Aware Terhadap Isu Kesehatan Mental

Isu kesehatan mental di Indonesia merupakan salah satu isu yang belum mendapat perhatian yang cukup besar. Kesehatan mental masih kalah dengan persoalan kesehatan fisik. Hal tersebut diamini oleh Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI yang mengungkap bahwa persoalan kesehatan jiwa masih dianggap kalah serius ketimbang kesehatan fisik.

Jika merujuk pada Riset Kesehatan Dasar oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI tahun 2018, prevalensi rumah tangga dengan anggota yang menderita skozofrenia/psikosis sebesar 7 dari 1000 dengan cakupan pengobatan sebanyak 84,9 persen. Pada remaja yang berumur 15 tahun bawah, prevalensinya sebesar 9,8 atau meningkat sebesar 6 persen pada tahun 2013.

Selain kasus skizofrenia/psikosis, kasus bunuh diri juga mendapat perhatian dalam isu kesehatan mental. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 mengungkap sebanyak 812 kasus bunuh diri di Indonesia. Sedangkan merujuk data yang diliris beritagar.id, sebanyak 302 kasus bunuh diri dalam rentang waktu Januari hingga September 2019.

Kecemasan juga merupakan salah satu gangguan mental yang banyak ditemukan. Berdasarkan rilis dari Depression and Other Common Mental Disosder: Global Health Estimates yang dimuat WHO mencatat pada 2017 prevalensi kecemasan di Indonesia 3,3 persen dari polulasi total atau sebesar 8.114.774.

Begitu banyaknya persoalan kesehatan mental tidak sebanding dengan pengetahuan akan kesehatan mental itu sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Novianty pada 2017 menunjukkan tingkat pengetahuan mengenai kesehatan mental di masyarakat masih rendah. Hal tersebut ditandai dengan rendahnya pengenalan gangguan mental, keyakinan akan penyebab yang masih menekankan pada tekanan hidup maupun faktor sosial, hingga tipe rujukan pertolongan pada pertolongan informal.

Mengapa Kita Harus Peduli?
Pada satu satu wawancara mengenai kesehatan mental di Indonesia, Rayi, musisi RAN mengatakan “apa salahnya mencari perhatian? Karena setiap orang butuh perhatian dan kasih sayang.”

Mungkin pernyataan itu terlihat sepele, namun patut kita cermati kalimat tersebut dengan kondisi yang dialami seseorang. Salah satu contoh nyata yakni terjadi pada kasus bunuh diri.

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan kematian Sulli, salah satu selebriti Korea Selatan yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Hal ini dipicu karena depresi yang berkepanjangan yang dialaminya. Salah satu hal yang membuatnya depresi yakni komentar negatif terus didapatkan dalam setiap tindakannya. Bahkan ketika mengaku memiliki masalah kesehatan mental, tetap saja ia dianggap hanya mencari perhatian publik.

Rendahnya kesadaran mengenai kesehatan mental membawa dampak negatif bagi masyarakat. WHO memperkirakan masalah gangguan mental meliputi kurang lebih 13 persen sumber penderitaan di dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri penderita gangguan jiwa mencapai 15 persen dari total penduduk.

Selain rendahnya kesadaran kita, fasilitas pelayanan kesehatan mental juga tidak memberikan kabar yang menggembirakan. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa, berdasarkan pemaparan Dr Eka Viora SpKJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI mengungkap bahwa Indonesia baru memiliki sekitar 451 psikolog klinis (0,15 per 100.000 penduduk), 773 psikiater (0,32 per 100.000 penduduk), dan perawat jiwa 6.500 orang (2 per 100.000 penduduk).

WHO sendiri telah menetapkan standar jumlah tenaga psikolog dan psikiater dengan perbandingan 1:30.000 penduduk. Artinya dibutuhkan sebanyak 3 psikolog dan psikiater per 100.000 penduduk. Sehingga Indonesia memerlukan sekitar 7.500 psikolog dan psikiater. Sedangkan Indonesia baru memenuhi sekitar 16,3% dari 7.500 psikolog dan psikiater yang dibutuhkan.

WHO menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan mental yang lebih mudah diakses oleh masyarakat berdampak pada pengurangan kecenderungan pengucilan sosial, serta meminimalkan resiko terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Maraknya aksi pemasungan, bullying, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan mental yang harus diminimalisir bahkan dihilangkan.

Dapat dilihat data Riset Kesehatan Dasar Kemenkes RI pada tahun 2013 mengungkap terdapat 56.000 orang dengan gangguan jiwa yang dipasung karena stigma negatif dan buruknya fasilitas penanganan. Kurangnya pengetahuan akan kesehatan mental itu sendiri membuat kita seringkali terjebak dalam menyikapi persoalan kesehatan mental.

Peran Kita
Seyogyanya isu kesehatan mental harus mampu dilihat sebagai isu sentral. Untuk itu diperlukan peran setiap pihak untuk lebih aware dalam bertindak, bukan hanya peduli dalam pikiran.

Langkah kecil yang dapat kita lakukan yakni menyebarkan informasi mengenai pentingnya kesehatan mental. Ketika kita merasa bahwa orang di sekitar mengalami gangguan mental dan butuh perhatian, kita dapat mengajak komunikasi dengannya. Hal tersebut dapat dilihat dari obvervasi kita baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Sebuah penelitian yang dilakukan Nisa dan Juneman pada tahun 2012 mengungkap bahwa ruang publik dapat dijadikan sebagai sarana menyehatkan mental. Terciptanya kerekatan sosial melalui komunikasi di ruang publik dapat mengurangi depresi seseorang. Dengan begitu, ruang publik sebagai sarana komunikasi dengan teman maupun media kampanye mengenai pentingnya isu kesehatan mental.

Jika kondisinya parah, maka kita menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di psikolog maupun psikiater untuk mengetahui diagnosis. Tujuannya agar dengan segera mendapatkan penangan yang tepat sesuai kondisi yang dialami. Psikolog dapat memberikan intervensi untuk mengubah sikap maupun gaya hidup yang membuat seseorang berada dalam kondisi mental yang sehat.

Kesehatan mental berpengaruh pada cara kita berpikir dan bertindak. Tujuannya adalah agar membantu kita dalam berinteraksi, mengelola stres hingga menentukan pilihan. Pentingnya kesehatan mental membuat kita dapat mengembangkan potensi dan menciptakan hal yan positif.

Jadi, sudah sejauh manakah kita aware terhadap kesehatan mental?