Pendosa dan Tuhannya

“Setiap anak cucu Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik mereka ialah yang mau bertaubat”
(H.R At Tirmidzi
)

Begitulah untaian hadis yang mashur di kalangan agamawan (Muslim), tentunya tak ada manusia di muka bumi ini yang tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun itu, karena pada subtansinya tabiat manusia selalu melenceng dari yang seharusnya. Dan mereka yang menyadari akan kesalahan dan bertaubat tentunya yang akan beruntung.

Kehadiran agama sebagai mediatif untuk kaum muslim khususnya, sebagai makhluk pelintas batas tentunya agama hadir harus tertatih dan lantang di tengah arus perkembangan zaman. Bagi kaum agamawan, agama merupakan sumber kehidupan, tetapi berbeda dengan mereka kaum pinggiran. Yang harus pontang panting berfikir untuk mengisi ‘kampung tengahnya’.

Perintah dalam kitab suci telah mengajarkan manusia untuk berprilaku dan berakhlak baik, termasuk cara berpakaian. Menutup aurat tentunya. Bagi kaum perempuan aurat sangat dianjurkan agar tak dinampakkan, begitupun bagi kaum pria dengan perbedaan jumlah anggota tubuh yang harus tertutupi.

Ini menjadi perhatian yang serius bagi agama, sehingga tidak sedikit dari mereka yang berhijab namun masih nampak seperti telanjang, sementara sebagian yang tak berhijab tetapi sopan nan ramah. Polemik antara akhlak dulu atau hijab dulu sering kita dengarkan di kalangan remaja, diskusi-diskusi warteh, bilik kampus dan di tempat lainnya. Pelabelan bahwa yang berhijab itu suci dan yang non hijab buruk menurut saya sangat keliru (fallacy) karena intensitas keimanan tidak dilihat dari bagaimana cara antum berpakaian.

Persolan personal berbuat dosa, berzina, merampok, membunuh, memerkosa bahkan mendurhakai orang tua sekalipun tentunya tidak tepat jika harus distereotype-kan dengan gaya atau cara seseorang berpakaian. Pakaian merupakan simbol, hijab merupakan simbol, peci, sarung, dan jubah. Jika pelacur pendosa, nah apakah Ustadz malaikat?

Teori Dramaturgi yang dicetuskan Erving Goffman menurut saya sangat menarik, ia menawarkan konsep front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang). Dalam teori ini Goffman menganggap bahwa dalam kehidupan manusia ada peran yang harus dimainkan sesuai kebutuhan audiens ketika berinteraksi, termasuk penampilan dengan gaya personal memainkan peran di depan sesuai kebutuhan khalayak. Misalnya seorang pelacur yang ketika ke masjid memakai hijab, nah inilah yang di katakan Goffman, interaksionisme simbolik. Kemudian ada back stage atau panggung belakang yang menyembunyikan fakta yang sesungguhnya, apa yang nampak di depan tidak mesti merupakan yang terjadi di belakang.

Gambaran yang bisa di tarik dari pemikiran Goffman adalah bahwa selalu ada tindakan-tindakan imitasi yang diperankan manusia dalam interaksinya dalam kehidupan.

Terkait dengan stigma terhadap sesama manusia lain seharusnya tak perlu dikhawatirkan, sejatinya manusia tak ada yang sempurna, klaim bahwa “saya malaikat, kamu pendosa” sudah sangat mengambil alih hak Tuhan. Pendosa punya cara bertuhan, begitupun bagi kaum agamawan. Perlu kiranya pengikisan sikap prejudice terhadap personal.

Karena realitas hari ini, orang yang mengaku faham agamapun banyak berbuat dosa, dan mereka yang di kontruksi masyarakat sebagai pendosa (pelacur) mereka juga punya sisi religius yang itu merupakan back stage mereka di kehidupan nyata.

Tuhan dalam diri pendosa, pezina, pelacur tentu bukanlah Tuhan yang mengalami institusionalisasi sebagaimana layaknya yang sering diungkap kaum agamawan. Tak ada monopoli dalam bertuhan karena sejatinya Tuhan hadir di setiap urat nadi manusia, bukan milik perorangan.