Sampaikan Salamku, Bulan Putih

Selamat pagi bulan putih, kutahu pasti ibu juga melihatmu.

Mentari tampaknya masih ragu untuk bertamu, ataukah hanya kelabu awan yang akan datang?

Punna nakke iya nak, ammoterekko” sayatan dalam tak tahu harus kujahit dengan apa. Sakit, ketika belajar adalah tanggung jawab dan cita-cita masih bersama mentari. Panggil saja saya Titi, selalu sangsi dengan hidup.

Rupanya benar hanya mendung yang bertamu. Duduk sengkil, berusaha menata hati yang mulai gugup. Apakah ini yang ibu rasakan? Menanti senyuman namun yang menghampiri adalah rintik. Kecil memang namun mampu melukai hati, dingin merasuk dan membeku. Untuk ibuku tersayang, jangan menagis.

Waktu membawaku ke tempat ini
Ada tanggung jawab menanti sukses
Ada amanah menanti kata iya
Dan ada hati terus bersuara “aku rindu”

Jangan menagis, karena janjiku membawa senyum
Meski bukan saat ini, tahun depan mungkin
Jangan menangis, di sini aku aman
Meski di situ aku nyaman
Jangan menangis, aku pulang
Meski bukan saat ini, tahun depan mungkin
Aku titip salam untuk ibu, wahai bulan putihku