia yang sudah memegang barang (Smartphone) tersebut, akan berpeluang untuk terus melakukan aktivitas membaca dan menulis, terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dari siapa serta cara memperolehnya. Mulai membaca instruksi fitur yang terdapat di dalamnya. Hingga menuliskan keingintahuan yang langsung Bisa diselesaikan. Cukup menginput kalimat dalam kolom browsing. Maka anda hanya cukup bersiap memanjakan mata dan imajinasi dengan segudang informasi. Baik yang sifatnya visual ataupun teks.

Hadirnya smartphone tersebut, maka lalu lintas informasi dan percakapan seolah tak mengenal batas ruang dan waktu. Dalam hal literasi. Bahkan seluruh penulis (terlepas penulis novel, artikel, cerpen, dan seluruh penulis yang memiliki genre tertentu) dari berbagai belahan nusantara, menjadikannya sebagai ladang pahala yang cukup representatif untuk melakukan pencerahan dan pencerdasan. Dengan gaya tulisan yang beragam dan mengundang kesan bagi siapa saja yang membacanya. Ditambah dengan massifnya aplikasi startup literasi, yang kian hari, kian menjamur perkembangannya. Demi menciptakan keprakstisan dalam memperoleh pengetahuan dan informasi serta memperluas cakrawala. Indonesia menurut data terbaru Merupakan populasi terbesar pengguna aktif smartphone. yang mencapai 250 juta jiwa. Dengan jumlah sebesar itu Indonesia menjadi negara keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika. Jika kita kaitkan dengan tingkat penggunaan smartphone yang juga, memiliki daya literasi terhadap masyarakat Indonesia. Dengan tingkat populasi pengguna smartphone masyarakat Indonesia. Apakah kita masih perlu meyakini data UNESCO bahwa Indonesia tergolong tingkat literasinya masih berada pada angka 0,001%?. Terlepas akhir-akhir ini media informasi yang disajikan di dunia maya. Sarat dengan hoax dan berpeluang memicu misunderstanding. Hingga tak jarang berujung kepada perwujudan sebuah tindakan tertentu. Tapi Saya masih konsisten menyoroti dan menggaris bawahi definisi literasi yang diungkapkan UNESCO sendiri, bahwasanya literasi adalah suatu aktivitas kognitif membaca dan menulis. Terlepas bagaimana cara kita memperolehnya serta dari mana memperolehnya. Tanpa sadar UNESCO sebenarnya mempersempit definisi literasi itu sendiri.

Refleksi literasi Indonesia yang coba saya uraikan di atas dengan singkat, salah satu aspek literasi Indonesia dalam dunia maya, itupun hanya sebagaian kecil saja. Belum lagi dalam dunia nyata, realitas literasi Indonesia saat ini memiliki perkembangan secara kultural. Yang ditandai dengan massifnya gerakan-gerakan literasi di tiap lini kehidupan masyarakat. Bentuk dan orientasinya pun beragam, ada yang lebih mengarah ke pengembangan pengetahuan dan perluasan cakrawala dan ada yang hanya sekadar memunculkan eksistensinya dengan membuka lapak buku di sudut-sudut ruang publik. Berharap mampu menarik perhatian masyarakat untuk sejenak menyimpan smartphonenya dan mencicipi buku, dengan berbagai varian rasa dan kesan tulisan yang disajikan oleh para pengarang terpopuler yang tidak semua dapat diakses di dunia maya. Bahkan ada gerakan literasi yang betul-betul bergerilya dan penuh totalitas untuk memberantas buta huruf. Menggunakan seluruh aset pribadi, meninggalkan sanak keluarga. Bahkan tak jarang spirit literasi di Indonesia, spiritnya sudah hampir sama dengan spirit “jihad” dalam superioritas beragama. Dalam konteks literasi Indonesia yang telah saya deskripsikan secara sederhana. Harusnya UNESCO salah memberikan angka 0,001% terhadap Indonesia.

Data yang dikeluarkan oleh UNESCO kita bisa percaya telah melalui serangkaian proses yang alamiah dan berwujud sebuah angka, namun untuk kita jadikan sebagai landasan dalam membenahi kondisi literasi Indonesia. Saya rasa hal tersebut keliru, karena pihak dari UNESCO sendiri, belum melihat secara utuh dan turun langsung melihat fakta lapangan kondisi literasi Indonesia sudah memiliki kecenderungan terhadap literasi. Dan hanya menggunakan sampel, setelah itu menggeneralkannya dan di situlah letak kegegabahannya.

Inti pada tulisan saya kali ini, hanya mencoba untuk meluruskan sedikit pandangan dari UNESCO. Bahwa kultur literasi, tidak selamanya terjebak pada aktivitas membaca buku bahkan menulispun seketika harus menciptakan buku. Namun lagi-lagi saya masih menyimpan pertanyaan dalam benak saya. Kok, bisa-bisanya UNESCO menyatakan Indonesia dewasa ini, sebagai negara yang populasinya hanya sedikit minat bacanya. Padahal dia sendiri mengungkapkan, bahwa literasi adalah aktivitas kognitif membaca dan menulis. Apakah UNESCO belum melihat bagaimana tingkat kritisisme pemuda Indonesia dalam merawat nalar kebangsaannya yang tentunya dirawat dengan budaya membaca, terkait literatur yang relevan. Bagaimana pemuda galau, mengungkapkan keluh kesah perasaannya dalam bentuk status di suatu ruang media sosial. Hingga tak jarang menimbulkan rangkaian komentar yang panjang dan seolah-olah bijak. Sekalipun oknum yang berkomentar, belum jelas asal usulnya, yang penting sudah membaca status dan menuliskannya dalam wujud sebuah komentar. Bahkan di Indonesia saat ini masyarakatnya gencar berperang dan saling merusak integritas dengan cara saling menyinggung lewat tulisan. Jadi, berlandaskan daripada refleksi tersebut, mungkin angka yang ditunjukkan oleh UNESCO dipastikan salah alamat.