Cinta dari Timur yang Berdarah

Malam ini kukatakan di hadapan kegelapan
Juga ketakutan, perihal cerita yang sengaja dilupakan, perihal rindu yang tak sempat tersampaikan dari mereka yang telah tiada.

Kemarin setelah mataku terpejam
Aku mendengar tangis di ujung Indonesia

Kusaksikan ibu yang sedang menangis
Dengan puluhan panah tertancap di tubuhnya
Di tangannya yang tak lagi kuat sang anak
Menahan tangis sesekali mengusap air mata sang ibu.

Darah mengucur di ubun-ubun kepala
Merah dan putih berkibar sambil merayap, 
di antara 32 manusia yang kaku, terbakar, berdarah, lalu hilang tersapu oleh kentut-kentut pemburu kursi kekuasaan

Jauh jiwaku melayang mencari keadilan
Namun di jalan, kepalsuan menutup mata, telinga juga
Tenggorokanku yang sesak olehnya,

Nyanyian peluru dan panah di antara teriakan-teriakan merdeka yang membatu
Juga sorak sorai di segala penjuru kota
ikut menyaksikan dengan mata tertutup

Mereka tertawa di istana yang megah dan menyantap makanan hasil keringat sang ibu  dan puluhan orang tua di timur Indonesia, seorang anak sedang di ujung nafas tak siap mati, sebab ia juga ingin tumbuh dewasa namun kampak membunuh harapan yang tak sempat ia ucapkan kepada ibunya

Di ruang sepi, Soekarno menutup matanya dengan tangan, aku juga melihat ia tak mampu menahan air mata
Kutawarkan harapan untuk menghapus air matanya namun ia tak juga mengangkat kepalanya.

Lalu ia berkata,
Dulu sebelum bumi Pertiwi kutinggal
Ada senyum yang mekar di timur Indonesia,
Dulu sebelum bumi pertiwi kutinggal di sana terhampar kebahagiaan yang nyata,
kini sepeninggalku ada cinta yang berdarah, ada hati yang robek tersayat janji, 

senyum  terlalu perih menutup luka  
sebab keegoisan dan kekuasaan melahap segalanya, kehidupan, cinta kasih dan segala rasa yang menjadikan kita adalah manusia

Selamat jalan ada masa kita akan bertemu, sehabis malam atau sehabis cerita ini selesai

Makassar, 27 Oktober 2019