Islam dan Toleransi

Sheikh Mohd. Iqbal membuka bukunya yang berjudul “Misi Islam” (The Mission Of Islam) dengan memberi judul pada bagian pertama yaitu “Misi dan Manusia Islam” di bab pertama ini banyak membahas tentang kemajuan peradaban Islam di masa sebelum dan sesudah era Usmani dan era Abbasiyah yang diklaim oleh para sejarahwan sebagai peradaban termaju dari umat Islam yang mana di era itu munculnya hukum-hukum yang diperbarui oleh para khalifah yang merupakan warisan dari kerajaan atau imperium dahulu.

Namun dalam tulisan kali ini penulis tak ingin panjang lebar dengan era keemasan Islam itu. Sebab itu merupakan masa lalu yang dapat kita petik pelajaran darinya untuk membangun Islam yang lebih berkemajuan kedepannya.

Ada hal yang tentunya lebih menarik di bahas di buku yang di terjemahkan oleh bang Sumarno ini, yaitu pada bagian kedua yang berjudul ”Islam Dan Toleransi”.

Sebelum menyelam lebih dalam lagi tentu kita harus memahami makna dari kata toleransi tersebut. Jika merujuk dari KBBI, toleransi sendiri adalah “to.le.ran.si/sifat atau sikap toleran, contohnya dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh dan saling menghargai”.

Saya sangat setuju dengan pengartian dari KBBI tentang kandungan makna toleransi. Di dunia Islam sendiri toleransi mempunyai perhatian khusus dari Nabi Muhammad yang mana pernah dalam sebuah riwayat, Rasulullah sampai berdiri untuk menghormati seorang jenazah Yahudi yang kebetulan lewat di depan beliau.

Sungguh sebuah keteladanan yang sangat indah yang dicontohkan baginda Rasulullah, tak pandang agama, ras atau pun suku. Rasulullah hanya berkata, jika ia bukan saudara sekeyakinan mu maka ia adalah saudara semanusia mu.

Ajaran ini turun temurun sampai kepada era para sahabat dan para khalifah setelahnya. Bahkan mereka mendapat gelar tersendiri dari nabi yaitu Ahl-ul-Zimmah yang mana di dalamnya diisi oleh orang-orang kristiani.

Sebuah kisah datang dari tahun keenam hijriah yang merupakan tahun emansipasi para pengikut Jesus Kristus. Dalam tahun itu nabi menghadiahkan piagam bagi para Pendeta Biara St. Catherine. Dokumen ini berisi;

Rasulullah menjamin umar Kristen akan hak-hak istimewa dasar serta fasilitas-fasilitas lainnya. Bahkan nabi sendiri yang melakukan pengawasan agar orang-orang Kristen dilindungi dari ketidakadilan

Bahkan mengeluarkan instruksi kepada para gubernur Islam pada masa itu agar tidak menarik pajak secara tidak adil atau memaksa mereka melepaskan agama mereka sendiri.

Seperti itulah nabi kita Muhammad SAW dalam memperlakukan seorang yang berbeda keyakinan dengan beliau. Tak ada cacian, tak ada makian bahkan tak ada kata kafir yang pernah keluar dari lisan mulia baginda Rasulullah. Sudah sepatutnya dapat menjadi pelajaran bagi Islam yang sekarang merasa paling mengikuti beliau.

Habib Husein Al-jaffar menyampaikan bahwa “ibadah paling tinggi adalah dengan menaruh kebahagiaan di dalam hati seseorang.”