Sebuah Sajak “Rindu dalam Cangkir”

Nyonya kopi mengatakan bahwa ia merindu
Pada sang tuan kafein
Yang saat ini entah di mana

Barang kali ia sedang melanglang buana
Menyambangi setiap kedai kopi di kota Makassar
Bersua dengan banyak sosok

Entahlah
Apakah ia mengingatku saat ini?
Ataukah ia telah melupa?
Biar kuseduh saja rindu ini
Bersama pekatnya kopi
Mengaduknya bersama gula sebagai pemanis

Tanya kian menyeruak
Di belantara kota, aku mengamati
Setiap roda dua yang lalu lalang
Berharap ia ada di antara mereka

Datang dengan senyum merekah
Dan mendekapku kuat lalu berkata
Nyonya aku rindu padamu

Tuanku aku rindu
Rindu pada setiap tarikan senyuman di bibirmu itu
Aku rindu pada setiap candamu
Rindu pada lolucon yang kadang garing
Hahah… maaf maaf nga kok
Kamu lucu, buktinya aku sedang tertawa
Di saat puisi ini kubuat untukmu

Dari nyonya kopi untuk tuan kafein

Catatan malam
26 safar 1441 H

di tepian kota