Tragedi Oktramuliana (5)

Si Tomboy

Pada kegiatan organisasi perhimpunan mahasiswa yang konsen membahas persoalan politik, sosial, budaya, dan sastra. Aku bertemu untuk pertama kali dengannya. Seorang perempuan yang energik, nampak tomboy, namun tetap menitipkan aura feminim pada sepasang mata yang memandanginya. Rambutnya, alisnya, bulu matanya, bola matanya, hitam. Lalu, kulitnya, giginya, putih. Sedangkan, bibirnya, pipinya, dan gusinya, kemerah-merahan.

Umurnya, dua puluh tahun. Beda dua tahun lebih muda dariku, kesukaannya ikan teri. Tetapi itu bukan tanpa alasan. Meski ikan kecil, berbadan bulat, kepala pendek, moncong runcing, punya sirip di pantat dan warna tubuh selalu pucat itu, selalu menjadi santapan ikan yang lebih besar. Baginya, ikan-ikan itu adalah kawanan yang tidak pernah patah arang, tidak pernah menyerah dan terus mencari akal untuk bertahan hidup.

Dia selalu bercerita tentang ikan teri yang bermimpi untuk hidup bebas. Ingin menikmati lautan, berbahagia bersama kawannya, ingin menikmati liburan di samudra. Namun, katanya, ikan-ikan itu tidak pernah sampai ke sana. Jangankan ke samudra, memasuki wilayah laut pun sulit. Bila ikan-ikan itu berhasil memasuki wilayah lautan, nelayan akan menangkap semuanya dengan jaring, pukat cincin, bagan tancap dan perangkap lainnya. Toh, Jika ikan-ikan itu berhasil menghindar dari nelayan. Tubuh-tubuh kecilnya belum bisa bernafas lega, dalam sekejap mereka akan habis menjadi santapan ikan-ikan yang besar.

Nah, Jika satu atau dua bahkan lebih diantara ikan-ikan itu berhasil kabur, sudah pasti tidak akan melanjutkan perjalanan ke laut. Dipilihnya, kembali ke muara, bukan untuk merenungi kekalahan. Melainkan menyusun kembali kekuatan, beranak pinak dan membentuk kembali keluarga yang besar. Suatu saat, ikan-ikan itu akan kembali mencoba menuju laut, mewujudkan impiannya.

Dia beranggapan bahwa ikan itu tidak pernah melihat ke belakang, melainkan terus menatap jauh ke depan. Merencanakan strategi dan masa depannya, meski telah percaya bahwa kesedihan bahkan kematian sangat merindukan pertemuan. Olehnya, jalan satu-satunya adalah menemuinya. Menemuinya, bukan berarti menyerahkan hidupnya terhadap kematian itu. Dia ingin menjadi ikan teri. Bahkan, merasa telah menjadi ikan teri.

Dialah Oktramuliana. Ana. Nama yang sering disebut-sebut Imnyung di depanku.

Suatu hari, Imnyung masuk ke kamar seperti kesurupan. Tangan kirinya memegang sapu, dan tangan kanan seakan-akan memetiknya. Tepatnya, menirukan gaya orang main gitar. Kepalanya digeleng-gelengkan seakana mengikuti irama, dan mata disipitkan, sambil berbisik ketelingaku, “mau makan apa kau hari ini. Aku yang traktir.”

Tumben dia ingin mentraktirku makan. “Coto sajalah,” jawabku sekenanya, tanpa bertanya lebih dahulu, angin apa yang membuatnya segirang itu?

Aku dan Imnyung segera bergegas menuju warung coto yang kami pilih. Mengenyangkan perut, setelahnya, baru kusempatkan untuk bertanya, “apa gerangan yang membuatnya begitu girang hari ini?”

“Tahu tidak, aku jadian dengannya,” katanya memulai.

“Dengan siapa? Aku baru mau tahu nih,” tanyaku lidik.

“Itu, yang itu, yang perempuan tomboy itu. Yang sering aku sebut di depanmu,” katanya

“Ana?” jawabku, dan menaruh curiga serta berharap jawabanku salah.

“Iya, tepat sekali. Dia menerima cintaku. Aku baru menemuinya dan mengungkapkan langsung kepadanya,” cerita sekehendak tanpa memperdulikan perasaanku yang sementara mulai terbakar api cemburu. Tetapi, aku mencoba untuk tetap menjadi pendengar yang setia.

“Tahu tidak, waktu aku katakan kepadanya. Dia menunduk malu, lama-lama dia menjawab pula,” ceritanya.

“Apa katanya?” tanyaku pura-pura. Meski telingaku tidak mau menerima jawabannya. “Dia bilang begini, kita jalani saja dulu kak,” jawabannya dibarengi dengan senyum. Api cemburuku makin panas.

“Terus-terus,” aku masih saja mencoba menjadi pendengar setia sekaligus menjadi penanya goblok. “Ya… aku dan dia akan menjalaninya,” katanya. Lalu bersandar di kursi dengan senyum kemenangan. Dan, aku harus tetap menghargai kemenangannya hari ini. Menjadi teman yang baik, pendengar setia meski perasaanku tidak menginginkanya.    

Memang aku menaruh perhatian dengan Ana, tetapi aku tidak mampu mengucapkan perhatian itu secara langsung kepadanya. Aku hanya menikmati secara diam-diam, seperti kematian. Datang secara diam-diam, menemui kekasih yang dirindukan untuk dipinang dalam keabadian.

Aku mengakui, saat bertemu perempuan tomboy itu, aku tak mampu lagi merangkai kata walau tertatih. Padahal yang aku takuti adalah kehilangan kata. Karena kata, aku dapat melawan. Karena kata, aku dapat bercerita tantang malamku dengan cerita bulan purnama yang kesimpulannya rinduku padanya. Tidak sanggup lagi, terus mengulang cerita asal muasal hujan, karena bulan yang ditampar hingga menangis. Tidak bisa berkata jujur maupun berbohong, karena itulah aku tidak bisa menggombalnya. Sebab, gombal adalah pengabungan antara jujur dan bohong.

Sebelumnya I Selanjutnya