Tragedi Oktramuliana (4)

Rumah Peradaban

Meski kerap bersama, aku dan Imnyung selalu terang-terangan berbeda pendapat. Seperti pada rapat kali ini, mengenai pola pendampingan warga miskin kota yang tergusur dari keserakahan kaum pemodal. Rumah-rumah mereka diratakan dengan tanah, meski terus bertahan di atas tanah miliknya dengan tenda-tenda darurat. Entah sampai kapan.

Imnyung mengusulkan agar komponen ini menyiapkan langkah-langkah strategi dalam melakukan gugatan, sebab bagaimanapun tanah itu adalah milik rakyat. Tanah yang selama ini didiaminya secara turun temurun, dari kakek buyut mereka dan diwariskan melalui keturunan yang sah. Bertahun-tahun lamanya. Sementara yang datang mengaku memilikinya, sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan mereka.  

“Jika warga mendiami dan menguasai lahan tersebut sekian lama, maka dia berhak memilikinya. Apalagi selama ini, mereka tetap membayar pajak sejak kakek-kakeknya, berpuluh-puluh tahun yang lalu,” tegas Imnyung.

Beberapa diantaranya sepakat akan gagasan Imnyung, bahkan mereka siap membantu warga-warga tersebut untuk melengkapi dokumen kepemilikan. Tapi tidak bagiku. Sebab, jika hal tersebut baru saja akan dilakukan, semuanya telah terlambat.

Si perampas ini, telah mengantongi semua dokumen resmi kepemilikan yang entah bagaimana prosesnya. Mereka bukan hanya telah membeli tanah, juga telah membeli oknum. Semua yang diinginkannya dapat selesai secepat kilat, sementara hanya mengandalkan pekikan suara jalanan menyerupai kilat.

Bagiku, yang perlu dilakukan adalah mendampingi generasi mereka agar dapat menikmati adanya negara. Kita harus menjadi rumah bagi mereka. Jika orang tuanya miskin, kita harus menjadi rumah kesejahtraan bagi mereka. Jika orang tuanya tak cerdas, kita harus menjadi rumah pendidikan untuk mereka. Jika orang tuanya terlantar, kita harus menjadi rumah sosial bagi mereka. Jika mereka tak berdaya, kita harus digdaya untuknya.

“Kita semua tak bisa hanya dengan melawan di jalur konstitusi. Aku takut, perlawanan itu hanya memberikan harapan hampa untuk mereka. Tak bisa mengobati nyeri dengan memberikan obat bius secara terus menerus,” paparku.

“Bung, kita ini kaum terpelajar. Kata-kata peluru kita, perlawanan adalah senjata ampuh kita. Jika kita hanya ingin bangun pesimisme, bukan disini tempatnya. Ingat kalimat-kalimat yang sering kita semua ucapkan, berdiri melawan, tunduk menanduk, karena bagaimanapun diam adalah pengkhiatan,” Imnyung semakin garang.

 “Ini bukan optimisme dan pesimisme, ini soal peluang dan kegagalan. Aku hanya ingin, kita semua langsung berbuat sesuai kebutuhan mereka,” kataku mempertegas alur pikiran.

“Mereka saat ini butuh tempat tinggal yang layak. Itu poinnya” Imnyung menunjuk.

“Kita menjadi tempat tinggal buat mereka. Kita dampingi mereka membuat usaha, kita cari jalur diplomasi agar mereka bisa ditempatkan di rumah susun. Kita kuatkan mental anak-anak mereka melalui pendampingan pendidikan, jika perlu generasi mereka dibekali teknik advokasi. Ini lebih real daripada menggugat tanpa dokumen kepemilikan yang resmi, Imnyung!”   

“Sudah… sudah… semuanya adalah langkah yang baik,” Anton mencoba menengahi kami.

“Tapi gerakan itu, butuh waktu lama, bung!” sela Imnyung tiba-tiba, dengan nada sinis.

“Kerja-kerja kemanusiaan, kerja-kerja peradaban, memang butuh waktu lama dan tak instan. Jika tak sanggup, silahkan mundur!” ketusku. Imnyung telihat ingin berbicara lagi, namun digagalkan oleh Anton.

Tiba-tiba Santi nyelutuk dari belakang, dan menyatakan setuju dengan pendapatku. Maulana pun demikian, Ikbal ikut-ikutan bahkan merelakan rumahnya sebagai pusat pendidikan anak korban penggusuran. Soal Ikbal, kami selalu salut padanya. Dia anak yang lahir dan besar di kota Makassar ini, orang tuanya terhormat dan kaya raya dan punya tiga rumah yang dihuni oleh pembantu, namun Ikbal tidak bersikap hedon. Dialah yang kerap menyuplai pendanaan untuk kepentingan gerakan kami, menanggung kopi-kopi hingga pengadaan ban bekas. Hebatnya lagi, dia anak pesantren.

“Bukanlah seorang pemuda yang selalu mengatakan inilah bapakku, tetapi pemuda itu selalu mengatakan, inilah saya,” begitulah pepatah arab yang selalu dia ucapkan ketika ditanya alasan bergabung di elemen gerakan yang kami geluti.

Pernah suatu ketika, dia sementara berorasi sementara ayahnya ikut mendengarkan dari dalam mobilnya yang terjebak macet. Ayahnya memotret tingkah anaknya, lalu menguploadnya dalam media sosial dengan caption :

“Jika itu perjuangan untuk warga masyarakat Indonesia, Ayah selalu mendukungmu. Tapi jika ananda hanya ingin dikenang, foto ini sudah cukup mengenangmu untuk masa yang akan datang. Perubahan yang engkau perjuangkan jangan sampai mengubah dirimu terlebih dahulu”  

Butuh waktu berminggu-minggu untuk membahas postingan ayah Ikbal tersebut. Tentu bagi Ikbal, ulasan itu sebagai motivasi untuknya. Sejak itupula, Ikbal dan ayahnya selalu menjadi solusi bagi kami.

Dan, rapat kali ini. Lagi-lagi Ikbal menjadi bintang. Satu langkah kongkrit lebih berharga daripada seribu perdebatan.  Rumahmu akan menjadi rumah peradaban, kawan!

Sebelumnya I Selanjutnya