Gincu di Selangkangan Bapak

Remahan roti berbunyi. Aku mengunyah sepi. Semakin berbunyi, semakin sepi. Seolah piring tumpah ruah. Lirikan matamu menusuk raga Bapak. Mulutnya begitu lihai mengunyah roti, jemari tangannya menari. Aku membayangkan pisau di meja menikam lehernya, membuatnya berhenti mengunyah, meminum darahnya hingga habis.

Remahan roti membuatku sepi. Menelan pagiku, mengelamkan malamku. Aku melamun. Membayangkan Bapak mempunyai tiga mata. Kedua mata untuk mengunyah. Mata ketiga untuk melihatku mengunyah sepi. Aku memperhatikan, malam semakin menelan waktu, jemari Bapak mulai kaku. Ia akan beranjak dari kursi kayunya, tanganku segera menjatuhkan gelas. Suaranya memenuhi ruangan. Pecahan kaca berhamburan. Berserakan. Aku beranjak, mengumpulkan satu per satu serpihan kaca itu. Seketika mataku melihat gincu di selangkangan Bapak, lagi dan lagi. Warna merona merah. Seperti mawar merah yang baru saja mekar. Tanpa sadar, tanganku tak lagi mengumpulkan pecahan gelas. Justru mencoba meraih gincu itu. Ketika tanganku berada di selangkangan Bapak, sebuah bola mata melotot ke arah ku. Memerah. Penuh amarah. Seakan berkata, “diam”, walaupun rasa takutku tak bisa diam.