Narasi Sesat; Sanggahan Atas Tulisan Pezina di Balik Hijab

Fenomena yang sangat tidak asing di telinga masyarakat dan bahkan bisa dijadikan camilan renyah, ketika suatu perkara yang diwajibkan dalam islam disandingkan dengan perkara kebathilan. Misal, ketika memandang dan menyandingkan seorang muslimah yang telah menutup aurat dengan sempurna disisi lain ada perkara bathil yang mungkin belum bisa ditinggalkannya salah satunya kemaksiatan.

Sontak hal ini kemudian dijadikan bahan gunjingan masyarakat dengan berasumsi “alah berjilbab kok begitu…!” , “Itu si Fulanah sudah berjilbab syar’i tapi kelakuannya na’udzubillah” dan bla.. bla… lainnya.

Asumsi-asumsi buruk yang dengan mengaitkan antara perkara wajib dengan kebathilan merupakan kesalahan besar. Sebab dari asumsi buruk tersebut bisa menggiring opini di tengah masyarakat bahwasanya berhijab identik dengan kemaksiatan.

Artinya muslimah yang sudah menutup aurat tidak menjamin keshalihannya. Sehingga tidak heran jika saat ini kita masih melihat betapa banyaknya muslimah di luar sana yang masih bertahan dengan menampakkan auratnya di muka umum.

Padahal Allah swt telah berfirman :

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka!” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al-Ahzâb/33:59]

Dalil di atas sudah sangat cukup jelas dan menegaskan bahwa tidak ada pengecualian bagi seorang muslimah ketika sudah baligh untuk tidak menutup anggota tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangannya. Jika sekiranya kewajiban itu telah tertunaikan tanpa dibarengi dengan akhlak yang baik, maka tidak sepantasnya untuk menjadikan hijabnya sebagai objek yang buruk.

Hadirnya Islam sebagai agama paripurna dengan segala aturannya telah mengangkat derajat serta kemuliaan wanita dari masa kejahiliyaan. Narasi Sesat dan serampangan disebarluaskan seolah ajaran islam dianggap sebagai ‘perusak’. Padahal antara menjalankan kewajiban dan akhlak merupakan dua perkara yang berbeda, dan hisabnya pun berbeda.

Karenanya ketika ingin membangun sebuah narasi seyogyanya didasarkan pada dalil syar’i bukan hanya sekedar berlandaskan hawa nafsu. Sehingga opini yang ingin disampaikan kepada masyarakat bukanlah narasi yang sesat.

Kendari, 3 November 2019