Catatan Kecil Menuju Tidur

Ini tentang malam yang menjerumuskanku dalam pekatnya setiap hari. Sepekat aroma kopi Toraja yang telah membuatku jatuh cinta.


Aroma dan Rasanya menyatu membiusku dari paduan akan pahit dan manisnya gula agar aku tak menjadi bosan untuk sekadar hanya menikmati kepahitan. Aku bukanlah pecinta kopi, sampai pada akhirnya satu peristiwa mengantarkanku untuk mencintainya di hidupku saat ini. Ini adalah satu cerita dari sekian banyak kejadian dalam hidupku dan aku yakin hampir semua orang mempunyai cerita dari kisah hidupnya.

Kamu tahu di setiap malam sebelum aku melelapkan diriku menuju mimpi selalu ada ingatan tentang masa lalu dan masa depan. Membayang menjadi keinginan-keinginan yang tak jarang membuat kecewa di masa depan dan penyesalan-penyesalan ketika mengingat masa lalu.

Zaman bisa saja berubah dan waktu pasti akan terus berjalan tapi masa lalu akan selalu jadi bayangan kehidupan, entah itu kebaikan atau keburukan jangan biarkan menjadi karang yang hanya akan hancur secara perlahan. Seperti halnya luka kadang lebih membekas daripada bahagia yang rasanya seperti hanya sedetik. Dan kamu tahu jika pikiran itu mulai muncul maka akan kuteguk segelas kopi hitam dan kudekapkan diriku dalam aromanya.

Belajar dari kopi tentang kehidupan, tentang rentetan kisah dan masalah. Tentang tawa dan air mata yang bisa saja terjadi dalam waktu hampir bersamaan.
Pahit memang tapi tak boleh larut dalam rasa pahitnya, jika bisa mengerti maka aroma pahitnya akan jadi pekat yang merindu karena ketenangannya. Tak ada rasa manis jika tak ada rasa pahit. Bagaimana kita akan tahu rasanya bahagia dengan tawa jika tak pernah jatuh dalam luka dari kesedihan dan air mata. Semua selalu dua arah, tak bisa menerka-nerka, hanya waktu yang bisa menjawab putarannya untuk melengkapi setiap kisah di hidupku atau hidupmu. Mari melarutkan mimpi.