Sibah Utkaw

Semua orang mengantri. Aku sendiri tidak tahu berada di posisi berapa. Sesak antrian itu, membuatku tidak bisa bernafas. Ada yang mengantri berhari-hari lamanya, berbulan-bulan, bahkan ada yang bertahun-tahun. Di depanku, seorang nenek yang sudah renta juga ikut dalam antrian itu. Keriputnya menggantung di setiap sudut tubuhnya. Kakinya begitu kecil tapi rela berdiri dalam antrian yang begitu panjang. Melihatnya, seakan aku melihat raga tanpa jiwa. Tidak ada desahan nafas yang memburu. Tatapannya pun kosong. Di depan nenek renta itu itu juga ada seorang anak kecil. Kira-kira berumur enam puluh tahun. Wajahnya begitu meragukan. Ternyata ia tidak mempunyai tangan sebelah kanan. Aku pikir, mungkin tangannya tertinggal saat berada di perut ibunya waktu lahir. Mengapa ia tidak menarik tangannya waktu keluar dari perut ibunya?

Wajah-wajah dalam antrian itu berbasuh peluh dan airmata. Matahari semakin bergembira mendapat cahaya tambahan dari Tuhan. Ternyata awan dan angin pun juga ikut antrian. Mereka tidak mau ketinggalan. Saat aku merogoh saku celanaku hendak mengambil sapu tangan, tidak sengaja aku menjatuhkan sapu tangan itu. Aku kaget setengah mati saat mengetahui ternyata tak ada tanah di bawah kakiku. Kosong. Lalu, aku menginjak apa. Saat menunduk mengambil sapu tangan itu, aku melihat ribuan semut berjejer mengantri juga. Mataku menelususri hingga ke belakang antrian, ternyata ada ratusan jenis hewan yang ada. Bukan hanya manusia yang mengantri, ternyata hewan juga, benda mati, tanaman. Aku pikir semua makhluk hidup di dunia ini mengantri. Bahkan sekarang aku tidak tahu apakah aku berada di dunia atau bukan. Karena tanah pun ikut mengantri juga.

Sudah setahun aku berada di dalam antrian, menunggu giliran. Nenek yang ada di depanku pun semakin renta saja. Dagingnya semakin menyusut menampakkan tulang-tulangnya. Sedangkan anak kecil yang berumur enam puluh tahun yang ada di depan nenek itu masih kuat berdiri. Kadang ia memindahkan tangan kirinya ke sebelah kanan. Seolah-olah ia mempunyai tangan kanan. Semut-semut dan gerombolan hewan yang lainnya masih tetap sama seminggu yang lalu. Semua makhluk begitu sabar mengantri. Kecuali aku yang selalu gelisah jika melihat antrian yang begitu panjang seperti gerbong kereta api yang tidak ada putusnya.

Tibalah giliran anak umur enam puluh tahun itu. Ia pun maju dengan wajah yang tergesa. Ia berdiri di depan sebuah meja yang dijaga oleh seorang malaikat.

“Mau beli berapa?” kata malaikat itu kepada si anak.

“Enam puluh tahun”. Jawab si anak

“Untuk apa?”

“Aku ingin mempunyai tangan di sebelah kanan. Aku capek selalu mengganti-ganti tanganku, sebelah kiri lalu sebelah kanan.”

“Apa kau punya cukup uang untuk itu?”

Si anak pun merogoh sakunya. Mengeluarkan beberapa lembar uang. Menyerahkannya kepada malaikat itu. Lalu, malaikat itupun menghitungnya. Terlihat wajahnya yang begitu teliti menghitung uang itu. Senyum di bibirnya hadir di wajahnya yang begitu bias bagiku. Ia pun menyerahkan kupon kepada si anak dan menyuruhnya ke malaikat berikutnya untuk menukar kupon itu. Aku lalu berpikir, apa benar ia malaikat. Ia mempunyai postur tubuh seperti diriku. Mempunyai mata, telinga, hidung, bibir, tangan, kaki, serta bisa juga berbicara seperti manusia. Aku pun memperhatikannya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu mataku tertuju pada selangkangannya, apa ia juga mempunyai alat kelamin seperti diriku. Apa ia laki-laki atau perempuan, ataukah ia tidak mempunyai sama sekali.

Tibalah giliran si nenek yang ada di depanku. Perasaan gelisah perlahan menepis dari pikiranku. Setelah nenek ini, tibalah giliranku. Penantian selama setahun lamanya demi sebuah harapan rela aku lakukan. Berdiri dalam antrian yang seperti gerbong kereta api yang tidak ada ujungnya.

Nenek itu pun berjalan tertatih. Menuju ke depan malaikat itu. Si nenek pun mengeluarkan uang dari balik kutangnya. Lalu menyerahkan kepada si malaikat.

“Berapa banyak yang ingin kau beli?” Tanya si malaikat.

“Aku ingin kembali seperti muda dulu. Masih banyak yang mesti aku selesaikan. Selain itu, aku ingin bertemu ibuku yang telah meninggalkan aku saat berusia 150 tahun.”

“Baiklah. Ini kuponmu. Pergilah ke malaikat berikutnya. Ia akan memberikan apa yang kau inginkan dengan memperlihatkan kupon ini.

Nenek renta itu menerima kupon. Lalu, berjalan lagi ke arah malaikat yang dimaksud. Aku melihat wajahnya riang sekali saat menyerahkan kupon itu. Pasti ia sangat bahagia karena harapannya terkabul. Seperti anak berumur enam puluh tahun itu sebelumnya. Bahagia dengan tangan sebelah kanannya.

Tibalah giliranku. Aku langkahkan kaki ini ke depan malaikat itu. Ia pun memberiku senyuman yang begitu getir bagiku. Membuat bulu kudukku merinding. Padahal dari parasnya tidak begitu menyeramkan.

“Mau beli berapa?”

“Aku ingin membeli saat aku berumur 170 tahun. Aku hanya ingin tahu mengapa orangtuaku bunuh diri. Selain itu aku ingin membeli saat aku berumur 210 tahun. Aku hanya ingin bertemu dengan seorang perempuan di masa lalu. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku begitu mencintainya. Ingin menjadi pendampingnya selamanya. Satu lagi, aku ingin membeli umur 220 tahun. Aku bertemu dengan seorang perempuan waktu itu, namun aku tidak mau bertemu dengannya. Karena ia membuat hatiku terluka hingga sekarang. Dan aku tak sanggup memikulnya.

“Baiklah. Berikan aku uang dan kau akan mendapatkan kuponmu. Mendapatkan segala yang kau inginkan. “

Aku pun menyerahkan uang yang aku punya. Lalu, malaikat itu memberiku kupon yang aku tukarkan dengan waktu yang aku minta dari malaikat yang lain. Sama seperti anak berumur enam puluh tahun dan nenek renta itu. Aku tidak bisa melukiskan betapa bahagianya mendapatkan waktu itu kembali. Sebuah masa lalu.

Aku berjalan meninggalkan antrian itu menuju ke rumahku. Aku terperanjat mendapati diriku berumur 170 tahun. Aku begitu gembira mendapati diriku seperti ini. Aku pun ingat, aku berjalan menuju ke rumah temanku untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Tepat pukul sembilan malam. Kedua orangtuaku bunuh diri tepat pukul 11 malam. Aku meninggalkan pesta ulang tahun itu pukul 11.30. Jadi, saat berada di pesta itu, kedua orangtuaku bunuh diri. Mengingat itu semua, aku mengurungkan niatku ke pesta itu. Aku berjalan kembali ke rumah. Kembali bersama kedua orangtuaku.

Pukul sepuluh tidak terjadi apa-apa. Namun, setelah beberapa saat, aku mendengar suara pertengkaran di kamar mereka. Aku berjalan menuju ke arah suara itu. Dari balik pintu kamar aku mendengar suara-suara pertengkaran itu. Aku kaget saat mendengar bahwa ternyata mereka begitu terbebani kehadiranku. Untuk itulah mereka bunuh diri.

Tiba-tiba saja aku berada dalam waktu diriku berumur 210 tahun. Saat itu aku berada di sebuah taman saat senja sepenggal kisah. Begitu ranum jingganya di langit. Aku melihat seorang perempuan duduk di sebuah kursi taman itu. Aku ingat, dialah perempuan yang aku cintai. Waktu itu aku tidak mengatakan padanya karena tidak ada keberanian mengatakan perasaan ini. Tapi, kini aku punya waktu untuk itu. Tanpa membuang waktu lagi, aku berjalan ke arahnya. Ia tersenyum melihat kedatanganku. Lalu, aku duduk di sampingnya.

“Kenapa kau begitu lama?” kata perempuan itu padaku

“Maafkan aku telah membuatmu menunggu”.

“Apa gerangan yang ingin kau katakan padaku?”

“Aku mencintaimu!”

“Mencintaiku?”

“Iya, aku mencintaimu. Apa itu salah?”

“Tidak! Sama sekali tidak. Yang salah jika kau tidak mau mengakui perasaanmu”.

“Lalu? Apa jawabmu?”

“Aku juga mencintaimu”.

“Benarkah?”

“lya! Tapi, aku hanya bisa mencintaimu, bukan untuk memilikimu!”

“Maksudmu?”

“Maaf, aku harus pergi. Hanya itu yang bisa aku katakan padamu”.

Perempuan itupun pergi. Hatiku galau dibuatnya. Tetapi, setidaknya aku sudah tahu bahwa ia juga mencintaiku. Akhirnya aku tahu juga isi hatinya. Bukankah hanya itu yang aku inginkan?

Tubuhku pun berubah lagi menjadi usia 220 tahun. Saat itu secara tidak sengaja aku bertemu dengan seorang perempuan. Sejak mengenalnya, hingga perpisahan kami, membuat hatiku terluka. Ia seorang perempuan yang mencintai kehidupan. Sedangkan aku adalah bagian dari kehidupan itu. Ia telah menyatu dengan jiwa dan raga kehidupan sedangkan aku hanya hidup dalam tubuh kehidupan. Ia meninggalkan banyak kenangan dan airmata denganku, menikmati jiwa malam bersama goresan-goresan hati. Sungguh sangat menyenangkan bisa berhujan kata dengannya. Tetapi, ia pergi begitu saja. Perpisahan kami terjadi di bawah purnama yang tak lahir sempurna. Dicaci oleh gerimis. Perempuan itupun pergi tanpa menoleh lagi kepadaku karena katanya ia begitu mencintai kehidupan. Sejak kepergiannya itu, aku menahan rindu yang menyiksa, memendam airmata, dan entah mau menyimpan kenangannya di mana. Ruang-ruang kosong mulai menempati hati.

Untuk itulah aku tidak mau bertemu dengannya. Kini, aku berada di ruang waktu saat aku berumur 220 tahun. Yang aku lakukan hanyalah menghindarinya di halte ini. Terlihat ia berjalan ke arah halte ini. Akupun meninggalkan halte itu secepatnya. Menyetop taksi lalu pergi, tanpa menoleh.

Sungguh menyenangkan rasanya bisa menyelesaikan masa lalu. Hanya membeli kupon, apapun yang aku mau pasti bisa. Kini, aku mendapati diriku kembali normal, berumur 2010 tahun. Aku telah mengetahui bahwa perempuan yang aku cintai ternyata mencintaiku juga, dan juga perempuan yang satunya lagi telah aku hindari. Bukan hanya itu, kini aku tahu mengapa kedua orangtuaku bunuh diri. Karena aku dianggapnya hanya beban.

Fajar belum lahir sempurna. Aku menyantap embun yang bergelantungan di dedaunan. Bau basah tanah yang menyengat, teringat hujan semalam. Sungguh begitu menyenangkan menikmati hidup ini. Aku pun berpikir, mengapa aku tidak membeli saja kupon untuk menikmati masa-masa mudaku dulu. Bukankah itu lebih menyenangkan.

Aku pun bergegas menuju lapangan antrian yang pernah aku lakukan dulu. Mengantri untuk membeli kupon. Saat tiba pun, antrian tidak seperti dahulu lagi. Hanya ada beberapa orang saja walau aku berada di antrian paling akhir. Tetapi itu tak masalah bagiku. Namun, saat tiba giliranku, seorang perempuan tua tiba-tiba saja menerobos ke dalam antrian, tepat di depanku. Ia bermandi peluh dan airmata. Ia menggendong anaknya yang penuh lumuran darah. Ia memohon-mohon padaku, meminta maaf karena mengambil antrianku. Guratan keriput di wajahnya begitu menyayatku. Mata anaknya terpejam begitu dalam, namun senyum di bibirnya begitu hidup. Perempuan itu meminta agar ia bisa dikembalikan pada waktu satu menit yang lalu. Agar ia bisa menyelamatkan anaknya dari kecelakaan semenit yang lalu.

Perempuan itu telah pergi, dan tibalah giliranku.

“Aku ingin membeli waktu saat aku berusia….”

“Maaf, persediaan waktu dari Tuhan sudah habis!” Jawab malaikat itu memotong perkataanku.

Kamar Imajinasi, 31 Desember 2009