Pezinah di Balik Hijab

Banyak yang mengaggap wanita berhijab adalah seorang malaikat yang bersih tanpa noda, pemahaman ini menganak-cucu di dalam kultur masyarakat. Bahkan dalam kalangan alim ulama pun demikian, hijab dijadikan sebagai sampel dari kata baik bahkan sholehah.

Di sisi lain, wanita yang tak berhijab dianggap sebagai wanita yang hina, hingga seringkali terjadi apabila seorang wanita yang tak berhijab ini ada di lingkungan yang didominasi oleh wanita berhijab maka ia akan merasa termarjinalkan. Padahal jika kita kembali menilik beberapa kasus wanita yang hamil di luar nikah tidak sedikit catatan kelam dimiliki oleh wanita yang berhijab bahkan bercadar. Bukan bermaksud untuk memojokkan wanita berhijab, namun tulisan ini bertujuan agar kita tidak saling fanatik dengan prinsip masing-masing hingga membatasi kegiatan bersosial.

Hijab adalah kewajiban bagi setiap wanita yang beragama Islam, jikalaupun ada yang belum menjalankan kewajibannya bukan berarti dia hina, hanya saja ia belum menjemput hidayah yang Tuhan telah berikan padanya. Ini hanya persoalan waktu dan kesiapan setiap orang dalam menjemput hidayah-Nya, agar suatu saat apabila ia telah berhijab maka tingkat keistikomahannya lebih besar dibanding mereka yang terburu-buru mengambil keputusan untuk berhijab.

Kurang lebihnya saya sepakat dengan mereka yang memilih menghijrahkan hati sebelum menghijrahkan dirinya. Mental mereka butuh dikuatkan terlebih dahulu mengingat ujian yang akan dihadapi setelah berhijrah tidaklah mudah.

Satu langkah yang diambil pada hari ini akan menentukan masa depan seseorang.
Berhijab tidak menjamin ia bukan seorang pezinah dan pezinah bisa jadi berhijab.