Ondel-ondel Kehilangan Esensi

Fenomena pengamen ondel-ondel di jalanan ibu kota Jakarta dan kota sekitarnya sudah menjadi konsumsi sehar-hari pengguna jalan. Fenomena ini juga menimbulkan tanda tanya besar, kenapa ondel-ondel yang menjadi icon dari suku Betawi ini harus turun ke jalan? Dan fenomena ini juga menuai keprihatinan dari kalangan pemerhati budaya Betawi. Saya sendiri sebagai seorang yang berasal dari suku Betawi, orang yang lahir dan tinggal di kota Jakarta merasa prihatin ketika melihat icon yang menjadi kebanggaan masyarakat Betawi harus mengemis meminta di pinggir-pinggir jalanan.

            Sering sekali saya melihat ketika sore hari pulang dari kampus, pengamen ini berkeliaran di pinggir jalan dan tak hanya sekali, terkadang sering menemukannya berkali-kali di lain tempat. Bahkan, tak jarang pengamen ondel-ondel yang memakai pakaian apa adanya yang tidak memperlihatkan kebudayaan Betawi itu sendiri. Bukan hanya itu, pengamen ondel-ondel juga sering membuat pengguna jalan menjadi terganggu dan sering kali macet hanya karena iring-iringan mereka yang sering memakai banyak ruas jalan.

            Padahal ondel-ondel itu memiliki nilai filosofi tersendiri. Ondel-ondel dipresentasikan sebagai leluhur yang menjaga anak cucunya di suatu desa atau wilayah. Ondel-ondel juga dipercaya oleh masyarakat Betawi terdahulu sebagai penolak bala. Dengan dipresentasikannya ondel-ondel sebagai nenek moyang, maka ondel-ondel pun diyakini dapat mengusir roh jahat yang mengganggu ketentraman umat manusia. Oleh karena itu ondel-ondel sering dipajang di teras Blandongan dengan wajah yang sedikit menyeramkan. Namun seiring perkembangan zaman, ondel-ondel bukan lagi dijadikan sebagai penolak bala, melainkan sebagai sebuah kesenian Betawi yang sering dipertunjukkan di pementasan. Dengan nilai filosofi yang luar biasa tersebut, saya rasa ondel-ondel tidak boleh dipergunakan sembarangan karena akan merusak nilai-nilai yang ada di dalamnya.

            Keresahan saya mulai meningkat ketika saya mengikuti program KKN Nasional yang diadakan oleh Muhammadiyah di kota Bengkulu pada bulan Agustus 2019. Saat itu saya bertemu dengan banyak teman dari berbagai daerah. Ada sekitar 42 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti Program KKN tersebut. Dari Sabang sampai Merauke semua saya jumpai. Ketika berada di posko, saya banyak berbincang dan sharing mengenai ‘Bahasa dan Kebudayaan’ dengan teman-teman saya dari berbagai daerah tersebut. Ada yang membahas ‘uang panai’ dari suku Bugis, ada yang membahas adat pesta dari suku Batak, dan masih banyak lagi. Saya orang yang berasal dari Suku Betawi otomatis sharing mengenai kebudayaan yang ada di suku Betawi itu sendiri. Dan tak saya sangka ternyata teman-teman saya dari berbagai daerah menanyakan tentang ondel-ondel, mereka bertanya dengan rasa penasaran dan tertarik untuk mengetahui icon yang dimiliki suku Betawi tersebut. Saya maklum karena memang mereka tidak dapat menjumpai ondel-ondel kalau belum berkunjung ke kota Jakarta. Padahal saya sendiri dan mungkin sebagian masyarakat kota Jakarta yang sering melihat ondel-ondel di pinggir jalan sudah merasa biasa saja.

Sungguh istimewa sekali ondel-ondel menurut saya ketika kita dapat menghargai budaya dengan sebaik-baiknya. Apalagi dari cerita saya di atas, saya sangat mengetahui betul ketertarikan teman-teman dari luar Jakarta yang penasaran dengan icon suku Betawi tersebut. Justru keistimewaan itu akan hilang apabila yang terjadi malah sebaliknya. Saya percaya, dalam tiap kebudayaan di dunia tersimpan nilai-nilai kearifan dan kebaikan, selain itu tentu saja keindahan. Mengenal dan mempertahankan budaya itu penting, supaya manusia bisa mengenal dirinya dan lebih saling menghargai.

            Saat ini memang keberadaan ondel-ondel menuai banyak kontroversi. Ada yang berpendapat negatif karena tidak sesuai dengan pakem dari kebudayaan Betawi, dan ada juga yang berpendapat positif karena dapat membantu perekonomian masyarakat dan memperkenalkan ondel-ondel kepada masyarakat langsung. Apapun itu, saya berharap kedepannya ondel-ondel dan ataupun nilai-nilai kebudayaan yang berasal dari leluhur kita haruslah kita lestarikan dan kita jaga bersama, dan harus sesuai dengan porsinya masing-masing. Karena memang budaya tidak pernah berakhir, selalu ada yang baru. Selalu ada bentuk kesenian yang baru, gerak tari, lagu, dan tulisan. Budaya adalah kisah tanpa akhir.

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]