Menulis: Abadi atau Berarti?

Salah satu kecenderungan suci yang tuhan hadirkan dalam diri manusia yang dalam bahasa agama disebut fitrah adalah senantiasa ingin berkreasi atau berkarya. Karena manusia adalah makhluk yang heterogen maka aktualisasi kecenderungannya dalam berkreasi ataupun berkarya niscaya akan kita jumpai aneka paras hasil kreasi dan karya manusia. Mulai dari perancangan silabus pendidikan, mencipta musik, menulis buku dan lain-lain.

Biasanya dalam mencipta karya dan kreasi manusia sering menjadikan sesuatu ataupun seseorang sebagai inspirasinya. Salah satunya dalam hal menulis buku banyak para penulis di era sekarang begitu mengidolakan dan menjadikan inspirasi salah satu novelis ternama yaitu Pramoedya Ananta Toer.

Salah satu adagium yang cukup masyhur dari Pram yang menjadi bahan hipnotis bagi kebanyakan penulis hari ini yang kurang lebih redaksinya bermakna “menulis adalah kerja keabadian”. Maka dengan menulis kau akan abadi di dalamnya.

Banyak yang coba menafsirkan adagium tersebut dengan orientasi eksitensi. Orientasi eksistensi yang saya maksud adalah dengan menulis kita menunjukkan bahwa kita pernah ada, pernah hidup lalu menjadi abadi dengan tulisan itu.

Seyogyanya jika orientasi dari menulis lebih kepada menunjukkan eksistensi diri, ihwal itu masih bisa didiskusikan, karena pada kenyataannya di zaman yang semakin ‘edan’ ini, menjadi eksis dapat dilakukan bukan hanya sekadar menulis, melakukan beberapa hal konyol pun dan disebarkan pada jagat sosmed, sudah mampu menunjukkan eksistensi diri.

Perkataan Pram tersebut idealnya dipahami bukan sebagai orientasi tapi lebih kepada konsekuensi. Maksudnya kegiatan menulis harus lebih berorientasi pada upaya menjadi manusia berarti bukan keinginan pada eksistensi.

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bisa berarti bagi yang lainnya maka jadilah berarti dengan daya dan kemampuan kita masing-masing salah satunya dengan menulis. Dengan menulis kita dapat mengupayakan untuk merawat budaya literasi dan mewariskannya kepada generasi mendatang agar era di mana kita hidup sekarang bisa berarti bagi generasi mendatang. Maka menjadi abadi lewat tulisan hanyalah konsekuensi.

Teruslah berkarya agar menjadi berarti. Berkaryalah sebagai bentuk pengejawantahan diri sebagai makhluk sosial. Makhluk yang dituntut secara moral mampu bermanfaat bagi sekelilingnya.

Menjadi abadi dalam memori perjalanan sejarah adalah konsekuensi. Semakin besar usaha kita menjadi manusia berarti maka potensi dari konsekuensi keabadian dalam memori perjalanan sejarah akan semakin besar pula.

Hidup sekali, hidup berarti, lalu mati.